Mahasiswa Prodi IKS FISIP USU Berikan Pemahaman Eco Enzym dan Kompos Organik bagi Keluarga Penerima Manfaat PKH

HARIAN9 author photo

MEDAN| H9
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan 1 yang dilaksanakan di Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Deli, pada bidang Program Keluarga Harapan (PKH) di Jl. Platina II No.3, Titi Papan, Kec. Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara 20244. PKL 1 ini dilakukan oleh mahasiswa 
Praktikan DAVID TAMBA dan Supervisor Sekolah Mia Aulina Lubis, S.Sos. M.Kesos.

Kegiatan PKL 1 ini diagendakan berjalan selama tiga bulan, dengan minimal dua kali di dalam
satu minggu untuk turun lapangan untuk melaksanakan proses penelitian. PKL 1 dimulai pada 9 Maret 2021 dengan proses pelepasan praktikan PKL 1 dan PKL 2 oleh pihak Kampus
Universitas Sumatera Utara secara daring, dan PKL 1 yang saya lakukan ini berakhir pada 9 Juni 2021. Supervisor PKH di Kelurahan Titipapan ini dijabat oleh Esther Hutabarat.

Pada awal PKL, saya diajak oleh Supervisor PKH untuk turun ke lingkungan-lingkungan yang
ada di Kelurahan Titipapn tersebut untuk proses pengenalan lingkungan praktik dan pengenalan saya dengan anggota Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Dalam praktiknya kami juga melakukan pendataan terhadap Keluarga Penerima Manfaat dengan melakukan update data, apakah datanya masih sesuai dengan data sebelumnya dan juga crosscheck data yaitu dengan menegetahui masih hidup atau tidaknya anggota Keluarga Penerima Manfaat.

Selain itu kami juga ikut dalam Pertemuan Kelompok PKH yang dilakukan satu bulan sekali
sesuai dengan lingkungannya masing-masing dengan mealukan edukasi kepada masyarakat
tentang hidup sehat di tengah situasi pandemic Covid 19, berbagi informasi mengenai apa saja
yang bisa dihasilkan dari bantuan PKH itu sendiri agar produktif, dan juga kami melakukan
home visit ke rumah warga yang bertujuan untuk mengobeservasi masalah si klien dan juga
pengembangan potensi apa saja yang dimiliki pleh anggota Keluarga Penerima Manfaat, serta
memberi tahu cara pembuatan eco enzim beserta manfaat eco enzim, karena di daerah tersebut banyak masyarakat yang mempunyai lahan yang bisa dikembangkan untuk bercocok tanam.

Setelah beerapa minggu saya praktik, saya pun melakukan sosialisasi tentang kebersihan
lingkungan sehat melalui pemasangan poster di kantor Keluraahan Titipapan yang berjudul
“Bagaimana cara menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat” agar masyarakat secara umum dapat melihat poster itu dan bisa mengambil manfaatnya.

Dalam PKL ini saya bertemu dengan salah satu anggota Keluarga Penerima Manfaat (KPM)
yang mempunyai usaha bercocok tanam (pertanian) di lahan kosong yang dimilikinya.
Tanaman yang ditanamnya adalah biasanya yanaman kecil dan bisa langsung dimanfaatkan
(dijual), misalnya cabai, bunga, bibit jeruk nipis, kacang panjang. Dan saya pun berkoordinasi
dengan supervisor PKH langkah apa yang harus saya lakukan untuk membantu Keluarga
Penerima Manfaat (KPM) agar hasil pertaniaanya bisa meningkat.

Setelah berkoordinasi, kami pun sepakat agar saya melakukan pengembangan masyarakat secara individu (Casework) dengan mengedukasi salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) guna meningkatkan hasil pertaniannya sebagai MINI PROJECT saya untuk kepentingan dokumentasi.

Nama Klien : LY (disamarkan)
Usia : 46 Tahun
Domisili : Kelurahan Titipapan
Tahapan Sosial Casework yang adalah sebagai berikut, menurut Skidmore, Thackeray dan Farley (1994:59-63)

1. Tahap Penelitian (study phase)
Pada tahapan ini dilakukan penjalinan relasi antara pekerja social dengan si klien dan melaukan pencarian data dengan si klien. Dalam hal ini saya melakukan pencarian data dengan cara obeservasi langsung ke kediaman si klien, yang berada di lingkungan x.

2. Tahapan Assesment dan Perencanaan
Dalan proses pengkajian ini adalah mengumpulkan masalah apa saja yang dihadapi si klien dan mencoba untuk memahaminya. Disini saya melakukan wawancara dengan si klien dan
menawarkan rencana apa saja yang akan saya tempuh untuk memecahkan masalah si klien.

Adapun perencanaan yang saya buat adalah berdasarkan masalah yang diungkap si klien dan
persetujuan dari klien itu sendiri, yaitu
a. Pembuatan Eco Enzym dan memberi tahu manfaatnya
b. Pembuatan Kompos
3. Tahapan Intervensi

Intervensi pada dasarnya dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan si klien itu
sendiri. Disinilah si klien didorong untuk mengembangkan kemampuan dan mengatasi masalah sesuai dengan pertimbangan dan kemampuannya.

Disinilah kami melakukan proses pembuatan eco enzyme dan kompos organik . Dalam tahap ini, proses serta bahan yang dibutuhkan tidak serta merta saya sediakan, namun atas edukasi yang saya berikan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) lah yang menyediakannya, dan dalam
praktiknya kita bekerja sama melakukannya. Hal ini dilakukan untuk memotivasi
kemampuannya dan juga kemandiriannya.

Bahan bahan pembuatan eco enzyme
1. a. Gunakan gula apapun selain gula putih
2. b. Gunakan sisa-sisa dapur seperti kulit apel, jeruk, nanas, pir, semangka, lemon, tapi
jangan durian! jangan pakai dagingnya. Seeds bisa dimasukkan asalah jangan yang besar
seperti biji mangga.
3. 10 liter air

Caranya sangat mudah:
1. Tuang semua bahan ke dalam botol, bisa juga menggunakan blender untuk mencacah limbah, kemudian campur gula dan air dalam botol.
2. Simpan di tempat yang kering dan sejuk dengan suhu dalam rumah
3. Biarkan selama 3 bulan, dan buka setiap hari di 2 minggu pertama, kemudian 2-3 hari sekali, kemudian seminggu sekali. Di minggu pertama akan ada banyak gas yang dihasilkan.
4. Kadang ada lapisan putih di permukaan larutan. Jika cacing muncul tambahkan gula segenggam, aduk rata kemudian tutup
5. Setelah 3 bulan, saring eco enzyme menggunakan kain kasa atau saringan. Kemudian cairan yang sudah disaring, diletakkan di botol-botol dan bisa digunakan untuk bermacam-macam.

Manfaatnya, karena kandungannya, eco Enzyme memiliki banyak cara untuk membantu siklus alam seperti memudahkan pertumbuhan tanaman (sebagai fertilizer), mengobati tanah dan juga membersihkan air yang tercemar. Selain itu bisa juga ditambahkan ke produk pembersih rumah tangga seperti shampoo, pencuci piring, deterjen, dll.

Pembersih enzim ini 100% natural dan bebas dari bahan kimia, mudah terurai dan lembut di
tangan dan lingkungan. Cairan ini juga penolak serangga alami yang membuat semut, serangga dll menjauh. Saking alaminya, setelah digunakan untuk pel, cairan ini juga bisa dipakai untuk menyiram tanaman. Eco Enzyme juga dapat digunakan untuk merangsang hormon tanaman untuk meningkatkan kualitas buah dan sayuran dan untuk meningkatkan hasil panen. 

Jadi pada intinya adalah circular economy at its best.  Disini, klien harus menunggu sekitar tiga bulan agar eco enzyme dan kompos organic bisa dimanfaatkan untuk keperluan pertaniannya.

Bahan pembuatan kompos organic
Sampah organic ( Daun kering, sisa rumah tangga, kotoran ternak dan tanah), 1 kg gula merah
yang dicairkan (sampai menghasilkan air 5 liter), sekam padi karung, dan

Cara membuatnya
Campur semua bahan diatas dengan baik didalam wadah yang kedap udara, sampai seperti
adonan yang yang agak basah, lalu tutup dengan penutupnya.
Setelah satu minggu, aduk aduk kompos agar tercampur dengan baik serta mendapatkan hasil
yang maksimal.

4. Tahapan Terminasi
Tahapan ini adalah tahapan dimana pemutusan hubungan pelayanan social antara klien dan
pekerja social dihentikan. Karna waktu PKL yang cukup singkat, saya hentikan pelayanan social saya hanya sampai di terminasi saja, namun bukan berarti edukasi dan pemberian pemahaman yang saya berikan tidak maksimal. Semua materi sudah disampaikan dengan cukup jelas, hanya saja proses pembuatan eco enzym membutuhkan waktu lama untuk menunggunya. 

Sehingga saya beri tahu, kapan eco enzyme bisa dimanfaatkan, sesuai dengan tanggal pembuatannya, dimana membutuhkan waktu tiga bulan stelah tanggal pembuatannaya agar bisa digunakan. Beda halnya dengan kompos organic, hanya membutuhkan waktu 45 hari untuk bisa digunakan, sehingga relative singkat.

Penulis : David Martua Tamba
Program Studi : Ilmu Kesejahteraan Sosial
Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Komentar Anda

Berita Terkini