NBT


Pengguna Data BPS Cenderung Berasal dari Berbagai Lembaga Pendidikan

HARIAN9 author photo

 

MEDAN| H9
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Dr Syech Suhaimi SE MSi mengatakan pengguna data BPS cenderung lebih banyak berasal dari kalangan pelajar/mahasiswa/dosen dari berbagai lembaga pendidikan.

"Kemudian berdasarkan demografinya, mayoritas pengguna data BPS di Sumut berusia produktif dengan kategori usia kurang dari 25 tahun sekitar 57% dan usia antara 26-35 tahun sekitar 16%,"katanya, Sabtu (25/9/2021).

Menurut pendidikan tertinggi sekitar 49% merupakan lulusan SMA (termasuk didalamnya mahasiswa program diploma maupun strata-1), dan sekitar 40% lulusan sarjana.

"Berdasarkan Institusi, 54% pengguna data BPS adalah dari lembaga pendidikan maupun riset dalam negri. Sedangkan berdasarkan pemanfaatannya, 41% sebagai tugas kuliah/sekolah, 21% untuk pemerintahan dan 11% untuk penelitian,"katanya.

Pada diskusi ilmiah bersama akademisi yang digelar pada Rabu (22/9/2021) itu, Suhaimi menyebutkan, jenis layanan yang paling banyak digunakan adalah konsultasi statistik (sekitar 50%), dan fasilitas utama yang dipakai adalah menggunakan website BPS (sekitar 76%).

Diskusi dengan tema “Data Berkualitas Untuk Mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh” yang digelar BPS Sumut itu diikuti akademisi dari USU, Unimed, UINSU dan UMSU.

Disebutkannya, hasil survei kebutuhan data tersebut menjadi peluang maupun tantangan bagi BPS untuk terus memasyarakatkan statistik dengan tepat, khususnya kepada para pelajar/mahasiswa/peneliti yang kelak memimpin negeri ini di masa mendatang.

Sesuai dengan peran BPS sebagai penyelenggara statistik dasar maupun sebagai pembina kegiatan statistik sesuai amanah UU Statistik, sudah seyogyanya BPS  berkolaborasi dengan perguruan tinggi dengan memberikan literasi statistik untuk mendukung tri dharma perguruan tinggi.

“Begitu pula sebaliknya, BPS juga memerlukan masukan dan ruang diskusi untuk terus berbenah untuk menyempurnakan penyelenggaraan statistik dasar yang melalui Forum Masyarakat Statistik,” kata Suhaimi.

Menurutnya melakukan pembangunan nasional hingga level daerah tak cukup hanya dilakukan  satu pihak saja, namun harus ada sinergi dan kerjasama oleh banyak pihak.

Kolaborasi Pentahelix yang terdiri atas unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha dan media yang saling mendukung sangat diperlukan untuk mempercepat pencapaian pembangunan.

Workshop wartawan oleh BPS juga dilakukan agar peran media dalam mewartakan indikator statistik sesuai dengan kaidah.

Demikian juga berbagai bentuk focus group discussion kepada sektor swasta juga terus bergulir agar terus mendukung kegiatan statistik dan meningkatkan respons rate survei BPS.

Untuk menuju statistik yang lebih baik, kata Suhaimi tentunya sangat diperlukan peran berbagai pihak. Tak hanya BPS sebagai penyelenggara statistik dasar, Kementrian/ Lembaga/institusi pemerintah bersama-sama dapat konsisten terhadap tata kelola pemerintahan yang telah ditetapkan; menerapkan prinsip satu data; berkolaborasi antar institusi serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti penting statistik.

“Masyarakat juga dapat menjadi responden yang baik untuk mendukung penyelenggaraan statistik, aktif melaporkan diri untuk mendukung sistem registrasi yang lebih baik, serta aktif memberikan umpan balik,” sebutnya.

Suhaimi menegaskan, data juga tidak bisa dipisahkan dari dunia akademik khususnya dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan para peneliti, dosen, maupun mahasiswa dengan berbagai metode.

"Proses pengumpulan data yang dilakukan BPS menggunakan berbagai metode, mulai dari yang konvensional  hingga yang moderen," katanya.

Metode konvensional tersebut seperti Sensus, Survei maupun kompilasi produk administrasi. Sementara metode moderen dengan memanfaatkan perkembangan Iptek seperti penggunaan bigdata dengan mobile positioning for tourism and commuter. (PP-04)

Komentar Anda

Berita Terkini