Membangun Semangat Belajar yang Menyenangkan Melalui Perpustakaan

HARIAN9 author photo

Tinjauan Historis Pemikiran Bung Hatta, dalam Upaya Menumbuhkembangkan Kegemaran Membaca 
Oleh :Drs. WARDIJAH, M.Si 
(Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara) 

A. Pendahuluan 
Membangun semangat belajar yang menyenangkan dalam tradisi budaya keluarga Indonesia perlu untuk diwariskan dari generasi ke generasi. Upaya ini tidak boleh berhenti karena tantangan zaman dari masa ke masa semakin berat dan kompleks. Mendidik anak mulai usia pra- sekolah sudah harus dibudayakan oleh keluarga Indonesia. Hal ini jauh-jauh hari sudah diterapkan oleh keluarga Bung Hatta di Bukit Tinggi Sumatera Barat pada masa prakemerdekaan. 

Dalam buku, Pemikiran Bung Hatta: Sebuah Rujukan Untuk Revolusi Mental (2016 : 22-26) disebutkan bahwa di kampungnya di Bukit Tinggi oleh Pak Gaeknya, Bung Hatta didaftarkan di sekolah. Namun karena masih kecil dan belum memenuhi umur standar, pihak sekolah tidak mau menerimanya. Sudah barang tentu hal ini sangat mengecewakan Bung Hatta pada saat itu. Untung Pak Gaeknya sangat arif dan bijak, dapat membaca kekecewaan cucunya itu, sehingga Bung Hatta dimasukkan ke sekolah Belanda. 

Di sekolah Belanda Bung Hatta tergolong murid yang paling hebat, karena sekolah ini menerima siswa yang sudah tamat Sekolah Rakyat 5 tahun dan Bung Hatta hanya tamat 2 tahun. 

Merasa di sekolahnya tergolong siswa yang paling kecil dan belum tamat Sekolah Rakyat 5 tahun, Bung Hata harus belajar ekstra keras untuk mengejar berbagai ketertinggalan dalam pelajaran. Di rumahnya yang tergolong luas, ia giat belajar, pagi hari pergi ke sekolah, malam hari sehabis Magrib pergi ke surau. Di surau ia belajar mengaji kepada ulama terkenal Minangkabau, Syekh M.Djamil Djambek, masyarakat setempat memanggilnya dengan sebutan Nyiak Djambek. 

Bung Hatta mengeyam pendidikan di Sekolah Rakyat hanya selama dua tahun, kemudian oleh Pak Gaeknya dimasukkan ke sekolah Belanda untuk mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas, karena pada saat itu pendidikan Sekolah Belanda jauh sangat berkualitas bila dibandingkan dengan dengan pendidikan Sekolah Rakyat. Kegiatan yang dijalani setiap harinya ketika masuk Sekolah Belanda, pagi hari pergi ke sekolah, sore hari belajar bahasa Belanda dan malam hari pergi mengaji ke surau. Padahal pada saat itu kebanyakan kawankawannya baik yang seusia dia maupun yang lebih tua, hanya belajar mengaji di surau dan tidak mau bersekolah, baik di Sekolah Rakyat maupun di Sekolah Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa pola pikir Bung Hatta lebih maju dan visioner dibandingkan dengan kawan-kawannya kala itu. 

B. Riwayat Singkat Bung Hatta 
Dalam buku Pemikiran-Pemikiran Bung Hatta: Sebuah Rujukan untuk Revolusi (2016:7), dijelaskan bahwa beliau dilahirkan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus 1902. Oleh ayahnya, H. Mohammad Djamil, diberi nama Mohammad Athar, yang artinya minyak wangi, kemudian oleh keluarga dipanggil dengan sebutan Hatta (Jajak Md, 1990 : 77). Secara geografis Bukit Tinggi merupakan kota kecil yang terletak di tengah-tengah dataran Agam. Alamnya cukup indah berada di ujung kaki Gunung Merapi dan Gunung Sunggalang, di sebelah utaranya terlihat indah lengkungan cabang-cabang Bukit Barisan. 

Dalam keluarganya, Bung Hatta dibesarkan oleh ayahnya hanya sampai usia 8 bulan, setelah itu ayahnya meninggal dunia.  Setelah itu ibunya yang bernama, Siti Saleha yang membesarkannya bersama keluarga lainnya, yang hidup secara komunal dengan menganut sistem kekerabatan matrilineal. Setelah tamat dari Sekolah Belanda ibunya menginginkan Bung Hatta melanjutka studi di Kota Padang. 

Pada tahun 1913 Bung Hatta, meninggalkan Kota Bukit Tinggi menuju Kota Padang dan belajar di sekolah MULO (Meer Uitggebreid Lager Onderwijs), setingkat SMP. Di sekolah ini Bung Hatta belajar bahasa Belanda, Inggris dan Francis, sehingga dia banyak menguasai bahasa asing. 

Di Kota Padang, selain belajar bahasa asing, Bung Hatta belajar juga ilmu agama kepada H. Abdullah Ahmad (1878-1933).  H. Abdullah Ahmad ini dikenal sebagai pendiri sekolah Adabiyah School pada tahun 1909. Adapun pengetahuan tentang bisnis dan ekonomi dia dapatkan dari ayah tirinya, Haji Ning, karena selama belajar di Kota Padang, Bung Hatta tinggal di rumah Haji Ning, yang merupakan saudagar kaya raya. Selama di Kota Padang kegiatan Bung Hatta bukan hanya sebagai kutu buku, ia juga menonton film di bioskop dengan kawan-kawannya pada akhir pekan dan bermain bola kaki untuk persahabatan. 

Setelah tamat sekolah MULO, pada tahun 1919 Bung Hatta berangkat ke Jakarta meninggalkan Kota Padang menumpang kapal laut dari Teluk Bayur dikawani pamanya, yang bernama Mohammad Saleh, yang akrab dipanggil “Mak Alieh”. 

Sesampai di Kota Jakarta Bung Hatta mendaftarkan diri di sekolah dagang Prints Hendrikck School (PHS) untuk memeperdalam ilmu Ekonomi. Selama di Jakata Bung Hatta tinggal bersama pamannya, seorang pedagang terkenal, yang bernama Ayub Rais, yang akrab dipanggil Mak Etek Ayub. Melalui pamannya, Bung Hatta sering diajak ke toko buku antiquariaat, membeli buku N.G. Pierson, yang berjudul Staathuishoudkunde, H. P. Quack, De Socialisten, dan Bellamy, Het Jaar 2000. Buku-buku inilah yang menurut Bung Hatta sebagai dasar pendirian perpustakaan pribadinya.  Pada tahun 1921 Bung Hatta melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam, Handelshogeschool, Belanda. Selama kuliah di Belanda, Bung Hatta menunjukan prestasi belajar yang sangat memuaskan. Karena prestasinya itu, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda. Selama berada di Negeri Belanda, kecintaannya pada buku semakin menggila. Pada tahun 1920 ia memborong banyak buku, yang dibelinya di toko buku Otto Meissner, di Hamurg, padahal pada saat itu Bung Hatta masih berstatus mahasiswa tingkat pertama. 

Singkat cerita, dalam perjuangan yang cukup panjang akhirnya Hatta dipilih menjadi Wakil Presiden pada tanggal 18 Agustus 1945, mendampingi Presiden Soekarno. 

Kemudian pada tanggal 1 Desember 1956 mengundurkan diri dengan alasan, bahwa pada saat itu sudah diberlakuakan sistem pemerintahan Parelementer, sehingga secara politis kedudukan wakil presiden tidak diperlukan lagi (Jajak MD, 1990 : 89). Pada usia 77 tahun., Bung Hatta meninggal dunia tepatnya pada tanggal 14 Maret 1980, dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. 

C. Konsep Pemikiran yang Cemerlang dan Visioner 
Di atas sekilas sudah dinarasikan sejarah singkat Riwayat Hidup Bung Hatta. Sekarang pertanyaan yang perlu diajukan bagaimana pemikiran-pemikiran cemerlang dan visioner Bung Hatta yang interferensi dengan membangun semangat belajar yang menyenangkan ? 

1. Disiplin Belajar Pola pikir dan pola laku yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah semangat disiplin belajar yang luar biasa. Sedari kecil Bung Hatta sudah dikenal sebagai anak yang disiplin dalam hal belajar. Pagi hari belajar di sekolah, sore hari belajar bahasa Belanda, dan malam hari selepas sholat Maghrib belajar mengaji di surau. Kebiasaan ini diterapkan sampai dia menamatkan sekolah Belanda setingkat SMP yang disebut MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).  Di sekolah ini Bung Hatta lebih banyak belajar bahasa asing, seperti bahasa Belanda, bahasa Inggris dan bahasa Francis. Namun dalam hal berbahasa Indonesia Bung Hatta sangat disiplin dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kebiasaan disiplin dalam hal belajar, Bung Hatta telah melakukan perlawanan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh kawan-kawannya pada masanya. Pada saat itu anak-anak di Bukit Tinggi tidak mau belajar dan tidak mau sekolah. Kawan-kawannya pada siang hari hanya bermain-main atau membantu orang tuanya bekerja di sawah, menggembalakan kerbau atau berjualan. Pada masanya itu kawan-kawan Bung Hatta mempunyai punya moto: ”Buat apa sekolah, sekolah itu bikinan Belanda untuk menjinakkan kita, lebih baik dijauhi saja.” (Hatta,1978:22).

Semangat belajar yang dilakukan oleh Bung Hatta pada masa itu sedikit banyak menafikan teori Tabularasa yang digagas oleh John Locke (1632-1704), seorang Filosofi berkebangsaan Inggris. Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru lahir dapat diumpamakan ibarat kertas yang belum ditulis ( a sheet ot wwhite papae avoid of all character). Menurut Locke, ketika anak lahir tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Lingkungan dan pengalamannya yang membentuk karakternya. Oleh karena itu teori ini disebut juga dengan teori empiris dan teori ini dibenarkan oleh kaum behavioris. Akan tetapi, teori ini merupakan antitesis dari teori Nativisme, yang mengatakan bahwa anak-anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Bung Hatta ketika masih kecil tidak terbawa arus oleh pengaruh lingkungannya dimana lingkungannya pada saat itu sangat anti dengan pendidikan dan proses belajar mengajar di sekolah. 

Prilaku Bung Hatta yang rajin belajar di sekolah pada waktu pagi, belajar bahasa Belanda waktu sore dan belajar mengaji waktu malam telah melahirkan konsep “Trias Education”, yaitu penerapan belajar pendidikan formal, infornal dan nonformal secara sekaligus. Ketiga istilah tersebut dalam konteks perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia baru dimunculkan melalui pasal 13 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003 dan dimasukkan ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301. Disamping itu juga yang perlu dicermati bahwa proses internalisasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh Bung Hatta tidak mengenal istilah dikotomi pendidikan, yaitu pemisahan Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama. Padahal pada zaman penjajahan Belanda masyarakat Indonesia dipolarisasi dengan pemikiran “skulerisme”, yaitu pemisahan Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum. 

Polarisasi pendidikan semacam ini, sangat ditentang oleh Bung Hatta. Baginya pendidikan bersifat integral dan holistik menyangkut aspek kehidupan duniawi dan ukhrowi. Menurut Bung Hatta manusia diciptakan di muka bumi ini sebagai khalifah (wakil Tuhan), berfungsi untuk memakmurkan bumi dan mengatur kehidupan yang lebih baik, maka semua ilmu harus dipejari. Pemahaman Bung Hatta dalam hal pendidikan sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinya : “Barang siapa ingin berjaya di dunia, maka carilah ilmunya, barang siapa yang ingin berjaya di akhirat carilah ilmunya dan barang siapa ingin berjaya di dunia dan di akhirat maka carilah ilmunya”. Konsep pendidikan Bung Hatta ini di kemudian hari menjadi rujukan ketentuan pasal 37 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai Muatan Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. 

2. Belajar Menghargai Waktu Dalam literatur-literatur yang kita baca, Bung Hatta sangat dikenal sebagai sosok pribadi yang sangat menghargai waktu, sehingga tidak heran seorang sastrawan Indonesia terkenal, Taufik Ismail, dalam sebuah bait puisinya yang berjudul “Rindu Pada Setelah Jas Putih dan Pentolan Putih”. 

“Bung Hatta adalah teladan tepat waktu 
Untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat 
Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya terlat 
Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa”. 

Bait puisi tersebut dapat dinterprestasikan bahwa perilaku Bung Hatta sangat antagonis dengan budaya bangsanya yang suka membuang-buang waktu. Dari seribu kegiatan yang dilakukan hanya 10% yang tepat waktu, 90% lagi selalu molor dan tidak tepat waktu. Kita sebagai bangsa hanya tepat waktu kita berbuka puasa, baik puasa wajib maupun sunah, yang disebut “takzil” (mempercepat buka puasa). 

Life style (gaya hidup) yang tidak menghargai waktu, jelas menunjukan perilaku orang yang malas dan suka berleha-leha. Bertolak belakang dengan slogan” time is money” waktu adalah uang. Sekalipun slogan tersebut berbau kapitalis, tetapi cocok dengan tuntutan zaman yang mengharuskan demikian. 

Bung Hatta sebagai seorang muslim, sudah menerapkan ungkapan sahabat utama Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Tholib, yang mengatakan “waktu laksana pedang, kalau tidak dipergunakan dengan baik, maka pedang itu pasti akan memotong leher kita. Artinya waktu itu sangat berharga, kalau tidak pandai menggunakannya pasti waktu itu akan menggilas kita. Berkaitan dengan itu, cukup untuk menjadi renungan, apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw, yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari Ibnu Abbas, yaitu jaga lima sebelum datang yang lima : 

1. Jaga muda sebelum datang masa tua 
2. Jaga sehat sebelum sakit
3. Jaga kaya sebelum jatuh miskin 
4. Jaga waktu luang sebelum datang waktu sempit 
5. Jaga hidup sebelum mati. 

3. Membaca Untuk Membuka Jendela Dunia 
Membaca koran dan buku adalah kegiatan yang rutin Bung Hatta lakukan pada masa kecil. Pada usia pra-sekolah yang dibacanya adalah koran, yaitu koran Neratja yang dipimpin oleh Abdul Moeis dan kemudian dilanjutkan dipimpin oleh Haji Agus Salim. Kemudian koran berbahasa Belanda, “Handerlingen Volksrad”. Awalnya kegiatan ini dilakukan untuk melacarkan kepandaian membaca, namun akhirnya menjadi hobi yang menyenangkan dan tidak bisa ditinggalkan. Budaya gemar membaca sudah ditanamkan oleh Bung Hatta secara autodidak ketika dia belum bersekolah, makanya tidak heran ketika dia duduk di bangku sekolah sudah lancar membaca. Berkat kegemarannya membaca tersebut pengetahuannya melampaui batas usianya. Konon ceritanya kegemaran membaca koran ini Bung Hatta lakukan sampai akhir hayatnya. 

Dalam pribadi Bung Hatta berlaku juga hukum sebab akibat, kausalitas, dengan berawal kegemaran membaca surat kabar berlanjut sampai kegemaran membaca buku. Untuk menyalurkan hobinya membaca buku, Bung Hatta harus menyisihkan uang jajannya hanya untuk membeli buku. Perilaku ini sangat bertentangan dengan sebagian pandangan orang yang menganggap bahwa buku itu mahal, sehingga daripada membeli buku lebih baik membeli sembako yang dapat mengenyangkan perut. Bung Hatta sadar bahwa untuk menjadi bangsa yang maju harus ada kegemaran membaca pada setiap warganya. Begitu cintanya sama buku, Bung Hatta harus rela mengambil uang tanbungannya hanya untuk membeli buku. 

Baginya buku itu adalah teman yang paling setia yang dapat dibawa kemana saja. Tidak heran, jika di dalam kamarnya Bung Hatta menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk membaca buku. Ketika Bung Hatta sudah mulai sekolah, kegiatan belajar dan membaca buku menjadi kegiatan yang semakin akrab dilakukan. Setiap buku yang dibacanya dengan seksama, tanpa harus menyoret kertas buku itu dan melipatnya. Ia sangat marah kalau buku yang dibacanya dicoret-coret atau dilipat-lipat, seperti yang diceritakan oleh anak sulungnya, Prof. Dr. Meutia Hatta bahwa ayahnya pernah marah kepada pamannya, gara-gara buku notesnya disobek oleh sang paman. Ini menunjukkan Bung Hatta tahu betul bahwa stiap buku yang dibaca harus diperlakukan dengan santun dan ramah, karena lebih 60% kerusakan buku disebabkan oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. 

Bung Hatta kecil sudah melakukan apa yang disebut dengan Pelestarian Bahan Perpustakaan, termasuk buku harus dijaga, dirawat dan dilestarikan karena setiap buku pasti berguna sebagaimana diungkapkan oleh satrawan India, Ranaghatan. Bung Hatta kecil sudah menjadi kutu buku, dengan menjadi kutu buku Bung Hatta sadar inilah salah satu cara untuk dapat mengubah nasih diri dan bangsa untuk lebih maju memberantas kebodohan dan kemiskinan. Orang menjadi miskin karena dia bodoh, sehingga tidak dapat bersaing dengan orang lain. Dengan membaca buku akan membuka Jendela Dunia, dengan membaca buku juga akan melahirkan lenyaplah kebodohan terbitlah kecerdasan. 

Dengan kegemaran membaca Bung Hatta dapat mengetahui situasi yang terjadi di belahan dunia. Melalui koran Neratja dan Hardelingen Volksraad yang ia baca, Bung Hatta mengetahui perkembangan perang Balkan. Ia telusuri wilayah-wilayah konflik perang tersebut melalui Peta Dunia. Benarlah pepatah yang mengatakan “dengan menguasai informasi kita menguasai dunia.” Sebelum UNESCO menetapkan tanggal 23 April 1995 sebagai Hari Buku Sedunia, Bung Hatta sejak kecil sudah mencintai dan membaca buku tanpa terpengaruh oleh faktor eksternal, faktor pendukung dan faktor penghambat yang mempengaruhi minat baca seseorang. Mudjito di dalam bukunya Pembinaan Minat Baca (1993:85) menjelaskan ada 4 faktor yang mempengaruhi kegemaran seseorang dalam membaca buku, yaitu : faktor internal, eksternal, pendukung , dan penghambat. 

Kempat faktor tersebut pada diri Bung Hatta yang paling dominan adalah faktor internal, faktor yang ada pada dirinya tanpa dipengaruhi oleh kondisi dan situasi pada saat itu, yang tidak mendukung seseorang untuk mencintai dan membaca buku. Bug Hatta sadar kalau pendirian kawan-kawannya yang mengatakan bahwa bersekolah itu membantu Belanda jika dibiarkan terus-menerus, tentu bangsa ini akan sangat lama dijajah oleh Belanda. 

D. Berdirinya Perpustakaan Proklamator Bung Hatta 
Pada awal tulisan ini sudah dijelaskan bahwa sejak kecil Bung Hatta gemar mengkoleksi buku-buku yang dibelinya melalui uang jajan dan uang tabungan. Buku-buku tersebut disusun rapi dalam kamarnya, sehingga membentuk perpustakaan pribadi. Seiring dengan kemajuan zaman koleksi buku itu terus bertambah. Koleksi yang terus bertambah tersebut merupaka cikal bakal berdirinya Perpustakaan Umum Mohammad Hatta pada tanggal 12 Agustus 1976, terletak di Jl. A. Rivai No. 17 Bukit Tinggi. Perpustakaan ini diresmikan oleh Bung Hatta sendiri bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-74. 

Seiring dengan bertambahnya koleksi dan pengunjung yang datang, gedung perpustakaan ini dirasakan tidak mampu lagi menampung pertambahan pemustaka tersebut, sehingga Pemerintah Kota Bukit Tinggi membangun Gedung Perpustakaan yang baru, yang lebih luas dibanding dengan gedung yang lama. Pada perkembangan selanjutnya Perpustakaan Umum Bung Hatta ini pada tahun 2003 berubah nama menjadi Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta. Kemudian berganti nama lagi menjadi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 September 2006. Kemudian pada tahun 2012 Perpustakaan Proklamtor Bung Hatta menjadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) Perpustakaan Nasional RI mengacacu pada Surat Persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. B/1299/M. RAN-RB/4/12 tanggal 31 April 2012 tentang Organisasi dan Tata Unit Kerja Pelaksana Teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dan Surat Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 yang menyatakan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta merupakan UPT Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Perpustakaan Nasional RI dan dalam pelaksanaan kesehariannya berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat. 

UPT Perpustakaan Nasional, yang terletak di Jl. Kusuma Bakti, Gulai Bancah, Mandiangin Kota Selayan, Bukit tinggi, terhitung tahun 2010 sampai dengan sekarang koleksi yang dimiliki mengalami kemajuan yang cukup pesat, yaitu tercatat memiliki koleksi lebih dari 60.000 judul dan 110.000 eksemplar dengan pemustaka per harinya lebih dari 400 orang. Dengan dikepalai oleh Drs. Nur Karim, M.Hum, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta ini terus berbenah diri dalam meningkatkan pelayanan kepada pemustaka dengan melalui software yang merupakan buatan Indonesia. Dengan memanfaatkan software tersebut pemustaka dapat mengetahui keberadaan bahan perpustakaan yang mereka butuhkan dan dapat meminjamnya tanpa harus datang ke lokasi. Di samping itu Perpustakaan Proklamator Bung Hatta juga dapat melayani delivery bahan perpustakaan interlibrary. 

Dalam upaya menumbuhkembangkan minat dan budaya baca melalui bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan, disadari atau tidak, perpustakaan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam meningkatkan budaya baca. Menurut Sutanto NG (2003:54) perpustakaan mempunyai 10 peran, di antaranya sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca dan budaya baca. 

Memasuki era 4.0, perpustakaan dituntut selain harus dikelola dengan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan juga dikelola dengan menggunakan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) sebagaimana diamanatkan dalam pasal 14 dan 18 UndangUndang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Program Pemerintahan Presiden Jokowi menuju Indonesia Cerdas dan Unggul, harus direspon dengan semangat membangun revolusi mental melalui Perpustakaan Digital yang mampu memenuhi kebutuhan pemustaka dalam hal informasi. 

E. Kesimpulan dan Penutup 
Dari narasi yang telah dijelaskan di atas tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagai seorang inspirator dan proklantor kemerdekaan, Bung Hatta telah meletakkan dasar-dasar pemikiran yang melampaui batas zamannya dengan keteladanan di dalam belajar, dan didisplin. Beliau telah memberikan contoh teladan yang baik bagaimana suatu bangsa akan dapat merubah nasibnya, keluar dari penjajahan Belanda, beliau telah menempa dirinya belajar di tanah kelahirannya Kota Bukit Tinggi, kemudian hijrah ke Padang dan melanjutkan studinya sampai Negeri Belanda. Dari dalam dirinya terpancar kegemaran dan kebiasaan membaca, sampai akhirnya diangkat menjadi Wakil Presiden dan beliau tidak malu kalau harus mengundurkan dari Jabatan Wakil Presiden. Keteladanan ini mengubah citra dan image bahwa seorang pejabat negara mengundurkan diri itu bukan lah budaya Indonesia yang selama ini disakralkan, Bung Hatta lah pejabat negara pertama yang mengundurkan diri di Negara Republik ini. 

Berkat kegemarannya membaca dan mengkoleksi buku-buku telah menunjukkan jati dirinya peletak peradaban yang sangat monumental, yaitu berdirinya Perpustakaan Umum Mohammad Hatta yang akhir berubah menjadi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Keberadaan perpustakaan ini merupakan “conditio sine guanon” merupakan suatu keniscayaan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kegemaran membaca. 

Daftar Pustaka :
Jajak MD. 1990. Biografi Presiden dan Wakil Presiden RI 1945 – Sekarang. Jakarta : Asri
Media Pustaka.

Martoatmodjo, Karmidi. 1994. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta : Universitas Terbuka.

Mudjito. 1993. Pembinaan Minat Baca. Jakarta : Universitas Terbuka.

Perpustakaan Nasional RI. 2010. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang
Perpustakaan. Jakarta.

Sutarno NS. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Tim Redaksi FOKUSMEDIA. 2006. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Fokusmedia.

UPT. Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. 2016. Pemikiran-Pemikiran Bung Hatta :
Sebuah Rujukan Untuk Revolusi Mental. Bukittinggi.

*Drs. WARDIJAH, M.Si, Pustakawan Ahli Madya pada Dinas Perpustakaan dan Arsip
Provinsi Sumatera.***
Komentar Anda

Berita Terkini