NBT


Sidang Sengketa Lahan: Sebeum Proses Ganti Rugi, Tidak Pernah Ditemukan yang Namanya Makam Raja Sitompul

HARIAN9 author photo

 

PADANGSIDIMPUAN| H9
Mangaddas Siregar dan Rusbi Tamba yang merupakan saksi tergugat 5 sampai 11 yang diajukan Kelompok Tani (Poktan) Majumambe dalam perkara perdata sengketa lahan Lobu Sitompul mengakui sebelum yerjadinya proses ganti rugi lahan, tidak pernah ditemukan yang namanya Makam Raja Sitompul Sibange-bange Datu Menggiling di lokasi lahan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Simarboru.

" Sebelum ada proses ganti rugi, di kawasan itu sama sekali tidak pernah ada ditemukan yang namanya makam Raja Sitompul Sibange-bange Datu Manggiling maupun anak dan  keturunannya, " kata kedua saksi usai memberikan kesaksian di persidangan sengketa lahan yang di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Padangsidimpuan, Kamis (16/9/2021)

Melalui Kuasa Hukumnya Ahmad Johari Damanik, SH,MH Mangaddas Siregar dan Rusbi Tamba mengatakan bahwa ke dua saksi merupakan anggota Poktan Najumambe yang lahannya ikut diganti rugi oleh PLTA dan sepengetahuan saksi sebelum ada proses ganti rugi dan di kawasan itu sama sekali tidak pernah ada ditemukan yang namanya makam Raja Sitompul Sibange-bange Datu Manggiling maupun anak dan  keturunannya.

" Kesaksian ini cukup penting, karena selama ini dalil dari penggugat dalam perkara Punguan Sitompul yang selalu menyatakan bahwa salah satu bukti adanya Lobu Sitompul dan penggugat berulang kali menyatakan bahwa di kawasan itu terdapat makam Raja Sitompul Sibange-bange Datu Menggiling berikut anak dan keturunannya, " terang Ahmad Johari.

Jadi, kata dia, dari keterangan dan sepengetahuan para saksi justru apa yang dinyatakan pihak penggugat di persidangan dan apa yang ada di lokasi PLTA, memang tidak ada sama sekali yang namanya makam tersebut.

Sedangkan saksi tergugat 1 yang diajukan PT. Nort Sumatera Hidro Energy (PT. NSHE) Rahmat Bahrum Hutasuhut melalui Kuasa Hukumnya Rinaldi, SH,MH membenarkan dan menyaksikan sendiri, bahwa saksi penggugat Muhammad Eyun Hutasuhut pernah menandatangani surat tertanggal 10 Januari 2021 lalu. Padahal, pada sidang sebelumnya, 
Muhammad Eyun Hutasuhut tidak mengakui tandatangan tersebut. 

" Saksi yang diajukan pada persidangan tadi, menegaskan bahwa benar salah seorang  saksi dari penggugat bernama Muhammad Eyun Hutasuhut, telah menandatangani surat sanggahan tertanggal 10 Januari 2021 dan dari keterangan saksi tergugat 1 tentunya telah membantah keterangan saksi penggugat Muhammad Eyun Hutasuhut, yang pada sidang sebelumnya, tidak mengakui telah menandatangani Surat tanggal 10 Januari 2021 itu, " katanya. 

Untuk saksi yang diajukan tergugat 12 dan 13 Manap Siregar gelar Baginda Bondul yang merupakan salah satu Keturunan Raja Luat Marancar Manap Siregar melalui Kuasa Hukumnya M.Aswin Diapari Lubis, SH,MH, menerangkan, berkaitan dengan sejarah Keluatan Marancar Raja Tinamboran, bahwa yang dapat menjelaskan batas-batas kewewenang bukan pemangku raja luar, tapi adalah raja luat secara sepenuhnya.

" Kami dari Kekuatan Marancar tidak pernah memberikan lahan sampai seluas 3200 Hektar kepada Lobu Sitompul, yang sekarang lahan tersebut disengketakan antara Keturunan Marga Sitompul dengan pihak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Simarboru, " ujar Manap Siregar.

Dalam persidangan tersebut, klien kami Manap Siregar menerangkan, berkaitan dengan sejarah Keluatan Marancar Raja Tinamboran dan terkait wilayah kerajaan tersebut, bahwa yang dapat menjelaskan batas-batas kewewenang bukan pemangku raja luar, tapi adalah raja luat secara sepenuhnya.

" Jadi, ada perbedaan antara pemangku raja luat yang dijabat Zulfikar Siregar, sementara sepengetahuan saya raja luat adalah Darma Bakti Siregar Gelar Baginda Penurunan Pemusuk dan yang berhak menentukan kewenangan dan keputusan adalah raja luat setelah melalui musyawarah dengan Dalihan Natolu (mora, kahanggi, anakboru), berikut 4 parompuan atau cabang keturunan raja Tinamboran, " ujar Manap.

Saksi menjelaskan bahwa ia salah satu unsur raja Tinamboran yang disebut empat parompuan yang merupakan inti pengetua adat yang ada di Keluatan Marancar sejak beberapa generasi.

" Sebenarnya pemangku raja juga bisa mengambil keputusan melalui rapat Dalihan Natolu bersama 4 parompuan. Tanpa itu, hasil rapat tidak sah untuk diputuskan. Sementara raja luat berfungsi mengambil keputusan yang sifatnya absolut, " tuturnya.

Terkait perkara tersebut, sebenarnya pihak penggugat yang mengklaim memiliki lahan bernama Lobu Sitompul dengan batas-batas yang fantastis itu yang luasnya mencapai 3200 Hektar dengan berlandaskan surat keterangan yang di terbitkan pemangku raja luat atas nama Zulfikar Siregar.

" Dengan keterangan saksi tadi, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa surat keterangan yang diterbitkan Zulfikar Siregar tidak sah karena penerbitan surat tanpa melibatkan Dalihan Natolu dan empat Parompuan dari Keluatan Marancar atau keturunan Raja Tinamboran, " terangnya.

Saksi juga menerangkan bahwa pada tahun 2013 empat Parompuan keturunan Raja Tinamboran ada melakukan musyawarah di Desa Sipenggeng Kecamatan Batangtoru dan hasilnya memutuskan dan menentukan tentang letak Lobu Sitompul yang diperuntukkan bagi marga Sitompul Muslim Tabagsel diketuai Agus Syamsuddin Sitompul bukan untuk marga Sitompul lainnya.

" Disini kami simpulkan bahwa Lobu Sitompul baru ditetapkan pada tahun 2013 oleh raja Tinamboran dan di Lobu Sitompul itu ada kegiatan PLTA dan tidak ada keberatan dari pihak  keturunan raja Tinamboran, " katanya (WD.014)
Komentar Anda

Berita Terkini