Pemulihan Ekonomi Nasional: Rise of the Millennials & Gen-Z

harian9 author photo

 

JAKARTA| H9
Pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap kemiskinan yang terjadi dan tidak boleh terus menerus dibiarkan terjadi. Kemiskinan yang meluas itu lah dapat menyebabkan potensi kerawanan dan konflik sosial. 

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si. menyatakan bahwa diperlukannya strategi pencegahan perlu dilakukan agar potensi kerawanan dan konflik sosial tersebut tidak terjadi. Implementasi dari strategi yang dijalankan dapat mencegah kemiskinan dengan menumbuhkan kemampuan entrepreneur pada generasi millenials. Generasi milenial tersebut dapat menjadi kontribusi yang penting untuk menggerakan ekonomi di Indonesia, ungkapnya di Jakarta, Minggu (14/11/2021). 

Ditambahkannya, bahwa Pandemi COVID-19 ini membuat keadaan minimnya lowongan pekerjaan di perusahaan, apabila generasi milenial hanya sebatas menaruh harapan pada perusahaan maka akan memberikan kontribusi jumlah pengangguran semakin besar. Karena tidak adanya kesempatan memasuki dunia kerja, katanya. 

Bapak H. Anton Sukartono Suratto, M.Si mengemukakan bahwa generasi milenial perlu mempunyai paradigma cara berpikir baru, wawasan dan keyakinan yang baru bahwa kesuksesan tidak hanya melalui perusahaan formal namun kesuksesan dapat dimulai menjadi entrepreneur. Kesempatan untuk membuka bisnis masih terbuka, hal ini karena perkembangan zaman sedang terjadi pada teknologi informasi di era 4.0 atau era revolusi industri 4.0 yang berisi mengenai transformasi digital. Revolusi Industri 4.0, lebih bertransformasi pada informasi, big data, internet, informatika dan kecerdasan buatan. Pada era digital saat ini, bisnis online memiliki peningkatan market pada era COVID-19 dikarenakan market pada bisnis online makin meningkat maka dapat menguatkan optimisme generasi milenial dalam mengatasi berbagai hambatan dan tantangan menjadi entrepreneur. Hal ini terjadi karena penggunaan internet sudah menjadi gaya hidup generasi millennial, ucapnya. 

Namun, lanjutnya gaya hidup ini juga memberikan dampak buruk terhadap psikologis generasi milenial seperti kecemasan, dan gangguan emosional mental ringan, jika hal tersebut tidak diatasi akan berdampak pada adanya bullying, tawuran, kekerasan dan bunuh diri. Maka dari itu perlunya pengawasan agar generasi milenial dapat ikut serta dalam pemulihan ekonomi di Indonesia dengan cara pemerintah menyusun program dalam bentuk teknologi diantara millennial untuk hal yang produktif seperti untuk pengembangan usaha dan pengembangan keahlian supaya millennial dapat menjadi seseorang yang kreatif dan inovatif supaya dapat memiliki daya saing yang tinggi, ujar Anton. 

Selanjutnya, KRMT Roy Suryo, Pakar Telematika Nasional menyampaikan bahwa dalam era sekarang sedang terjadi adanya Global Megatrend. Global Megatrend yaitu adanya sebuah tren yang terjadi secara besar dan secara global. Ada banyak peluang yang dapat dilakukan pada saat ini, misalnya kegiatan yang dulu dilakukan secara offline harus dilakukan secara online seperti saat ini. Maka dari itu jika di perhatikan, sekarang muncul Global Megatrend dengan adanya efek yang berakibat berubahnya pola tata cara komunikasi dan sebagainya, paparnya. 

Roy menyebutkan, di Indonesia jumlah penduduk terdapat sebanyak 274.9 juta penduduk namun jumlah koneksi handphone terdapat 345.3 juta terlihat bahwa jumlah handphone nya lebih banyak daripada jumlah penduduk. Dapat terlihat bahwa masyarakat indonesia, satu orang dapat memiliki beberapa handphone seperti 1 handphone bahkan lebih untuk berbagai kepentingan, ujarnya. 

KRMT Roy Suryo menjelaskan bahwa terdapat teori yang membahas mengenai generasi, bahwa dalam teori ini satu generasi memiliki efek atau cara pandang berkehidupan masing - masing atau berbeda - beda. Misalnya, generasi sekarang untuk menghubungi teman - teman sudah terbiasa menggunakan teknologi, hal tersebut berbeda dengan generasi yang sebelumnya jika ingin menghubungi seseorang tidak menggunakan teknologi. Sama seperti misalnya dunia perbankan, jika bank tidak memiliki fasilitas online mungkin akan di tinggalkan oleh nasabah. 

Hal ini yang menjelaskan bahwa setiap generasi memiliki gaya, cara dan sikap yang berbeda - beda terhadap apa yang dialami, namun tujuan nya sama. Generasi Z ini sangat pandai untuk menggunakan gawai dari pada komputer, penggunaan gawai ini berbasis penggunaan aplikasi yang dapat di download melalui playstore maupun app store. Generasi Z memiliki sikap atau cara pandang yang kemudian berbeda daripada cara pandang atau cerdas yaitu memiliki ketepatan untuk berfikir dibanding generasi sebelumnya. Generasi Z juga dapat melakukan multitasking artinya misalnya saat era seperti ini saat Zoom tidak hanya menggunakan 1 layar saja, namun kadang - kadang multitasking membuat seseorang tidak fokus. Generasi sekarang perlu sentuhan yang kreatif supaya dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional. 

KRMT Roy Suryo menjelaskan bahwa revolusi industri bergerak dari 1.0 - 4.0, revolusi ini digambarkan lebih mudah dengan dulu manusia berhadapan langsung dengan hewan, dan otot kemudian setelah ada mekanisasi terdapat robot - robot industry, kemudian jaman elektronik beberapa perangkat diubah menjadi fungsi elektronik, kemudian pada zaman cyber manusia tidak lagi berhadapan secara nyata tapi manusia sudah berhadapan dengan dunia cyber. Pada industry 4.0, semua ditekankan dalam teknologi maka dari itu manusia perlu memanfaatkan teknologi bukan teknologi yang memanfaatkan manusia. Era society 5.0 merupakan era internet of things yaitu kita bekerja dengan internet. Kemudian ada big data yaitu kita tidak bisa memulihkan ekonomi nasional kalau kita tidak mengerti data. SDM saat ini diharapkan memiliki cara berpikir, cara bekerja yang maju, jelas Roy. 

Adapun lanjut Roy, peluang untuk memulihkan ekonomi masa depan dengan cara mengajak generasi Z yaitu dengan peluang misalnya peluang pekerjaan misalnya youtuber atau content creator dan peluang pekerjaan baru lainnya agar memulihkan perekonomian nasional. Namun adanya permasalahan yang datang, misalnya new crimes, frauds, dan negative externalities. Generasi Z perlu memanfaatkan sarana yang sudah di bangun oleh pemerintah, sarana yang diberikan pemerintah sudah dapat mengembangkan sumberdaya dalam bidang digital yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat agar dapat meningkatkan SDM dan talent masyarakat, ungkapnya. 

Dr.s Gun Gun Siswadi, M. Si, Akademisi Univ. Esa Unggul Jakarta - Menjelaskan mengenai dibutuhkan literasi digital untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital. Menurut survey, di Indonesia terdapat 202,6 juta orang yang sudah menggunakan internet atau 73,7 % dari total populasi yaitu ada 274,9 juta orang. 

"Penggunaan internet dan media sosial sudah dipakai di berbagai kalangan di Indonesia terutama generasi Z dan millennial. Dalam hal ini, maka dari itu terjadilah yang dinamakan transformasi digital dalam setiap aspek kehidupan masyarakat dari konvensional menjadi digitalisasi. Dr.s Gun Gun Siswadi, M. Si mengatakan ekonomi kreatif merupakan gagasan baru dalam dunia perekonomian yang mengutamakan kreativitas dan informasi. Inti dari ekonomi kreatif adalah kreatifitas, pengetahuan, ide dan teknologi digital,  hal ini cocok dengan yang terjadi dengan generasi Z, " katanya. 

Gun gun juga menambahkan, dengan pembangunan ekonomi kreatif, dapat mendorong generasi milenial dalam pemulihan ekonomi nasional yang saat ini harus dilakukan dengan bersama - sama. Adapun 16 subsektor ekonomi kreatif yaitu aplikasi dan game, arsitektur dan desain, desain komunikasi visual. Desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio. 

Sub sektor tersebut terlihat menggunakan pendekatan teknologi saat ini yang dapat dipilih untuk dimanfaatkan. Ekonomi kreatif perlu dikembangkan karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan, ekspor, peningkatan toleransi sosial, green community. Adapun spektrum yang pekerjaan dalam ekonomi kreatif misalnya kerajinan daerah, festival daerah, kemudian ada musik, teater, bioskop, animasi, video games, arsitektur, karya sastra, dan karya seni hal ini cukup dengan dengan kalangan generasi Z. Transformasi dalam bisnis diperlukan karena supaya dapat menjangkau pasar yang luas, kemudian dapat memangkas biaya, tidak ada lokasi (bisnis dapat dilakukan dimana saja), dan yang terakhir potensi pendapatan tidak terbatas. Ekonomi kreatif memiliki hubungan dengan UMKM, UMKM dalam hal ini juga perlu ikut bertransformasi dengan mengikuti perkembangan zaman dan memberikan nilai tambah seperti menjangkau pasar yang tadinya konvensional menjadi online. 

UMKM online merupakan upaya peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital untuk berjualan secara online dan membantu meningkatkan skala bisnis serta pendapatan pelaku UMKM. UMKM dalam era pandemi perlu memperkuat sistem digital dengan memanfaatkan pemasangan daring via medsos, laman dan marketplace, menambah tipe produk, dan lain - lain. Namun yang paling  penting dalam meningkatkan pemulihan ekonomi nasional diperlukan adanya literasi digital yang dilakukan oleh masyarakat khususnya generasi Z dan milenial supaya masyarakat dapat memilah dan memilih informasi yang di dapat pada saat era digital saat ini, pungkas Dr.s Gun Gun Siswadi, M. Si. (pp-04) 
Komentar Anda

Berita Terkini