AWS dan Midtrans Berkolaborasi Targetkan 10 Ribu UMKM Indonesia Capai Pertembuhan Ekonomi

HARIAN9 author photo


JAKARTA| H9
Bulan Mei lalu, AWS mengumumkan kolaborasi dengan penyedia payment gateway Midtrans, yakni platform Pojok Usaha yang memampukan UMKM untuk mengadopsi teknologi serta layanan cloud AWS dengan mudah. Melalui platform ini, mereka juga bisa mengakses solusi pembayaran dan bisnis dari Midtrans.

Dalam tahun pertama berjalannya Pojok Usaha, AWS dan Midtrans menargetkan lebih dari 10 ribu UMKM Indonesia agar dapat mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kehadirannya di dunia maya, dan menciptakan efisiensi serta sumber-sumber pemasukan baru dengan cara memanfaatkan kekuatan teknologi.

Jumi Sanoprika, pendiri Mutia Karya, menceritakan tentang tantangan dan peluang, Ketika pertama kali dimulai oleh Jumi Sanoprika, Mutia Karya merupakan warung sembako yang menjual beras dan berbagai kebutuhan sehari-hari di Medan. Bertolak dari asal-usul yang cukup sederhana tersebut, siapa yang menyangka bahwa Mutia Karya sedang mengembangkan sebuah platform yang memampukan sesama pelaku warung untuk terhubung dengan ekosistem supplier hingga logistik yang lebih luas, jelasnya, Rabu (10/11/2021).

Katanya Perjumpaan pertama Mutia Karya dengan dunia digital adalah ketika bergabung dengan GoStore, layanan pembuat situs web e-commerce milik Gojek. Jumi pun kemudian mengikuti beberapa seri webinar, salah satunya mengenai Pojok Usaha. 

"Dari sanalah berkenalan dan membuat keputusan untuk masuk ke dalam platform Pojok Usaha. Selama pandemi, Jumi melihat bahwa bisnis UMKM seperti warung sangat terpukul. Bahkan sebelum pandemi pun, ia melihat ada tantangan-tantangan yang dihadapi warung-warung sembako konvensional untuk mengembangkan skala usahanya," ucap Jumi.

Jumi menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam upaya pengembangan usaha adalah bagaimana terhubung langsung dengan pabrikan atau kilang. Di satu sisi, dengan terhubung langsung dengan pabrikan atau kilang, warung bisa mendapatkan harga yang lebih murah serta produk yang lebih beragam, ujarnya.

Namun, lanjut Jumi, ini juga tidak mudah, karena warung dituntut untuk mencapai standar-standar yang telah ditetapkan oleh pabrikan atau kilang. 
“Selain Mutia Karya sendiri, kami juga bercita-cita memampukan sesama pengusaha warung agar bisa berekspansi untuk menjangkau dan melayani daerah-daerah lain,” papar Jumi. 

Terlebih dengan adanya dobrakan-dobrakan baru dalam bidang logistik, antara lain sharing warehouse, bekerja sama dengan reseller untuk menghadirkan pengantaran yang lebih cepat, dan banyak lagi. Dengan platform bernama Mikrolet yang tengah dikembangkan Jumi dan tim Mutia Karya di atas infrastruktur teknologi AWS, para pelaku warung kini bisa langsung terhubung dengan pabrikan atau kilang secara langsung.

Jumi menyebutkan, manfaat yang didapatkan dari Pojok Usaha, Awalnya, tidak memiliki latar belakang sama sekali dalam coding, namun kemudian mengikuti program beasiswa yang diselenggarakan AWS dan Dicoding, katanya.

Ia juga rajin mengikuti pelatihan AWS lainnya seperti Cloud Practitioner Essentials, Security Essentials, dan bahkan baru-baru ini Solutions Architect Essentials. “AWS membantu saya memahami teknologi yang menjadi fondasi bagi bisnis kami sendiri,” tuturnya.

Dari sisi teknologi, Mutia Karya menggunakan Amazon Lightsail yaitu virtual private server (VPS) yang mudah digunakan dengan paket bulanan yang hemat biaya untuk membangun website Mutia Karya serta Amazon Quicksight sebagai layanan business intelligence untuk membantu analisa data.

Untuk kebutuhan layanan email Mutia Karya yang aman dan terkelola dengan dukungan aplikasi desktop dan smartphone, Jumi menggunakan Amazon WorkMail. Dukungan WorkMail memudahkan Mutia Karya dalam menggunakan Amazon Simple Email Service (SES) untuk melayani email marketing dan membagikan kisah perjalanan transformasi digitalnya sendiri bersama ekosistem Pojok Usaha.

Rencana jangka panjang:

Dalam waktu 5 hingga 10 tahun ke depan, Jumi sendiri berharap Mutia Karya bisa membantu petani secara langsung, bahkan keseluruhan ekosistem tanpa terkecuali. “Meskipun go international itu penting, kami melihat bahwa UMKM juga harus bisa semakin memperkuat pasar domestik. Kami berharap, Mutia Karya dapat memberdayakan semakin banyak UMKM dan pelaku usaha di daerah yang terkendala baik dari sisi pemasokan maupun logistik,” sebut Jumi.

Ia juga mendukung sesama pelaku UMKM untuk ikut menjalankan transformasi digital lewat platform Pojok Usaha. Di sana, para pengusaha bisa mendapatkan banyak sekali ilmu dan pembelajaran, dari bagaimana mengoptimalkan efisiensi operasional, melakukan perluasan pasar, hingga menjalin kerja sama dengan ekosistem. 

“Saya memiliki keyakinan bahwa dengan go digital dan berinovasi, sebuah UMKM sekelas warung sembako pun mampu melewati masa-masa krisis. Terlebih, UMKM bisa mengembangkan usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat kepada orang banyak,” imbuhnya.

Selain itu Riyan Firdaus, IT Manager Livina Global Teknologi, menjelaskan, sebuah UMKM asal Lampung yang bergerak di bidang jasa konsultasi IT umum sejak tahun 2012. 
Namun, sejak tahun ini, Livina Global Teknologi telah mengembangkan sayap bisnisnya dengan meluncurkan aplikasi yang dinamakan Mostore. Aplikasi ini memampukan para pelaku UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman, kerajinan tangan, dan banyak lagi untuk mempromosikan produk-produk mereka di berbagai platform digital dengan mudah. Kini, sekitar 200 UMKM sudah bergabung di Mostore, ujarnya.

Menurut Riyan, tantangan pertama adalah kendala dari segi infrastruktur, dari internet hingga listrik yang bisa tiba-tiba padam tanpa pemberitahuan. Kendala ini menciptakan masalah downtime yang tidak diinginkan dan tentunya sangat mengganggu berjalannya bisnis.

Tantangan kedua, kebanyakan UMKM masih awam di bidang digital marketing. Mereka hanya mengetahui cara beriklan dan berjualan melalui WhatsApp dan Facebook. Mereka pun mengalami kesulitan dari segi bisnis, seperti tata kelola produk, pengelolaan persediaan barang/stok, dan pemasaran. 

Sementara, lebih dari 94 ribu UMKM yang terdaftar di Lampung ini sesungguhnya tidak kalah saing jika dilihat dari produk yang ditawarkan. Maka, yang mereka butuhkan adalah platform dan pendamping untuk membantu mereka berhasil di belantara digital, jelasnya.

Riyan menambahkan, manfaat yang didapatkan dari Pojok Usaha adalah
dengan latar belakang sebagai konsultan IT, Riyan sudah lumayan menguasai seluk-beluk teknisnya. Namun, ia pribadi merasa sangat terbantu oleh AWS dan Pojok Usaha, kami mendapatkan banyak sekali wawasan. Mulai dari pengelolaan produk hingga pemasaran, kami banyak belajar sehingga manajemen kami jauh lebih baik sekarang. Terlebih, kami dapat membantu para pelaku UMKM yang tergabung dalam aplikasi kami Mostore agar mereka bisa membenahi dan memajukan bisnis mereka sendiri,” tuturnya. Bahkan, Livina Global Teknologi sendiri pun mampu mencatat rerata pertumbuhan pemasukan sebesar 5 kali lipat," ungkap Riyan.

Riyan menuturkan bahwa aplikasi Mostore sangat terbantu dengan Amazon Elastic Cloud Compute atau EC2. 
Amazon EC2 memiliki kegunaan yakni meningkatkan kapasitas komputasi hanya dalam hitungan menit, kapanpun dibutuhkan. Solusi ini meningkatkan pemasaran serta interaksi antara Mostore dengan user, dan juga antara user dengan pelanggan mereka masing-masing, yang jauh lebih mulus. 

Kemudian, lanjutnya, seperti yang disebutkan sebelumnya, salah satu masalah utama di Lampung adalah infrastruktur yang belum memadai. Ini menyebabkan para pelaku sering mengeluh tentang downtime. Namun, Riyan dan timnya mampu menjajikan uptime yang jauh lebih tinggi sejak beralih ke cloud dan menggunakan EC2 untuk scale up dengan sangat cepat.

"Selain EC2, Mostore juga menggunakan Amazon Simple Storage Service (S3), khususnya S3 Bucket untuk penyimpanan gambar. Aplikasi Mostore sendiri membutuhkan kapasitas penyimpanan yang tinggi dan mumpuni, mengingat terdapat sekitar 200 pelaku UMKM yang telah tergabung. Bahkan, satu UMKM saja bisa memiliki lebih dari 100 produk yang ditawarkan. Keadaan ini tentu menuntut penggunaan teknologi penyimpanan yang andal. Selain itu, Livina Global Teknologi juga menggunakan Amazon Relational Data Service (RDS) agar tata kelola data semakin baik," jelas Riyan.

Rencana jangka panjang, Riyan menceritakan, rencana Livina Global Teknologi adalah mengembangkan aplikasi Mostore ini menjadi sebuah aplikasi yang komprehensif. Misalnya, jika seorang pelaku UMKM membutuhkan supplier, investor, coaching, hingga mencari pegawai baru, semuanya bisa dilakukan dalam satu aplikasi. 

“Harapan kami adalah menyediakan suatu platform yang mudah dan nyaman bagi UMKM untuk menunjang berbagai kebutuhan bisnisnya, tentu dengan menggunakan teknologi cloud AWS melalui Pojok Usaha. Selain itu, dengan mengembangkan bisnis para pelaku UMKM tersebut, Livina Global Teknologi juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan dan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran, khususnya di Lampung,” tutup Riyan.

Gunawan Susanto, Country Manager, Indonesia, AWS mengatakan, “Kami bangga sekali dengan cerita Mutia Karya dan Livina Global Teknologi, karena layanan, infrastruktur, dan dukungan yang dihadirkan AWS dimaksudkan untuk memberdayakan pelaku usaha dari segala skala bisnis untuk menjawab isu-isu sosio-ekonomi, sekarang dan di masa mendatang. Berawal dari bisnis konvensional, kini keduanya telah bertransformasi menjadi usaha yang inovatif dan bahkan dapat menginspirasi dan memberdayakan sesama pelaku UMKM lainnya,” tutur Gunawan Susanto, Country Manager, Indonesia, AWS. 

“Kami tidak bisa menjangkau semua pelaku UMKM seorang diri. Maka, melalui kerja sama dengan pemberdaya ekosistem seperti Mutia Karya dan Livina Global Teknologi, niscaya kami akan menciptakan efek domino yang positif bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

Lebih lanjut, Gunawan ingin mematahkan asumsi bahwa digitalisasi itu mahal dan terbatas pada mereka yang memiliki modal besar. 
Ia menegaskan, AWS percaya bahwa semua bisnis dari kelas enterprise besar, startup, UMKM, hingga institusi pemerintahan bisa memanfaatkan teknologi cloud untuk berinovasi. 

Semangat tersebut pula yang mendorong AWS untuk berkolaborasi dengan Midtrans untuk meluncurkan platform Pojok Usaha yang memang dirancang khusus bagi pelaku UMKM.

 “Cerita-cerita seperti ini semakin memperkokoh komitmen kami bahwa AWS ada untuk Indonesia, dan AWS pun ada untuk komunitas-komunitas terkecil, termasuk pelaku UMKM. Kehadiran kami ditegaskan salah satunya lewat platform Pojok Usaha yang merupakan hasil kolaborasi dengan Midtrans ini,” imbuh Gunawan.

Kesungguhan komitmen AWS bagi Indonesia akan dimantapkan pula di penghujung tahun 2021/awal tahun 2022 nanti dengan infrastruktur Jakarta Region. Dengan Region terbaru ini, setiap pelaku usaha dan pemangku kepentingan bisa menjalankan aplikasi mereka secara lokal, melayani pelanggan dan pengguna di Indonesia dan seluruh Asia dengan latensi yang lebih rendah, dan mengakses seluruh teknologi berbasis cloud yang ditawarkan AWS.(pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini