Polres Tapsel Ungkap Kasus Penipuan CPNS Yang Memakan 13 Orang Korban

harian9 author photo
 

TAPSEL|H9

Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Tapanuli Selatan (Tapsel) berhasil mengamankan tersangka IED, warga Desa Sidadi I, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel yang sempat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) PolresTapsel dalam kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan terkait penerimaan Calon Pegawai Negei Sipil CPNS) Tahun 2019, di tempat persembunyian tersangka di rumah kontrakan tersangka di Kota Medan, Kamis (11/11/2021)

 
Tersangka ditangkap petugas Sat Reskrim Polres Tapsel berikut barang bukti yang diamankan berupa saru lembar kwitansi penerimaan uang dari korban Sangap Daulay kepada tersangka sebesar Rp.150 juta, saru lembar bukti transfer ke Nomor Rekening BRI 0135-01-046992-50-1 atas nama tersangka sebesar Rp.5 juta, satu unit Handphone 7Nokia Type 150, satu unit HP Samsung Type J5, uang sejumlah Rp.791 ribu satu buah kartu ATM BRITAMA dan satu buah kartu ATM BNI.
 
“ Tersangka sudah kami amankan atas dugaan penipuan terhadap 13 orang karena bisa meloloskan masuk CPNS pada tahun 2019, “ ujar Kapolres Tapsel AKBP. Roman Smaradhana Elhaj, SH, SIK, MH didampingi Waka Polres Kompol Rahman Takdir Harahap, Kasar Reskrim AKP. Paulus Robert Gorbi, SIK, Kanit Ekonomi Iptu Aswin Manurung, SH dalam keterangan pers nya di MapolresTapsel, Rabu (17/11/2021)  
 
Kapolres menerangkan, tertangkapnya tersangka berkat laporan dari para korban masing-masing Sangap Daulay, Chalid Hendy Daulay yang mengalami kerugian sebesar Rp.30 juta sesuai Laporan Polisi Nomor : LP / 316 / XI / 2021 / SPKT / Polres Tapsel / Polda Sumut tanggal 16 November 2021 dan Burman Efendi Daulay dengan kerugian sebesar Rp.300 juta  sesuai Laporan Polisi Nomor : LP / 317 / XI / 2021 / SPKT / Polres Tapsel / Polda Sumut tanggal 16 November 2021.
 
Kapolres menjelaskan, kronologis kejadian berawal pada Sabtu, 1 Desember 2017, korban I Sangap Daulay mendengar cerita dari korban Burman Efendi Daulay bahwa ada seorang temannya yang bisa meluluskan untuk masuk CPNS di Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) sebagai sipir penjara dengan biaya pengurusan sebesar Rp.150 juta.
 
Selanjutnya pada 2 Desember 2017 bersama korban lainnya Nur Maiyah Sipahutar, Burman Efendi Daulay dan Chalid Hendy Daulay berserta ibu mereka, mendatangi rumah tersangka di Desa Sidadi I Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, kemudian korban Burman Efendi Daulay memperkenalkan para korban lainnya kepada tersangka dan tersangka meminta berkas-berkas anak korban yang hendak melamar CPNS tersebut atas nama Hamzah Nauli Daulay.
 
Setelah menerima berkas, korban menyerahkan uang kepada tersangka sebesar Rp.150 juta disaksikan Chalid Hendy Daulay, Nur Maiyah Sipahutar, Burman Efendi Daulay yang kemudian tersangka memberikan selembar kwitansi penerimaan yang ditanda tangani tersangka kepada korban.
 
Sekitar 3 bulan kemudian korban menghubungi tersangka untuk menanyakan perkembangan masalah penerimaan CPNS tersebut melalui telepon selular dan tersangka menjawab agar bersabar karena penerimaan tersebut sedang dalam pengurusan. Setelah itu korban berkali-kali menghubunginya dan mendapat jawaban yang sama. Bahkan korban pernah mendatangi rumah tersangka 2 kali dan tersangka hanya menjawab agar bersabar dan masalah tersebut sedang dalam pengurusan.
 
Pada tanggal 6 Pebruari 2020 tersangka menghubungi korban dan meminta agar dikirimi uang sejumlah Rp.5 juta lagi ke rekening tersangka untuk keperluan biaya penyesuaian Ijazah calon CPNS yang diurusnya dan korban menyanggupinya. Namun korban menunggu hingga sekarang tidak ada juga realisasi atas janji-janji tersangka tersebut sehingga korban merasa tertipu.
 
“ Akibat perbuatan tersangka, korban mengalami kerugian sebesar Rp.155 juta dan tersangka dipersangkakan Pasal 372 dan atau 378 KUHPidana tentang Penipuan dan atau penggelapan, “ terang Kapolres.
 
Kapolres juga menjelaskan, dari keterangan tersangka, saat menjalani pemeriksaan, tersangka mengakui perbuatannya dan selain korban yang sudah melapor atas  nama Sangap Daulay, masih ada 13 korban lainnya yang di tipu tersangka yang berada di daerah Panyabungan, Sibolga, Tapsel dan Medan.
 
Adapun modus yang dilakukan oleh tersangka adalah melakukan bujuk rayu/tipu muslihat yang mengatakan tersangka mempunyai seseorang di Kemenag bernama NH yang bisa meluluskan seseorang menjadi CPNS yang bersumber dari sisipan yang telah kalah dalam seleksi penerimaan resmi baik itu di Kemenkumham maupun Kemenag.
 
“ Tersangka juga menggunakan surat palsu yang berisi daftar nama korban dan nomor NIP korban yang dikarang oleh tersangka dengan mengkombinasikan tahun lahir dan bulan lahir sehingga menyerupai NIP, “ kata Roman.
 
Selain itu, tersangka juga mengaku menerima uang dari masing-masing korban sebesar Rp. 150juta per orang dan sebagian diserahkan tersangka kepada NH Rp.100 juta per orang dan sebagian lagi sebesar Rp.50 juta per orang dipergukan oleh tersangka untuk kepentingan pribadinya. Namun tersangka tidak dapat memperlihatkan tanda bukti penyerahan uang kepada NH dan tersangka tidak mengetahui alamat asli NH, karena menurut keterangan tersangka mereka hanya bertemu di hotel/ rumah makan di kota medan sebanyak 7 kali.
 
“ Atas perbuatannya, tersangka juga dikenakan Pasal 372 KUHPidana, ‘Barang siapa dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan, dhukum karena penggelapan dengan hukuman penjara selama lamanya 4 tahun, serta Pasal 378 KUHPidana, ‘Barang siapa menguntungkan diri sendiri atau orang lain, memakai nama palsu atau keadaan palsu, tipu muslihat dan perkataan bohong, membujuk orang lain supaya memberikan sesuatu, membuat utang atau menghapus piutang, dihukum karena penipuan dengan hukuman penjara selama lamanya empat tahun, “tegas Kapolres. (WD.014).
 
Komentar Anda

Berita Terkini