Kreatif di Masa Pandemi

harian9 author photo

 

JAKARTA| H9
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., mengatakan jika kemiskinan yang meningkat akibat pandemi COVID-19 tidak boleh dibiarkan karena dapat menimbulkan konflik sosial. Berdasarkan data dari Kementerian Tenaga Kerja, jumlah karyawan yang dirumahkan berjumlah 212.344 orang. Hal ini dikarenakan minimnya lowongan pekerjaan, sehingga jika generasi milenial bergantung pada lowongan yang ada, akan semakin meningkatkan angka kemiskinan. Kaum milenial perlu berpikir lebih luas lagi untuk tidak bergantung bekerja di tempat formal, melainkan berwirausaha di industri kreatif, jelasnya di Jakarta, Jumat (26/11/2021). 

Maka dari itu, lanjutnya kaum milenial perlu memiliki ide-ide cemerlang dalam menghadapi pandemi COVID-19. Beliau menyebutkan tiga hal yang perlu diupayakan oleh industri kreatif, yaitu memanfaatkan teknologi dan informasi, melakukan kolaborasi, dan meningkatkan kompetensi sehingga ide kreatif dapat terus muncul. Beberapa contoh industri kreatif yang berkaitan dengan teknologi dan informasi adalah arsitektur, desain, video, tv, radio, dan riset. Kemampuan kreativitas yang baik  dapat membantu individu dalam menghadapi perubahan dunia digital, ujar Anton. 

Akademisi UIN Syarif Hidayatullah, Dr. Drs. Ismail Cawidu, M.Si, sebagai pemateri pertama pada webinar hari ini menyampaikan jika teknologi informasi adalah produk kreatif dan keterampilan. Pemanfaatannya pun hanya membutuhkan ide kreatif dan ketekunan untuk memiliki keterampilan yang dipelajari dari internet itu sendiri, ucapnya. 

Menurut beliau, peradaban digital merupakan pertarungan kreativitas dan keterampilan. Tanpa kreativitas dan keterampilan, pemanfaatan internet menjadi kontra produktif  seperti penggunaan internet yang konsumtif, mudah tertipu, mudah menyebarkan berita hoax, atau terlalu takut dalam memanfaatkan ruang digital. Sehingga, generasi muda harus kreatif untuk menghindari ancaman disrupsi, yaitu fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya dari manual ke digital. Akibatnya, jika individu memilih bertahan dengan cara lama akan kalah dalam persaingan global. Maka dari itu, masyarakat perlu merubah mindset atau pola pikir menjadi lebih kreatif sehingga dapat menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri, katanya. 

CFO & Business Strategist Mindplace Studio, Ahmad Taufiq, sebagai pemateri kedua pada webinar hari ini menjelaskan jika kreativitas adalah tindakan mengubah ide-ide baru dan imajinatif menjadi kenyataan. Kreativitas dicirikan oleh kemampuan memahami dunia dengan cara baru, menemukan pola berhubungan, dan menghasilkan solusi. Kreativitas melibatkan dua proses, yaitu berpikir dan memproduksi. Sehingga, jika seseorang memiliki ide tetapi tidak mampu mewujudkannya, maka orang tersebut hanyalah orang imajinatif, bukan kreatif. Beliau kemudian menyebutkan kunci dari kreativitas, yaitu mengembangkan ide baru dan imajinatif menjadi kenyataan, memahami realitas dengan cara baru, menemukan pola tersembunyi, membuat hubungan antara fenomena yang tampaknya tidak berhubungan, dan menghasilkan solusi. 

"Terdapat lima tahap dari kreativitas yaitu, (1) Preparation, yaitu fase Inspirasi, (2) Incubation, yaitu proses menyerapnya ide dan pemrosesan ide, (3) Insight, yaitu mendapatkan momen eureka, (4) Evaluation, yaitu melihat kembali ide dan memastikan, dan (5) Elaborasi, yaitu menyajikan dan mengeksekusi ide-ide ke dunia nyata. 
Selanjutnya, kreativitas ternyata memiliki peran dalam membantu individu beradaptasi di era digital, terutama ketika saat ini sedang terjadinya transformasi digital. Diluar berbagai dampak negatif yang ditimbulkan akibat pandemi COVID-19, Institute of Social Economic Digital (ISED), berpandangan pandemi COVID-19 membawa perubahan besar secara cepat menuju era digitalisasi, "ungkapnya.

Ahmad menyebutkan pandemi memberikan dampak percepatan (akselerasi) masyarakat menuju era digitalisasi, yaitu sebuah era dimana terjadi banyak disrupsi dan cara pandang baru tentang bisnis. Maka dari itu, perlu dibangungnya perilaku kreatif agar individu mampu menghadapi era digitalisasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu perilaku kreatif antara lain, (1) Association, yaitu menghubungkan banyak pertanyaan, masalah, atau ide dari bidang yang tidak terkait, (2) Questioning, yaitu mengajukan pertanyaan yang menantang kebijaksanaan umum, (3) Observing, yaitu meneliti perilaku pelanggan, pemasok, dan pesaing untuk mengidentifikasi cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, (4) Networking, yaitu bertemu orang-orang dengan ide dan perspektif yang berbeda, dan (5) Experimenting, yaitu membangun pengalaman interaktif dan memprovokasi tanggapan yang tidak lazim untuk melihat wawasan apa yang muncul. Diharapkan dengan meningkatkan kreativitas, setiap individu mampu menghadapi dan menjalani era digital dengan lebih baik, pungkasnya. (pp-04) 
Komentar Anda

Berita Terkini