Bekal Milenial dan Gen Z dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

harian9 author photo


 JAKARTA| H9
Milenial dilihat dapat memiliki kontribusi besar dalam membantu meningkatkan ekonomi nasional yang sedang melambat. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si, mengatakan bahwa akibat pandemi COVID-19, terjadi perlambatan ekonomi sebesar 2,9% sehingga meningkatkan debit anggaran pendapatan belanja negara pada tahun 2020 sebesar 6,27%, katanya di Jakarta, Sabtu (13/11/2021). 

Penurunan ini lanjut Anton, dikarenakan pandemi COVID-19 memaksa para pelaku bisnis menghentikan usahanya yang juga mengakibatkan pada tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Beliau memaparkan data dari Kementerian Tenaga Kerja mengenai jumlah karyawan yang dirumahkan berjumlah 212.344 orang. COVID-19 tidak hanya mempengaruhi pelaku bisnis besar, namun juga mikro dan menengah. Maka dari itu, perlunya tindakan untuk mencegah kemiskinan yang lebih lanjut akibat COVID-19. 

"Hal ini karena kemiskinan dapat meningkatkan kerawanan dan konflik sosial. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan entrepreneur atau kewirausahaan pada milenial. Hal ini dikarenakan angka kerja di Indonesia 70% berasal dari kaum milenial, sedangkan 30% berasal dari umur tidak produktif pada rentang tahun 2020-2030. Beliau mengatakan apabila kaum milenial menaruh harapan pada lowongan kerja yang ada, maka angka pengangguran akan semakin besar. Sehingga kaum milenial perlu berpikir lebih luas lagi untuk tidak bergantung pada bekerja di tempat formal, melainkan berwirausaha, " ujarnya. 

Anton menambahkan, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah bisnis online, karena bisnis online dilihat mengalami peningkatan di era digital ini. Terutama, dengan angka pengguna internet yang didominasi oleh generasi milenial, generasi milenial mampu dengan lebih mudah menggunakan internet dan aplikasi online untuk menjalankan bisnisnya. Untuk mampu menjalankan bisnis secara online tersebut, generasi milenial perlu skills yaitu hard skills dan soft skills. Salah satu contoh dari soft skills adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, agar tidak terjadi hambatan ketika bekerja dengan orang yang berasal dari etnis, budaya, ekonomi, dan keyakinan yang berbeda. Generasi milenial sendiri saat ini masih menggunakan media sosial sebagai sarana untuk melihat influencer, yang menjadikan mereka lebih hedonisme dikarenakan tuntutan gaya hidup yang ada, ucapnya. 

Perilaku ini dapat mengarahkan pada masalah mental seperti kecemasan dan nantinya dapat mengarahkan pada perilaku yang kurang baik seperti bullying, tawuran, hingga bunuh diri. Maka dari itu, dibutuhkannya kebijakan dan bimbingan bagi pengguna media sosial agar dapat menggunakan media sosial dengan baik. Kaum milenial diharapkan mampu melakukan wirausaha dan membuka lapangan kerja baru sehingga bisa mengurangi beban pengangguran yang ada di Indonesia.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Gun Gun Siswadi, sebagai pemateri pertama pada webinar ini mengatakan, berdasarkan Indonesian Digital Report 2021, menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta orang atau 73,7 persen dari total populasi 274,9 juta orang. Ini disebabkan karena terjadi transformasi digital dalam kehidupan masyarakat, antara lain dari konvensional menjadi digital. Maka dari itu, dibutuhkan literasi digital untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital, paparnya. 

Katanya, Salah satu cara meningkatkan kapasitas dan kemampuan generasi muda adalah dengan ekonomi kreatif. Inti dari ekonomi kreatif meliputi kreativitas, pengetahuan, ide dan teknologi digital, sehingga dapat  menjalankan perekonomian yang mengutamakan kreativitas dan informasi. Beliau mengatakan bahwa terdapat 16 sektor dari ekonomi kreatif yaitu aplikasi dan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. 

Ekonomi kreatif dilihat penting karena memiliki banyak dampak positif, diantaranya berkontribusi pada ekonomi negara, menciptakan lapangan kerja, sebagai salah satu citra dan identitas bangsa, meningkatkan kualitas hidup dan toleransi sosial, serta meningkatkan tingkat inovasi dan kreativitas. Salah satu kegiatan ekonomi kreatif yang ada adalah bisnis online. Bisnis online sendiri memiliki beberapa kelebihan seperti dapat menjangkau pasar yang luas, dapat memangkas biaya, tidak harus adanya lokasi toko, serta memiliki potensi pendapatan tidak terbatas. Maka dari itu, UMKM konvensional harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, sehingga dapat memberikan nilai tambah tersendiri. 

Salah satu caranya adalah dengan UMKM go online, yaitu sebuah upaya peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital untuk berjualan secara online dan membantu meningkatkan skala bisnis serta pendapatan pelaku UMKM. Beberapa strategi yang dapat dilakukan UMKM untuk menjadi online adalah dengan memperkuat sistem digital, memanfaatkan pemasaran daring via media sosial, laman dan marketplace, berkolaborasi dengan mitra bisnis, menambah tipe produk, serta meningkatkan inovasi produk dan pelayanan. 

Maka dari itu, dibuatnya “Gerakan Ayo UMKM Jualan Online” untuk meningkatkan kesadaran (awareness) UMKM pentingnya pemanfaatan Teknologi Digital. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain roadshow, grebeg pasar, dan ramadhan express.Pendamping Digital UMKM Kabupaten Bogor, Agus Mulyawan SH, sebagai pemateri kedua memaparkan momentum Kebangkitan Nasional sudah di depan mata. Pasca terpuruk akibat pandemi COVID-19, tahun 2021 diprediksi akan menjadi momen keberhasilan upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada semua lini, termasuk sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Ekonomi kreatif di Indonesia terus berjuang menjadi garda terdepan mengambil bagian dalam momentum Kebangkitan Nasional. Upaya ini dilakukan dengan mengadakan sejumlah program unggulan guna mempercepat pemulihan sektor ekonomi kreatif. 

Tantangan terbesar saat pandemi datang adalah berubahnya sistem penjualan pada industri kreatif global. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak membeli perlengkapan secara luar jaringan (luring), saat pandemi sistem jual-beli beralih ke dalam jaringan (daring). Hal ini memberikan tantangan besar bagi sektor ekonomi kreatif tanah air. Pasalnya, tidak semua pelaku ekonomi kreatif di Indonesia memahami metode daring. Sehingga pada awal masa pandemi berlangsung, tidak sedikit usaha kreatif yang terpaksa gulung tikar karena minimnya permintaan. Namun, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf atau Baparekraf) tidak tinggal diam akan hal tersebut. Pemerintah terus memutar otak untuk mengubah tantangan ini menjadi kesempatan. 

Akhirnya tercetuslah program bimbingan terkait bisnis secara daring bagi para pelaku ekonomi kreatif.Salah satu program yang diluncurkan terkait bisnis secara daring adalah #BeliKreatifLokal. Program yang dijalankan sejak April 2020 ini telah berhasil menyerap 6.738 tenaga kerja, serta berhasil membangun kolaborasi dengan 6 e-commerce, dan 2 jasa transportasi daring. Meninjau dari keberhasilan program #BeliKreatifLokal di Jabodetabek, Kemenparekraf atau Baparekraf melebarkan sayap dengan meluncurkan Beli Kreatif Danau Toba. Sama dengan program pendahulunya, program ini dilakukan untuk memberikan pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif lokal. 

Selain upaya pendampingan langsung, Kemenparekraf atau Baparekraf juga memberikan bantuan berupa alokasi hibah sesuai dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional. Program-program tersebut antara lain adalah stimulus kredit ekonomi kreatif, KUR dan UMI, relaksasi pajak, serta penjaminan korporasi padat karya. Belakangan, Kemenparekraf atau Baparekraf terus mendukung terealisasinya Program Padat Karya di sektor parekraf. Fokus pada program padat karya ini berada di pulau Bali, dengan mencakup pembukaan hingga 150 ribu lapangan pekerjaan. Diharapkan dengan terus berjalannya program ini,  semakin banyak pelaku ekonomi kreatif lokal yang sukses dan dapat menyerap banyak tenaga kerja baru sehingga dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi nasional.(pp-04) 

Komentar Anda

Berita Terkini