Memaknai Angka IPM Kota MEDAN

harian9 author photo


Oleh:
Wesley N. Tambunan, S.Si
Statistisi Ahli Pertama Badan Pusat Statistik Kota Medan


Pada dasarnya pembangunan yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk secara keseluruhan dan berkesinambungan. Tujuan akhir pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan peningkatan kesejahteraan manusia, akan membuat suatu daerah tertinggal dari daerah lain. Sementara itu peningkatan kesejahteraan manusia akan memberikan manfaat dan mengurangi ketimpangan antar daerah.

Untuk melihat perkembangan  pembangunan di suatu daerah, salah satunya dapat dilakukan dengan menghitung berbagai indikator seperti Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), angka kemiskinan, angka inflasi, maupun indikator makro ekonomi lainnya seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Jika PDRB digunakan untuk mengukur pertumbuhan di sektor ekonomi, maka IPM digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan.

Menurut United Nation Development Programe (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator untuk mengukur capaian pembangunan manusia bedasarkan sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dihitung melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi itu mencakup umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living). Melalui indikator IPM dapat dihitung tingkat kesejahteraan masyarakat yang dilihat dari umur harapan hidup, harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran per kapita.

Berdasarkan data yang dirilis BPS Kota Medan tanggal 23 Desember 2021, IPM Kota Medan di tahun 2021 adalah sebesar 81,21 atau mengalami peningkatan 0,28% jika dibandingkan tahun 2020 yang tercatat sebesar 80,98. Nilai IPM tahun 2021 yang meningkat 0,23 poin juga didukung oleh peningkatan di semua dimensi dasar pembentuk IPM.

Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, tercatat Umur Harapan Hidup saat lahir  (UHH) Kota Medan mencapai 73,23 tahun. Ini artinya bayi yang lahir di tahun 2021, memiliki peluang hidup hingga 73,23 tahun. Meskipun UHH meningkat dibandingkan dengan tahun 2020, namun angka ini mengalami sedikit perlambatan akibat pandemi Covid-19. Jika melihat kembali di tahun 2011 dimana UHH Kota Medan sebesar 72,03, ini menandakan bahwa selama satu dekade telah terjadi peningkatan UHH sebesar 1,2 tahun atau rata-rata tumbuh sebesar 0,17% per tahun. Hal ini disebabkan oleh semakin masifnya perbaikan dan peningkatan akses dan kualitas pelayanan di sektor kesehatan masyarakat.

Selanjutnya pada dimensi pengetahuan yang terbentuk oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk usia 7 tahun ke atas dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas, juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2021 HLS Kota Medan tercatat sebesar 14,75 sementara RLS tercatat sebesar  11,48. Jika melihat kembali ke tahun 2011 dimana HLS dan RLS Kota Medan tercatat sebesar 13,57 dan 10,63 ini menandakan bahwa selama satu dekade, HLS Kota Medan telah meningkat sebesar 1,18, sementara RLS meningkat sebesar 0,85. Meskipun di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai saat ini, RLS dan HLS masih tetap tumbuh walau mengalami sedikit perlambatan.

Terakhir pada dimensi yang terkait kualitas hidup manusia yaitu standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita (atas dasar harga konstan 2012) yang disesuaikan. Di tahun 2021 pengeluaran per kapita yang disesuaikan masyarakat Kota Medan tercatat mencapai Rp14,99 juta per tahun. Angka ini meningkat sebesar 0,736% jika dibandingkan dengan tahun 2020 yang tercatat hanya mencapai Rp 14,89 juta per tahun. Jika membandingkan dengan tahun 2019 dimana pengeluaran per kapita mencapai Rp 15,03 juta per tahun, ini berarti pengeluaran per kapita di tahun 2021 kembali mulai meningkat setelah di tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat pandemi Covid-19.

Jika melihat pertumbuhan angka IPM Kota Medan yang cukup positif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kenaikan poin di masing-masing dimensi dalam penyusunan IPM harus dimaknai secara parsial. Naiknya indikator kesehatan secara keseluruhan bukan berarti karena terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, namun hal ini harus dimaknai juga karena faktor intervensi yang dilakukan pemerintah di sektor kesehatan seperti peningkatan akses dan kualitas pelayanan masyarakat, dan juga dampak dari pemanfaatan BPJS baik secara mandiri maupun penerima bantuan iuran.

Demikian juga naiknya indikator di sektor pendidikan secara keseluruhan bukan karena terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendidikan anggota keluarganya, namun hal ini juga harus dimaknai karena faktor intervensi yang dilakukan pemerintah di sektor pendidikan seperti bantuan Kartu Indonesia Pintar, PKH, dan juga beasiswa.nv

Secara keseluruhan meskipun penghitungan IPM dihitung berdasarkan tiga dimensi dasar di atas, bukan berarti sektor-sektor pembangunan yang lain menjadi terpinggirkan. Semua sektor harus bersinergi. Keberhasilan pembangunan manusia dapat dilihat dari seberapa besar permasalahan mendasar di masyarakat dapat teratasi seperti kemiskinan, pengangguran serta sulitnya akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan. Karena sejatinya, peningkatan kualitas manusia yang lebih holistik, adalah tujuan sesungguhnya. (WP.03)



Komentar Anda

Berita Terkini