Survey Metode Kerangka Sampel Area Jadi Andalan Badan Pusat Statistik

harian9 author photo

  


Oleh: Iwan Susatio

Statistisi Muda BPS Kota Medan

 

Salah satu program kerja pemerintah adalah mewujudkan kedaulatan pangan yang sejalan dengan tujuan ke-2 SDGs, Menghilangkan Kelaparan, Mencapai Ketahanan Pangan dan Gizi yang Baik, serta Meningkatkan Pertanian Berkelanjutan

Kesalahan estimasi surplus beras sangat mempengaruhi persediaan beras, yang mengakibatkan harga beras melambung naik, tentunya akan menjadi andil inflasi.

Ketidakakuratan data produksi padi telah diduga oleh banyak pihak sejak 1997. Studi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 1998 telah mengisyaratkan kelebihan estimasi luas panen sekitar 17,07 persen.

Pada kesempatan lain, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengungkapkan sebenarnya tidak ada perbedaan data, misalnya antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan (Kemendag), karena kedua pihak mengacu pada data yang sama, yaitu milik BPS.

Kalaupun ada perbedaan, itu terjadi pada data proyeksi. Ia mengungkapkan data yang dihitung BPS ialah data yang sifatnya sudah terjadi, sedangkan Kementan butuh data perkiraan. Ada sejumlah data yang kita butuhkan, tapi tidak disediakan BPS sehingga mesti hitung sendiri.

Kepala Badan Pengkajian Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP) Kemendag Tjahya Widayanti juga mengklaim penggunaan data di kementeriannya selalu berpatokan pada data BPS. Ia pun mengaku tidak masalah bila survei dan data nantinya hanya melalui satu pintu BPS.

Kemudian BPS pun bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Badan Informasi dan Geospasial (BIG) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), berupaya memperbaiki metodologi perhitungan produksi padi menggunakan metode KSA.

Ada pun perhitungan produksi beras dimulai dengan verifikasi luas lahan baku sawah berdasarkan Ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor: 339/Kep-23.3/X/2018 tanggal 8 Oktober 2018.

Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No.686/SK-PG.03.03/XII/2019 Tanggal 17 Desember 2019 tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah (LBS) Nasional Tahun 2019, seluas  7 463 948 Ha

Selanjutnya, BPS melakukan perhitungan luas panen dengan metode KSA yang dikembangkan BPPT. Pengumpulan data tersebut diambil dari empat peta, yakni peta rupa bumi, peta administrasi, peta lahan baku sawah, dan peta tutupan lahan.

Badan Pusat Statistik juga melakukan pengambilan sampel secara statistik untuk mengetahui fase pertumbuhan padi yang diamati. Dengan pengamatan setiap bulan, BPS mendapatkan data produksi dan potensi hingga tiga bulan ke depan.

Tidak itu saja BPS sudah menambahkan amatan bila lahan sawah yang ditanam bukan padi juga diamati dengan pilihan jenis tanaman: Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Kacang hijau, Ubi kayu, Ubi Jalar, Cabai, Bawang Merah, Kentang, Tembakau, Tebu dan Lain-lain

Dengan metode KSA dapat melihat potensi produksi hingga tiga bulan ke depan, ini akan menggantikan data Angka Ramalam (Aram) yang selama ini digunakan untuk menghitung produksi beras nasional.

Dengan metode KSA ini pengumpulan data dilakukan dengan cara yang lebih obyektif dan modern dengan melibatkan perangkat teknologi didalamnya, sehingga data yang dikumpulkan menjadi lebih akurat dan tepat waktu sehingga pemerintah pun bisa membuat kebijakan nasional dengan tepat. (wp.03)

Komentar Anda

Berita Terkini