Anggota CLC Suarakan Isu Buli dalam Second Regional Conference Towards Ending Violence Against Children During COVID-19

harian9 author photo

 MEDAN| H9
Second Regional Conference towards Ending Violence Against Children During COVID-19 (Konferensi Regional Kedua untuk Mengakhiri Kekerasan Terhadap Anak Selama COVID-19) ang dilangsungkan secara virtual melalui platform zoom (03/11/2021) bertujuan untuk memahami risiko yang dihadapi anak-anak secara online dan bagaimana pengalaman anak-anak menghadapi pandemi Covid-19.


Konfrensi ini berhasil menghimpun beragam pengalaman dan rekomendasi anak untuk mencegah kekerasan dan mengurangi dampak buruk yang dihadapi anak selama pandemi Covid_19. 

Kegiatan ini dihadiri oleh anak dan orag muda dari berbagai negara diantaranya Indonesia, Philifina, Bangladesh dan German. Naila Zafira dan Zaki menjadi perwakilan anak yang berhasil terpilih mengikuti kegitan tersebut, keduanya merupakan anggota CLC (Child Led Campaign) Nasional. 

Naila merupakan anggota CLC (Child Led Campaign) yang berasal dari Medan. Sebelum Naila telah didampingi oleh Yayasan PKPA dalam berbagai isu terkait pencegahan kekerasan terhadap anak dalam program EVAC ( Ending Violance Agains Children) yang didukung oleh Terre Des Hommes (TDH) German.

Pada Second Regional Conference towards Ending Violence Against Children During COVID-19 ini, Naila menjadi salah satu moderator yang mengupas praktek buli yang masih terjadi di Indonesia. 

Narasumber pada sesi yang membahas tentang buli tersebut adalah Zaki, anggota CLC asal cianjur. Dialog yang dilakukan Naila dan Zaki menyebutkan bahwa praktek buli biasanya terjadi secara offline dan berlanjut ke ranah online.

Zaki menyampaikan bahwa tingginya tingkat buli disebabkan karena korban tidak melakukan pelaporan. Keengganan korban melaporkan kasus biasanya diakibatkan karena respon orang tua dan guru yang menyalahkan korban dan korban juga merasa bahwa melapor hanya akan menyebabkan buli semakin intense terjadi. 

Hal inilah yang akhirnya mendorong anak untuk menyusun rekomendasi diantaranya
mendorong pemerintah untuk membentuk tim pencegahan dan penyelesaian terkait perundungan (buli). Tim ini harapannya dapat melatih guru dan orang tua dalam merespon pengaduan terkait buli.

Sejalan dengan penyampain zaki, naila membenarkan bahwa untuk mengatasi buli, platform melapor di sosial media harus mudah dijangkau oleh anak. 

“Tidak hanya itu, ternyata banyak pihak yang harus terlibat supaya pencegahan dan penanganan perundungan. Harapannya semua pihak bisa ambil bagian dalam proses pencegaha tersebut.” Paparnya
Komentar Anda

Berita Terkini