Nelayan dan Industri Rumahan di Kampung Pasir Putih Terkendala Modal

HARIAN9 author photo


 JAKARTA| H9
Kampung Pasir Putih, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilamaya Kulon, menjadi rumah bagi warga yang menggantungkan diri di industri rumahan kerupuk telur rajungan. Ada sekitar 200 kepala keluarga yang menjadi pengrajin kerupuk di kampung yang terletak di pesisir laut Karawang ini.

Namun, permasalahan modal jadi poin penting dari keberlangsungan usaha ini. Kebutuhan modal yang mendesak, membuat warga harus mengambil dana yang bersumber dari rentenir. Warga biasanya menyebutnya dengan bank emok.

"Besarnya bunga berkisar 30-50 persen yang dibebankan kepada mereka. Cicilan sangat memberatkan dan diakui para pelaku industri, modal dari rentenir tersebut sebenarnya tidak banyak membantu usahanya. Hanya saja, mereka ingin usahanya yang telah puluhan tahun tersebut setidaknya tetap berjalan," kata Danu Putra Anugrah dari Tim Wakaf Pangan Laut Produktif-Global Wakaf, Sabtu (12/6/2021).

Salah satu pengusaha kecil yang cukup merasakan dampak pinjaman rentenir ini ialah Satifa dan Asnuri. Mereka saat ini berharap ada bantuan modal yang tak memberatkan. “Sekarang warga berharap ada bantuan modal yang tak hanya menopang usahanya, tapi juga mampu meningkatkan spiritual,” jelas Danu.

Permasalahan yang sama dihadapi para nelayan rajungan di Kampung Pasir Putih. Biasanya mereka meminjam dana kepada pengepul dengan ikatan, di mana nelayan wajib menjual hasil tangkapanya ke pengepul walau harganya lebih murah dari pasaran. Per kilogram rajungan di pengepul dihargai Rp40 ribu atau lebih rendah, sedangkan jika nelayan menjual sendiri bisa mendapatkan uang Rp45 ribu dari per kilogram rajungan.

Di antara nelayan tersebut adalah Sunib, yang merupakan nelayan kecil dengan ukuran perahu berkisar 200x80 sentimeter. Untuk melaut, ia membutuhkan modal setidaknya Rp150 ribu sampai Rp200 ribu yang biasanya ia pinjam dari pengepul dengan ikatan.

"Setiap dua pekan, jaring rajungan Pak Sunib sudah harus diganti dan minimal dana yang dikeluarkan sebesar Rp400 hingga Rp500 ribu. Diakuinya, hasil yang diperoleh belum sepadan dengan usahanya. Tetapi bagaimanapun, pola pinjaman yang dilakukan nelayan akan terus berjalan karena belum ada pilihan dan bantuan modal dari sumber lain," jelas Danu.(PR01)

Komentar Anda

Berita Terkini