Diginal Culture: Bangun Demokrasi di Media Digital

harian9 author photo

JAKARTA| H9
Dengan meningkatnya teknologi dan internet, masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi, serta melakukan banyak hal dengan teknologi, salah satunya adalah membangun demokrasi. 

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si. mengungkapkan, bahwa setelah tiga tahun pandemi COVID-19 muncul, masyarakat sangat bergantung pada penggunaan internet dan teknologi digital. Pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 202 juta jiwa dengan mayoritas pengguna merupakan generasi Z. Peningkatan teknologi digital telah meningkatkan sumber informasi yang ada. Setiap orang bebas memasukan informasi di internet tanpa batasan yang dapat diartikan bahwa telah terjadi digitalisasi, dimana internet menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas teknologi informasi merupakan hal yang penting bagi individu untuk dapat berpartisipasi di dunia modern, katanya di Jakarta, Minggu (25/10/2021).

Maka dari itu, lanjut Anton, masyarakat di era teknologi digital memiliki pola berpikir yang berbeda dengan masyarakat yang ada pada generasi sebelumnya. Beberapa karakteristik generasi muda pengguna antara lain kerja cepat, kerja cerdas, multitasking, cuek terhadap politik, dan suka berbagi.  Namun, terdapat beberapa dampak negatif dari teknologi digital salah satunya adalah radikalisasi, ujarnya.

Dirjen APTIKA Kemkominfo, Samuel A. Pangerapan, B.Sc, juga mengatakan bahwa berdasarkan survei UNESCO, tingkat literasi di Indonesia mencapai angka 3.47 dari skala 1-4 yang berarti baru mencapai tingkat sedang. Masyarakat indonesia harus mampu meningkatkan tingkat literasi digital agar mampu menghadapi perubahan digital. Hal ini terutama dikarenakan telah terjadi perubahan digital, dimana kehidupan setiap orang bergantung pada teknologi, ujarnya.

Samuel menambahkan, jika tingkat literasi digital dan keterampilan digital harus ditingkatkan dikarenakan literasi dan keterampilan digital merupakan pondasi utama dalam penggunaan teknologi digital dan akan meningkatkan potensi masyarakat indonesia, ucapnya.

Yudhiansyah Ahmadin ST, MTI., CTO PT Focus Integrasi Sistem, sebagai pemateri pada webinar hari ini mengatakan bahwa pada era digital ini, berkembang apa yang disebut dengan demokrasi digital. Beliaku mengatakan bahwa kaum muda di Indonesia menggunakan internet dan media sosial untuk berpartisipasi dalam demokrasi digital di Indonesia. 

"Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan dalam partisipasi kaum muda dalam demokrasi digital diantaranya adalah  korupsi, perubahan pola demokrasi, atau kasus ketidakadilan. Demokrasi digital juga mempengaruhi proses dari demokrasi itu sendiri mulai dari mobilisasi politik strategi kampanye, polarisasi opini publik, hingga saluran tata kelola pemerintahan. Perubahan ini tidak hanya mempengaruhi praktik politik tapi juga aspek lainnya seperti ilmu sosial. Kurikulum ilmu sosial saat ini pun turut beradaptasi dengan revolusi digital", paparnya.

Ia menyebutkan, walaupun saat ini sudah terdapat demokrasi digital, namun setiap orang harus tetap mengutamakan etika dalam berdemokrasi. Hal ini diatur pula oleh Pasal 28 ayat (2) UU ITE, yang menyatakan bahwa “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”. 

Berdasarkan pasal tersebut, maka setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar. 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap orang harus mampu berdemokrasi dengan etika dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Pemateri menyampaikan beberapa tips agar dapat berpendapat dengan sopan saat berpartisipasi dalam demokrasi digital, di antara lain yaitu, (1) Sampaikan pendapat dengan cara yang sopan, (2) Ketahui kapasitas pengetahuan diri sendiri, (3) Memiliki dasar argumen yang kuat dan jelas, (4) Tidak memotong pembicaraan lawan bicara, dan (5) Tidak menyerang pribadi lawan bicara. 

Diharapkan dengan melakukan beberapa hal tersebut, setiap orang mampu berpartisipas dalam demokrasi digital dengan cara yang baik, yaitu tetap sesuai dengan etika, bijak, dan sesuai dengan aturan yang berlaku.(pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini