JPRMI Palas Seperti Kehilangan Ruh, Syekh, K.H. Mahmuddin Pasaribu Wafat

harian9 author photo

 

PALAS | H9
Seperti Kehilangan Ruh, Saya turut berduka cita yang sangat mendalam atas berpulangnya ke rahmatullah Ayahand Syekh KH. Mahmudin Pasaribu pada hari Rabu, 8 Desember 2021
sekira jam 19.00 WIB di RSU Permata Madina, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal,  Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Demikian disampaikan Muhammad Idrisman Mendefa, Ketua Pengurus Daerah Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (PD -JPRMI), Kabupaten Padang Lawas (Palas). Sumut. Rabu, (15/12/2021) ketika dijumpai Kabiro Harian9.com Palas diruangan kerjanya.

Lebih Lanjut Ia Katakan, Saya benar-benar turut merasa kehilangan atas kepergian ayahanda Syekh KH. Mahmudin Pasaribu. Beliau seorang Ulama Besar yang dimiliki wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang mencakup lima Kabupaten/Kota: Kabupaten Mandailing Natal,  Kabupaten Tapanuli Selatan,  Kota Padangsidimpuan,  Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kabupaten Padang Lawas. 

"Bahkan, beliau pun merupakan seorang ulama dan da'i kebanggaan ummat Islam di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Dan kini, di lingkup nasional sekalipun, sudah semakin dikenal, baik melalui struktur MUI,  struktur NU,  struktur organisasi formal Abituren dan Alumni Ponpes Musthafawiyah seperti KAMUS, maupun secara individual, orang per orang seluruh Abituren dan Alumni Ponpes Musthafawiyah yang tersebar di berbagai antero pelosok negeri. Ungkapnya.

Beliau merupakan Guru Besar Pondok Pesantren Musthafawiyah Purbabaru, Mandailing Natal. Beliau juga merupakan Ketua MUI Kabupaten Mandailing Natal. Pun beliau adalah Rois Syuriah PWNU Provinsi Sumatera Utara.

Tentu, secara pribadi, saya sangat kehilangan beliau. Masih teringat kenangan-kenangan masa lampau,  ketika di beberapa tempat dan momen,  termasuk ketika masih di Ponpes Musthafawiyah bersama beliau. Bagaimana gaya bicaranya. Masih terbayang, bagaimana candaannya, senyumnya, tertawanya, perawakan tubuh dan setelan pakaiannya. 

Beliau ahli di bidang ilmu fiqh dan nahwu, dan mampu di bidang keilmuan lainnya. Selain mengajar di kelas Ponpes Musthafawiyah,  beliau juga rutin menyampaikan kajian fiqh di Ruangan Aula Perpustakaan Ponpes Musthafawiyah. Serta,  aktif memberikan wejangan,  nasehat,  pendidikan di berbagai acara,  forum,  kegiatan,  majelis, pertemuan di tengah masyarakat,  lintas desa,  lintas daerah kabupaten dan provinsi. Terang, Muhammad Idrisman Mendefa
Yang juga Kabid Informasi dan Komunikasi, di DPD Keluarga Abituren Musthafawiyah (KAMUS), Kabupaten Padang Lawas.

Selain itu, Kemana pun beliau pergi, seluruh alumni dan abituren Ponpes Musthafawiyah pasti akan selalu menyambutnya dengan semangat bercampur rasa haru, dan begitu senang dan hormat. Beliau sangat disegani,  dimuliakan,  dan dicintai oleh santri-santrinya, jamaah pengajiannya,  dan sohib-sohibnya. 

Kehadiran beliau bagi para santri dan alumni/abituren Musthafawiyah adalah "keberkahan" dan kemuliaan. Marwah beliau begitu tinggi. Keteladanan beliau begitu melekat bagi para santrinya. Beliau tidak berjarak dengan para santrinya. Beliau merupakan seorang ayahanda yang pengasuh dan pangasih. Tuturnya, seraya menambahkan,
Ayahanda Mahmudin,  selain memiliki ilmu yang mumpuni di bidang fiqh dan bidang ilmu lainnya,  juga beliau memiliki akhlaq yang mulia. Isi ceramah dan nasehatnya selalu renyah. Sesuatu yang berat, terasa ringan ketika beliau yang menyampaikan. 

Walaupun isi materinya berat,  tapi penyampaiannya ringan,  tidak terlalu serius, tapi tidak pula selalu humor. Di balik konsentrasi materi kajian, sesekali ada guyonan yang menyelingi, pastinya candaan yang berhubungan dengan materi. Beliau memang sosok yang humoris. 

Kehilangam beliau,  rasanya kehilangan ruhiyah dakwah, jiwa kajian , dan batin syiar Islam. Karena,  selama ini,  selalu ada perasaan para santrinya, bahwa di Ponpes Musthafawiyah,  beliau adalah "ruhnya". 

Bahkan,  bagi abituren dan alumni Ponpes Musthafawiyah sekalipun,  beliau masih dianggap sebagai "ruh". Ruh pendidikan,  ruh pergerakan dakwah santri,  ruh kesadaran ukhuwah Islamiyah,  ruh bagi pemahaman dan implementasi Islam rahmatan lil alamin.  Jadi,  kehilangan beliau, seolah diri ini, turut ikut "kehilangan ruh". Ucapnya.

Akhirnya, bagaimana pun kita mencintai dan menghormati seseorang,  bagaimana pun berharganya keberadaan seseorang bagi kehidupan kita, tetap saja, seseorang itu punya batas waktu untuk hidup di dunia ini. Hanya kehendak Allah yang terbaik. Berharap ingin hidup lebih langgeng bersamanya,  tapi takdir Allah berkata lain,  bahwa ternyata almarhum Ayahanda juga sudah sangat sepuh bagi usia orang zaman sekarang. 

Seingat saya umur beliu waktu disampaikan ketika pemberangkatan Almahum, 69 tahun adalah usia yang senja. Hanya pertolongan Allah, semangat dan kesehatan yang diberikan-Nya lah kepada ayahanda,  sehingga walaupun beliau sudah lanjut usia,  tapi masih aktif bersafari dakwah ke berbagai pelosok daerah. 

Kita cuma mampu memberikan kesaksian bahwa Ayahanda Syekh KH. Mahmudin Pasaribu adalah orang yang sangat baik. Dan berdoa,  kiranya Allah SWT berkenan mengampuni segala dosa almarhum ayahanda Mahmudin Pasaribu, menganugerahkan cinta dan kasih sayang kepadanya, melapangkan kuburnya,  membebaskannya dari adzab kubur dan api neraka,  dan memasukkannya ke dalam surga. 

Dan,  kiranya seluruh ilmu dan teladan perjalanan dakwahnya memberikan kesegaran dan petunjuk jalan sepanjang kehidupan ummat. Saya pun berharap,  agar seluruh santri dan jamaah majelis ta'lim agar senanriasa mendoakan beliau agar selalu diberikan maghfirah dan rahmat oleh Allah SWT. Pungkas, Muhammad Idrisman Mendefa, yanf juga merupakan Kabid Pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga Kerja, pada Dinas Tenaga Kerja, Kabupaten Padang Lawas. Mengakhiri pembicaraannya. (WD41)
Komentar Anda

Berita Terkini