Jadikan Medan Sebagai Pasar UMKM, Langkah Bobby Nasution Tingkatkan Ekonomi Daerah

harian9 author photo

 

MEDAN| H9
Sejak pandemi Covid-19 melanda hampir dua tahun, semua sektor terkena imbasnya, termasuk para pelaku UMKM. Selain terus gencar memutus mata rantai penyebaran virus Corona, upaya untuk membangkitkan kembali UMKM menjadi perhatian serius Wali Kota Medan Bobby Nasution. Salah satunya dengan membuka Kesawan City Walk (KCW). Diharapkan, KCW dapat membentuk ekosistem ekonomi baru di Kota Medan.

“Kami (Pemko Medan) akan membantu para pelaku UMKM supaya dapat bertahan dan berkembang di masa pandemi Covid-19 yang masih melanda Kota Medan.  Melalui KCW ini, saya juga ingin membentuk ekosistem ekonomi baru di Kota Medan sehingga para pelaku UMKM dapat meningkatkan peekonomiannya,” kata Bobby Nasution baru-baru ini.

Tidak hanya membantu para pelaku UMKM untuk bangkit kembali, menantu Presiden Joko Widodo itu juga  ingin membangun pariwisata di ibukota Provinsi Sumut melalui KCW, khususnya sektor kuliner  yang dikolaborasikan dengan bangunan tua nan kaya akan nilai sejarah serta bergaya arsitektur  campuran Eropa, China dan Melayu di kawasan Kota Lama Kesawan.

Dengan lokasi KCW yang sangat strategis tersebut, Bobby Nasution optimis dapat membentuk ekosistem ekonomi baru di Kota Medan. Apalagi keberadaan KCW kini menjadi pusat dari berbagai kegiatan masyarakat, baik pusat kuliner sekaligus wisata heritage. Di samping itu KCW juga dijadikan menjadi tempat pertunjukan seni dan budaya seluruh etnis yang ada di kota Medan.

Oleh karenanya melalui KCW ini, Bobby Nasution ingin menjadikan Kota Medan sebagai market bagi para pelaku UMKM. “Saat ini yang menjadi persoalan bagi pelaku UMKM, mereka kesulitan untuk memasarkan produknya. Kita harapkan KCW menjadi ekosistem ekonomi  sehingga nantinya Medan dapat menjadi pasar bagi pelaku UMKM agar mereka dapat bertahan dan berkembang,” ungkapnya.


Upaya Bobby Nasution untuk menjadikan Medan sebagai pasar UMKM guna meningkatkan ekonomi daerah, termasuk membantu pelaku UMKM yang terdampak pandemi Covid-19 didukung  dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara Wahyu Ario Pratomo. Apalagi, imbuhnya, peningkatan perekonomian melalui pengembangan UMKM merupakan salah satu program prioritas yang akan tangani  Bobby Nasution.
 

Dikatakan Wahyu, langkah Bobby Nasution membuka KCW sebagai pusat kuliner Kota Medan telah berdampak terhadap peningkatan pendapatan UMKM ditinjau dari transaksi dan jumlah masyarakat yang datang mengunjungi KCW. Bahkan,  KCW saat ini menjadi satu destinasi baru wisata kuliner Kota Medan.

“ KCW terletak di kawasan heritage atau Kota Lama Medan. Daya tarik Kota Lama Medan dipadukan dengan pusat kuliner menjadikan kawasan ini menjadi sangat menarik. Dalam pengembangan kawasan wisata perlu disiapkan atraksi, amenities dan aksesibilitas,” ungkap Wahyu.

Jika KCW berjalan dengan baik, jelas Wahyu,  tentunya akan menjadi ekosistem ekonomi baru. Banyak usaha lain selain kuliner bisa tumbuh di sana, misalnya usaha cinderamata, fashion, fotografi, ajang kreativitas musik, tari dan lain-lain. Oleh karenanya Wahyu berharap agar  kawasan tersebut harus dikelola dengan baik serta diikuti dengan promotion dan price.

“Promosi melalui media sosial akan memberikan sebaran informasi efektif. Lokasi yang instagramble tentunya  saat ini digemari oleh millenial sehingga memberikan daya tarik mereka untuk datang. Price atau harga produk yang diperjualbelikan terjangkau atau wajar. Jangan sampai masyarakat merasa tidak puas karena ada harga makanan yang mahal. Kasus lesehan yang mahal di Yogyakarta sempat viral dan memberikan dampak negatif bagi wisatawan untuk mau datang lagi ke kawasan tersebut,” jelasnya.

Kemudian Wahyu juga mengungkapkan,  membangkitkan UMKM Kota Medan telah tertera dalam visi dan misi Wali Kota, diantaranya program yang dapat membangkitkan UMKM Kota Medan adalah Sakasanwira (Satu Kelurahan Satu Kewirausahaan) merupakan program sangat bagus untuk membangun klaster UMKM berdasarkan keunggulan daerah masing-masing. Dikatakannya, kewirausahaan tidak hanya menyangkut produksi saja, tetapi juga meliputi seluruh proses mulai dari bahan baku, produksi, pengemasan, keamanan produk dan pemasaran.


“Selama ini  program pemerintah hanya fokus pada produksi, tanpa memikirkan bagaimana memasarkan produk itu atau keamanan produk untuk dikonsumsi, sehingga perlu sertifikat dari BPOM, PIRT dan MUI. Kemudian perlu adanya kerja sama dengan pemasaran. Saat ini pemasaran produk sudah semakin luas, diantaranya melalui Market Place. Pemko Medan harus terus menggandeng market place agar turut membantu memasarkan produk UMKM Kota Medan,” ungkapnya.

Dengan market place, jelas Wahyu,  masyarakat maupun wisatawan yang ingin membeli makanan tertentu tidak perlu datang ke lokasi produksi, tetapi cukup memesan secara online. Oleh karena itu perlu ada kolaborasi antar seluruh pihak untuk mensukseskan suatu program pembangunan,” pungkasnya. (rel)

Komentar Anda

Berita Terkini