NBT


Literasi Digital Bekal Melawan Kejahatan Radikal

HARIAN9 author photo


 JAKARTA| H9
Dengan era digital yang sudah canggih saat ini, penyebaran informasi menjadi sangat cepat sampai pada masyarakat. Dalam hal tersebut tentu ada nilai positif dan ngetatif yang dapat kita ambil. Tapi salah satu hal negatif yang paling krusial adalah mudahnya anak muda terpapar oleh paham-paham radikalisme yang tersebebar di dunia digital. 

Dalam hal ini, BANPT atau Badan Penanggulangan Terorisme sudah berulang kali mengajak guru agama, ustadz, dan tokoh agama untuk mengajarkan pentingnya toleransi dan anti radikalisme pada masyarakat khususnya pada anak muda, karena Lembaga Pendidikan dianggap memiliki pusat pernan yang penting dalam hal tersebut.

Beberapa NGO dan universitas sudah melakukan kajian dan pendataan perihal hal terorisme. Pada tahun 2015 terhadap siswa dan mahasiwa pada sekolah dan universitas di Jakarta dan Bandung menujukkan bahwa ada persoalaan ditingkat guru agama dalam memberikan paham toleransi. Dan hal tersebut juga terjadi ditingkat kampus pada tahun 2019, banyaknya mahasiswa yang sepakat untuk melakukan jihad dan mendirikan negara khilafah di Indonesia.

Menyadari bahwa radikalisme dan terorisme seringkali menjadi isu yang menakutkan bagi masayarakat Indonesia, Anggota komisi I dari Partai Amanat Nasional, Farah Puteri Nahlia, B.A, M.Sc dalam pembukaannya pada WEBINAR yang bertema Literasi Digital Bekal Melawan Radikalisme ini mengajak masyarakat untuk lebih paham terhadap konteks kemurnian pancasila digenerasi anak muda dalam skala yang lebih luas lagi. 

Selain itu, Farah juga mengajak kita untuk memahami aspek pengetahuan generasi muda terhadap aspek tekstual Pancasila. Menurutnya kerja sama dan focus [ada diskusi soal radikalisme ini menjadi salah satu solusi terbaik untuk menjawab masalah yang kompleks ini demi membangun Indonesia Emas pada tahun 2045.

Dirjen APTIKA Kemkominfo, Samuel A pangerapan, B.Sc, dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran teknologi di dalam masyarakat membuat kita menghadapi distrupsi teknologi. Dalam kata sambutannya itu juga beliau memberikan saran untuk mengahadapi distrupsi itu kita sebagai masyarakat harus mempelajari hal yang palin penting pada era digital saat ini, yauitu paham akan literasi digital agar kita sebagai masyarakat bisa mengambil peranan penting dalam keadaan saat ini. 

Beliau mengatakan pada tahun 2020 KOMINFO Bersama Kata Data melakukan survey status literasi digital nasional dengan mengacu pada kerangka milik UNESCO, dari kajian tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi Indonesia menunjukkan 3,47 dari sekala 1 – 4, jelasnya di Jakarta, Jumat (1/10/2021).

Dalam hal tersebut menurutnya bahwa Indonesia masih berada dibagian sedikit di atas sedang, belum dalam keadaan yang baik. Untuk lebih jauh lagi, Ketua Badan Pengurus Central Intiative, Dr. Al Araf, selaku pembicara dalam WEBINAR ini menyampaikan bahwa era digital bisa sangat berbahaya dalam penyampaian isu radikalisme ataupun terorisme ini. 

"Karena menurutnya tujuan dari Tindakan terorisme ini adalah untuk menyebar ketakukan pada masyarakat. Pada WEBINAR tersebut beliau menyampaikan proses dari terorisme berawal dari sifat intoleran dengan sikap diantara kita yang menilai bahwa ada pihak yang paling benar dan pihak yang salah dalam suatu hal, sehinggal munculah radikalisme, atau paham untuk mengubah suatu pandangan yang dianggap salah tersebut hingga sampai pada fenomena terorisme," ujar
Dr. Al Araf.

Dr. Al Araf menyebutkan, terorisme juga tidak selalu dilatar belakangi oleh masalah agama. Masalah ras dan ideologi juga mejadi faktor dari terjadinya aksi terorisme. Keberagaman dari Indonesia seringkali mengalami masalah intoleransi di dalamnya.

Meningkatnya ujaran-ujaran kebencian, politisasi agama untuk kepentingan politik, merebaknya kelompok vigilantisme keagaam menjadi faktor-faktor pendukung benih-benin tumbuhnya radikalisme. Beberapa peran negara yang harus dilakukan dalam menangani isu radikalisme ini juga dibahas oleh beliau seperti pendekatan sistematik melalui perluasan dan penguatan ruang partisipasi masyarakat, menyediakan barang dan layanan publik dan sebagainya, serta memastikan hukun dan ketertiban agar tidak ada wilayah yang terlewat tak terhukum, paparnya.

Saring before sharing menjadi solusi yang diberikan oleh Dr. Al Araf dalam menghadapi keadaan era digital yang sangat canggih ini agar kita  bisa menghindari isu radikalisme dan terorisme ini. Beliau mengajak kita untuk menghargai perbedaan agar kita dapat menolak persoalan radikal, extremism, dan terorisme di Indonesia. 

“Saya selalu katakan bahwa ada negara yang bubar bukan karena perang dengan negara lain, tapi karena perang dengan negara sendiri karena perbedaan. Kita tidak mau Indonesia menjadi negara yang bubar seperti itu. Maka dari itu kita harus merawat ruang digital kita kearah yang lebih positif untuk melawan berbagai kejahatan radikal dan terorisme. Semoga kita masih bisa melihat Indonesia dalam 20 tahun kedepan. Upaya merawat Indonesia tidak hanya tugas Pemerintah atau DPR, tapi juga tugas kita Bersama” pungkas, Dr. Al Araf.(pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini