Peluang Bisnis Digital Pasca Pandemi

HARIAN9 author photo


 JAKARTA| H9
Pandemi COVID-19 memaksa penduduk dunia beralih ke internet sebagai jembatan mempertahankan peradaban.  Dr. Drs. Ismail Cawidu, M.Si, Tenaga Ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, sebagai pemateri pertama pada webinar hari ini mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19 sendiri, terjadi lonjakan pemakaian internet sebesar 15 - 20% dikarenakan semua kegiatan mulai dari sekolah hingga bekerja dilakukans secara online. 


"Sehingga perlu ditingkatkannya infrastruktur TIK dengan tujuan untuk menjamin pemenuhan hak berkomunikasi di seluruh Indonesia. Presiden Joko Widodo sendiri memberikan arahan untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia. Maka dari itu, pemerintah melakukan perencanaan digitalisasi nasional dengan membuat proyek percepatan layanan internet untuk 12.548 Desa/Kelurahan yang belum terjangkau 4G. Tentunya, transformasi digital ini tidak luput dari tantangan yang harus dihadapi, diantaranya belum meratanya infrastruktur TIK, kesiapan SDM digital, perlunya dukungan sarana teknologi, perlunya aplikasi dan platform media sosial, konten, dan regulasi yang jelas, " ujar Ismail di Jakarta, Kamis (25/11/2021). 


Ditambahkannya, pada masa pandemi COVID-19, teknologi informasi memiliki peran sangat di berbagai sektor, termasuk sektor ekonomi. Sektor TIK dilihat dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional melalui ekonomi digital. Setelah Pandemi terpantau terdapat 14,6 Juta UMKM yang beralih ke digital. Namun, pemerintah tetap menargetkan sebanyak 30 Juta UMKM yang beralih ke digital tahun 2024. Sehingga, masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam bisnis digital.

Menurut pemateri, dunia digital mengutamakan produk yang kreatif sehingga pemanfaatannya mengandalkan kreativitas. Maka dari itu, kreativitas setiap orang perlu diasah kembali agar dapat melahirkan keterampilan-keterampilan baru. Tanpa keterampilan yang baik, pemanfaatan internet tidak dapat maksimal dan dapat menjadi kontraproduktif seperti penggunaan internet yang konsumtif, mudah tertipu, mudah menyebarkan berita hoax, atau terlalu takut dalam memanfaatkan ruang digital. Namun, dengan kreativitas dan keterampilan, internet dapat digunakan sebagai sarana untuk berbisnis. 

"Beberapa peluang bisnis yang dapat dilakukan di internet antara lain jasa konsultasi, jasa desain, jasa penerjemah, fotografi, admin media sosial, blogger, youtuber, dan yang lainnya. Sehingga masyarakat perlu merubah mindset atau pola pikir menjadi lebih kreatif sehingga dapat menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri," Paparnya. 

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., sebagai pemateri kedua pada webinar hari ini mengatakan pada tahun 2020, perekonomian Indonesia memasuki jurang resesi, baik dari sisi permintaan maupun dari sisi penawaran yang diakibatkan oleh pandemi Covid 19. 

Jumlah pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 9.77 juta pada Agustus 2020 dan pada Maret 2020 rakyat miskin meningkat sebesar menjadi 26.42 juta jiwa atau 9,22 persen dari total penduduk Indonesia. Penurunan ini terjadi karena adanya pembatasan sosial yang dilakukan untuk mengurangi persebaran COVID-19 sehingga banyak bisnis offline yang tidak mampu lagi melanjutkan usahanya. 

Pandemi membuat semua orang beradaptasi dengan jarak sosial dan bekerja dari rumah. Pola konsumsi masyarakat pun berubah drastis dari yang biasanya dilakukan secara tatap muka akan berlanjut terus hingga pasca pandemi, ucapnya. 

Ia menambahkan, Pelaku usaha diharapkan jeli dalam membaca peluang usaha untuk perubahan cara usaha dengan menyesuaikan kebiasaan baru masyarakat. Menurut narasumber, terdapat beberapa strategi usaha yang dapat diperhatikan diantaranya yaitu melihat peluang usaha pasca pandemi, memperhatikan tren terkini dan menganalisa peluang yang terlihat, meneliti pasar dan menetapkan target bisnis, dan mengoptimalkan media sosial serta aplikasi marketplace. 

Dengan dipercepatnya transformasi digital melalui ekonomi digital, diharapkan akan mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju dan kuat di 2045.

Pakar Telematika Nasional, KRMT Roy Suryo, sebagai pemateri ketiga pada webinar hari ini menyampaikan pandemi COVID-19 mempercepat proses digitalisasi. Beliau memaparkan hasil survey yang dilakukan oleh We Are Social pada tahun 2021, yang menunjukan jika pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 4,66 juta jiwa, atau sebasar 59,5% dari total populasi.

 Teknologi informatika saat ini memiliki peran penting, terutama saat pandemi COVID-19. Beberapa peran teknologi saat pandemi COVID-19 antara lain adalah, (1) Mempercepat penyampaian informasi, (2) Penggunaan big data untuk pengambilan keputusan, misalnya adalah data populasi persebaran COVID-19 atau data distribusi bantuan, (3) Menggunakan e-commerce dan  dan jasa kurir sebagai solusi pemenuhan kebutuhan, dan (4) Membantu dalam penyesuaian terhadap kebiasaan baru, seperti sekolah dan bekerja yang dilakukan secara daring. 

"Dengan adanya pandemi COVID-19 dan digitalisasi, peluang kerja juga berubah dari sebelumnya. Beberapa pekerjaan yang sudah ada seperti data entry, akuntan, kurir, pengacara, dan pekerja pabrik dilihat lebih mudah digantikan," katanya.

Sedangkan pekerjaan seperti ahli robotik, ahli SDM, arsitek, serta pekerjaan di bidang pendidikan dilihat mengalami kenaikan, atau pekerjaan tersebut semakin dibutuhkan di era digital pasca pandemi ini. 

Maka dari itu, pelaku digital harus memiliki berjiwa “Entrepreneurship” yaitu kreatif, inovatif, mampu memanfaatkan peluang, mampu membuat perubahan, serta mampu memberikan nilai tambah bagi diri sendiri & orang lain. 

"Timbulnya peluang baru ini dapat dimanfaatkan untuk membangun memperbaiki pendidikan, bisnis, layanan pemerintahan, dan demokrasi, " jelas Roy. 

Namun, lanjut Roy, tidak dapat dihindari jika kemajuan teknologi juga meningkatkan kejahatan berbasis online seperti perdagangan narkoba / obat ilegal online (drugs trafficking online), kejahatan bidang ekonomi melalui email (email fraud) & website (website fraud), perdagangan manusia (human trafficking), terorisme berupa ajaran-ajaran radikalisme melalui media sosial, kejahatan menggunakan malware atau illegal access, dan yang lainnya. 

Maka dari itu, pemateri memberikan beberapa tips untuk menggunakan internet dengan aman diantaranya, (1) Menggunakan password yang baik (kombinasi huruf dan angk), (2) Mengganti password secara periodik, (3) Menggunakan password yang sulit, (4) Tidak sembarangan mengunduh data jika data tersebut tidak berasal dari sumber yang dapat dipercaya, (5) menggunakan 2FA (Two Factor Authentication), (6) Selalu log-out setelah menggunakan media sosial, dan (7) Menggunakan one-time-password / token. 

Dengan begini diharapkan setiap orang mampu berinternet dengan lebih aman, pungkas Pakar Telematika Nasional, KRMT Roy Suryo.(pp-04)  berubah menjadi  transaksi secara daring. 

"Sehingga, ini merupakan kesempatan yang baik untuk membuat keputusan usaha, mengingat adaptasi kebiasaan baru ini nampaknya akan berlanjut terus hingga pasca pandemi, " ucapnya. 

Ia menambahkan, Pelaku usaha diharapkan jeli dalam membaca peluang usaha untuk perubahan cara usaha dengan menyesuaikan kebiasaan baru masyarakat. Menurut narasumber, terdapat beberapa strategi usaha yang dapat diperhatikan diantaranya yaitu melihat peluang usaha pasca pandemi, memperhatikan tren terkini dan menganalisa peluang yang terlihat, meneliti pasar dan menetapkan target bisnis, dan mengoptimalkan media sosial serta aplikasi marketplace. 

"Dengan dipercepatnya transformasi digital melalui ekonomi digital, diharapkan akan mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju dan kuat di 2045, " kata Anton. 

Pakar Telematika Nasional, KRMT Roy Suryo, sebagai pemateri ketiga pada webinar hari ini menyampaikan pandemi COVID-19 mempercepat proses digitalisasi. Beliau memaparkan hasil survey yang dilakukan oleh We Are Social pada tahun 2021, yang menunjukan jika pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 4,66 juta jiwa, atau sebasar 59,5% dari total populasi. Teknologi informatika saat ini memiliki peran penting, terutama saat pandemi COVID-19. Beberapa peran teknologi saat pandemi COVID-19 antara lain adalah, (1) Mempercepat penyampaian informasi, (2) Penggunaan big data untuk pengambilan keputusan, misalnya adalah data populasi persebaran COVID-19 atau data distribusi bantuan, (3) Menggunakan e-commerce dan  dan jasa kurir sebagai solusi pemenuhan kebutuhan, dan (4) Membantu dalam penyesuaian terhadap kebiasaan baru, seperti sekolah dan bekerja yang dilakukan secara daring. 

"Dengan adanya pandemi COVID-19 dan digitalisasi, peluang kerja juga berubah dari sebelumnya. Beberapa pekerjaan yang sudah ada seperti data entry, akuntan, kurir, pengacara, dan pekerja pabrik dilihat lebih mudah digantikan. Sedangkan pekerjaan seperti ahli robotik, ahli SDM, arsitek, serta pekerjaan di bidang pendidikan dilihat mengalami kenaikan, atau pekerjaan tersebut semakin dibutuhkan di era digital pasca pandemi ini. Maka dari itu, pelaku digital harus memiliki berjiwa “Entrepreneurship” yaitu kreatif, inovatif, mampu memanfaatkan peluang, mampu membuat perubahan, serta mampu memberikan nilai tambah bagi diri sendiri & orang lain. Timbulnya peluang baru ini dapat dimanfaatkan untuk membangun memperbaiki pendidikan, bisnis, layanan pemerintahan, dan demokrasi, " jelas Roy. 

Namun, lanjut Roy, tidak dapat dihindari jika kemajuan teknologi juga meningkatkan kejahatan berbasis online seperti perdagangan narkoba / obat ilegal online (drugs trafficking online), kejahatan bidang ekonomi melalui email (email fraud) & website (website fraud), perdagangan manusia (human trafficking), terorisme berupa ajaran-ajaran radikalisme melalui media sosial, kejahatan menggunakan malware atau illegal access, dan yang lainnya. 

"Maka dari itu, pemateri memberikan beberapa tips untuk menggunakan internet dengan aman diantaranya, (1) Menggunakan password yang baik (kombinasi huruf dan angk), (2) Mengganti password secara periodik, (3) Menggunakan password yang sulit, (4) Tidak sembarangan mengunduh data jika data tersebut tidak berasal dari sumber yang dapat dipercaya, (5) menggunakan 2FA (Two Factor Authentication), (6) Selalu log-out setelah menggunakan media sosial, dan (7) Menggunakan one-time-password / token. Dengan begini diharapkan setiap orang mampu berinternet dengan lebih aman, pungkas Pakar Telematika Nasional, KRMT Roy Suryo.(pp-04) 
Komentar Anda

Berita Terkini