Hingga Akhir Tahun, Ekspor Produk Kimia Diperkirakan Capai USD 13,7 Miliar

HARIAN9 author photo

JAKARTA| H9
Kementerian Perdagangan memperkirakan ekspor produk kimia hingga akhir tahun 2021 mencapai USD 13,7 miliar. Optimisme ini mengemuka setelah gelaran bertajuk ‘Temu Bisnis Produk Kimia Nasional’ yang diselenggarakan secara virtual oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag.


Direktur Jenderal PEN Didi Sumedi di tempat terpisah menegaskan secara keseluruhan, selama periode 2015—2020, ekspor produk-produk kimia mengalami tren positif, baik dari sisi nilai dan volume. Tren nilai naik 3,2 persen sedangkan tren volume naik 8,2 persen. Sementara, pada periode Januari—April 2021, nilai ekspornya tumbuh signifikan sebesar 38,1 persen.

“Dengan asumsi ekspor bulanan selama delapan bulan (Mei—Desember) sama dengan realisasi selama empat bulan (Januari—April) maka hingga akhir 2021, ekspor produk kimia diperkirakan mencapai USD 13—13,7 miliar atau meningkat sebesar 27,3—33,4 persen dibandingkan tahun 2020,” tegas Didi, kamis (8/7/2021).

Acara temu bisnis ini merupakan rangkaian program Peningkatan Daya Saing Produk Ekspor Utama Indonesia. Acara dihadiri para pelaku usaha dan perwakilan asosiasi di sektor kimia, serta para perwakilan perdagangan di Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi, Manila, Seoul, Busan, Kairo, Moskow, Shanghai, Chennai, Johannesburg, Los Angeles, Chicago, Osaka, dan Singapura.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan menyampaikan bahwa permintaan impor dunia naik 4,5 persen selama 2016—2020, sementara tren ekspor Indonesia hanya tumbuh 3,2 persen.

“Walaupun tren ekspor produk kimia Indonesia positif, share mengalami penurunan. Artinya, pangsa pasar Indonesia diambil alih oleh negara pesaing. Karena itu, kegiatan temu bisnis ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menjangkau akses pasar yang lebih luas agar terwujud peningkatan kinerja ekspor produk kimia nasional,” jelas Marolop.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) Achmad Tossin Sutawikara menjelaskan pupuk merupakan produk yang diawasi ekspornya. Sebab, prioritas utama adalah pemenuhan kebutuhan dalam negeri. 

Kendati demikian, ekspor tetap dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian dan setelah menghitung angka kecukupan dalam negeri.

“Temu bisnis ini sebagai peluang untuk memperluas akses pasar ekspor produk pupuk Indonesia ke pasar global. Kami menyambut baik acara ini sekaligus menunjukkan kesiapan asosiasi untuk membuka dialog dengan calon buyer dan Perwadag di luar negeri,” ungkap Achmad.(PR01)
Komentar Anda

Berita Terkini