Inalum Kini dan Nanti

harian9 author photo

 

MEDAN| H9
Sejak dikuasai Jepang berpuluh tahun, PT Inalum hanya fokus memproduksi aluminium ingot. Benar, walau hanya dengan bikin ingot yang dilebur di pabrik Kuala Tanjung Kabupaten Batubara itu, Inalum sudah meraup untung kakap. Selanjutnya ingot itu jadi primadona, dijual ke berbagai negara. Dan ekspor ke Jepang sebagai pasar utama. Padahal, hingga saat ini kebutuhan aluminium di pasar domestik pun masih tak bisa dipenuhi akibat tingginya permintaan.

Kemudian keberkahan pun tiba. Pada 19 Desember 2013 PT Inalum kembali ke ibu pertiwi. Dalam tempo tak sampai puluhan tahun (usia Inalum sudah akan 46 tahun pada 6 Januari 2022) PT Inalum pun menatap masa depan. Ya, Inalum sudah jadi BUMN. Setelah itu prestasi demi prestasi moncer sekali. Tak ada masalah berarti yang melingkupi Inalum sebagai badan usaha milik negara. Tak ada kasus korupsi yang kemudian bikin publik tak percaya.

Hingga hari ini, ketika Inalum yang didirikan pada 6 Januari 1976 itu kembali ke ibu pertiwi, inovasi adalah kata kunci. Inalum ogah hanya jadi pemain ingot tok. Diketahui dari banyak negara di dunia ini, Indonesia adalah salah satu pemain ingot di muka bumi. Memang tak sebesar yang dipunya China bahkan Rusia, namun keberadaan pabrik peleburan aluminium di tanah air adalah kebanggaan. Pun sebagai warga Sumatera Utara, bangga adalah keniscayaan. Sebab tak semua daerah bisa punya pabrik peleburan aluminium. Konsumsi listrik yang boros untuk membikin tonan batang ingot harus punya energi besar. Nah untuk itu, Inalum juga mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)-nya sendiri.

Sejak jadi BUMN pada 2013 hingga hari ini maka itu belum genap 10 tahun. Dari bilangan tahun demi tahun yang masih seumur jagung itu, mari kita kenang kembali apa saja inovasi yang telah dikoarkan Inalum. Sebagian inovasi itu bahkan telah capai target, ada yang baru saja ground breaking, dan ada yang masih di atas kertas. Tapi seluruh inovasi itu akan bermuara pada pengokohan ekonomi nasional. Bila sudah begitu, pangkal muaranya adalah kesejahteraan rakyat.

Oh ya, pada 27 November 2017 Inalum didaulat jadi BUMN Holding Industri Pertambangan (MIND ID). Sebuah kepercayaan luar biasa sebagai ‘anak baru’. Namun info terbaru, konon Inalum akan kembali fokus pada operating pada 2022. Sedangkan MIND ID akan berdiri sendiri.

Oke kembali pada inovasi, yang awal-awal dilakukan Inalum adalah membuat produk turunan. Billet dan alloy  sukses diterima dengan senang hati oleh industri manufaktur. Beberapa waktu lalu, Orias Petrus Moedak, CEO MIND ID menargetkan kepada seluruh perusahaan yang tergabung dalam holding agar mempercepat realisasi produk turunan atau hilirisasi. Inalum termasuk yang ambil pikir untuk itu. Maka salah satu usahanya membuat perusahaan baru. Yang teranyar ground breaking adalah PT IAA (PT Indonesia Aluminium Alloy). PT ini akan fokus pada sektor midstream dan downstream industri aluminium. PT IAA akan memproduksi billet aluminium sekunder dengan kapasitas cetak sebanyak 50.000 ton per tahun secara bertahap. Ke depannya anak perusahaan Inalum ini akan memproduksi berbagai produk aluminium ekstrusi sebagai produk turunannya. Keren.

Untuk mengejar aneka target besar yang telah dicanangkan, Inalum sadar harus punya persentasi lokal maksimal dalam pengadaan bahan baku. Selama ini mereka impor. Padahal setelah lama dikaji, bahan baku di tanah air pun melimpah. Hanya saja smelter kita tak punya. Akankah Inalum berpangku tangan dan pasrah. Tentu saja tidak.

Diketahui, selain bergantung pada air Sungai Asahan dan Danau Toba, Inalum juga sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku utama aluminium berupa calcined petroleum coke (CPC) atau kokas. CPC ini menjadi bahan baku utama blok anoda dalam proses peleburan aluminium di Inalum.  Untuk mencapai cita-cita itu, Inalum kerjasama joint venture development agreement (JVDA) dengan PT Pertamina (Persero).

Yang juga tak kalah penting adalah bahan baku bernama alumina. Itulah yang sejauh ini masih diimpor. Padahal bahan baku alumina yaitu bauksit tersedia di tanah air, namun smelternya yang tak ada. Untuk itulah pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) di Kalimantan Barat telah dimulai. Proyek itu terlaksana bergabung dengan PT Antam.

Dan yang juga baru saja dikembangkan adalah upaya meningkatkan kapasitas produksi. Pada April 2021 lalu, telah diteken kerjasama dengan untuk peningkatan teknologi tungku peleburan aluminium. Beberapa perusahaan pendukung digandeng dengan target peningkatan 25 ribu ton produksi per tahun. Sebagai informasi, pada 2020 Inalum bahkan sukses lampaui target produksi yakni sebesar 245.000 ton dari target 242.000 ton aluminium Ingot, Billet dan Foundry Alloy. Jika teknologi baru tungku telah kelar, telah jelas di angka berapa produksi Inalum per tahunnya.

So, inilah Inalum. Perusahaan kakap yang senantiasa berusaha jadi yang terbaik. Selain fokus pada dahsyatnya rencana masa depan, Inalum juga punya keterikatan emosional yang baik dengan masyarakat sekitar. Perlu kita catat, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Inalum termasuk yang terbaik di Sumatera Utara. Saban tahun, miliaran digelontorkan untuk masyarakat. Mulai untuk membantu sosial, agama, pendidikan hingga lingkungan. Dan saya yakini, sampai nantipun PT Inalum (Persero) akan tetap begitu. Tetap optimis tatap masa depan dengan produksinya yang melimpah, namun tak melupkan di mana mereka berasal.(Syaifullah/rel)

Komentar Anda

Berita Terkini