Sekda Buka Pengukuran dan Publikasi Data Stunting Tingkat Kabupaten Palas Tahun 2021

harian9 author photo

 

PALAS | H9
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. 

Dengan demikian periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 HPK dari anak balita. Intervensi stunting memerlukan konvergensi program dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha dan masyarakat. 

Pengukuran dan publikasi data stunting dan aksi intervensi penurunan stunting terintegrasi, yaitu aksi 7 (tujuh). Pengukuran dan publikasi data stunting adalah upaya yang telah dilaksanakan kabupaten Padang Lawas (Palas), Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa. Hasil pengukuran tinggi badan anak usia 0-59 bulan serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan bersama penurunan stunting.

Kegiatan Pengukuran dan publikasi data stunting tingkat kabupaten palas mulai tanggal 15 sampai sengan 16 Desember 2021, yang dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Palas, Komplek SKPD Terpadu, Sigala-gala, jalan lintas Sibuhuan-Sosa, dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten palas, Arpan Nasution, S.Sos, yang dihadiri seluruh pimpinan OPD atau SKPD terkait. 

Sekda palas dalam paparannua, mengatakan, Dinas Kesehatan kabupaten Palas sebagai penanggung jawab aksi 7 (tujuh) pengukuran dan publiksi stunting telah melakukan pengukuran stunting pada balita yaitu pengukuran terhadap tinggi badan/panjang badan pada bulan Agustus yang juga merupakan bulan penimbangan balita dan bersamaan dengan bulan pemberian vitamin a, harapannya jumlah balita yang diukur pada bulan ini adalah total coverage. Data hasil pengukuran yang direkap oleh petugas gizi puskesmas, dan apabila ada data yang bermasalah gizi dikonfirmasi dan divalidasi oleh petugas puskesmas dan dinas kesehatan.

Lebih lanjut diterangkan Arpan Nasution, S.Sos, Berdasarkan rekap tahunan status gizi balita dikabupaten palas pada  tahun 2021 yang merupakan hasil dari pengukuran tinggi badan/panjang badan terhadap 21.098 balita, dengan jumlah balita yang diukur antropometri sebanyak 19.919 (94,43 %), diperoleh angka prevalensi balita stunting kabupaten palas  sebesar 4,12%. (820 anak) Angka ini sudah berada dalam batas aman dalam artian telah dapat penurunan, sedangkan prevalensi pada baduta (bawah dua tahun) sebesar 1,36% (271 anak),  prevalensi stunting ini dari penimbangan pada bulan februari tahun 2020 sebagaimana terlihat dalam grafik 4,12% (821) pada balita dan 1,92% (382).

Selain itu, tambah sekda palas, Dari data grafik15 desa terlihat bahwa prevalensi pada  balita stunting semuanya dibawah 20% atau berada dibatas kategori aman (-20% kronis) yang berarti tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat, namun itu tetap diwaspadai desa dengan kategori sedang (prevalensi 10-25%), sebanyak tiga desa kategori ringan prevalensi 5-10%, sebanyak 2 desa dan kategori sangat ringan 11 desa. Terang sekda Palas.

Adanya pandemi covid 19 menjadi kendala dalam pelaksanaan pengukuran termasuk pada penimbangan bulan Agustus yang menjadi acuan dalam gambaran nilai status gizi pada tahun tersebut. Akibat pandemi covid-19 beberapa posyandu di wilayah kerja kabupaten palas menyebabkan kunjungan balita ke posyandu menjadi turun. Berdasarkan pengalaman pandemi covid 19 tahun sebelumnya, yaitu tahun 2020, 

Dinas kesehatan kabupaten palas sudah melakukan upaya untuk melakukan kegiatan penjaringan balita stunting pada tahun 2021 untuk semua wilayah kerja posyandu dengan tujuan agar semua balita dapat diukur pada tahun 2021 (total coverage), namun ternyata pada pelaksanaannya juga masih terpengaruh oleh kondisi pandemi covid 19, banyak warga yang takut dikunjungi oleh petugas gizi/kesehatan puskesmas untuk dilakukan pengukuran terhadap balitanya, hal ini menyebabkan  pelaksanaan kegiatan penjaringan balita stunting di kabupaten palas sedikit terkendala akibat pandemi covid-19. Kata Sekda..

"Harapan untuk tahun 2022 tentunya cakupan balita yang diukur mengalami peningkatan hingga kiranya dapat mencapai total coverage (100% balita yang diukur dan ditimbang), serta balita yang diukur bisa tervalidasi hingga dapat segera dilakukan intervensi terhadap balita stunting. Dengan total coverage tentunya gambaran status gizi yang disajikan juga memiliki kualitas yang baik pula". Harap Arpan.

Selain data status gizi balita, juga ada data faktor determinan. Faktor determinan sendiri merupakan faktor faktor yang mempengaruhi status gizi (stunting), yakni kepemilikan JKN, jamban sehat, air bersih, imunisasi, kecacingan, merokok, riwayat bumil KEK dan penyakit penyerta. Faktor determinan balita stunting Kabupaten palas akan terlihat dengan jelas nantinya berapa balita tidak memiliki JKN,  balita tidak memiliki jamban sehat, balita tidak memiliki air bersih,  balita yang belum imunisasi, apakah keluarga balita adalah perokok,  balita menderita kecacingan, dan ibu balita mempunyai riwayat KEK (kurang energi kronik) saat hamil, serta balita yang memiliki penyakit penyerta. Demikian guna data faktor determinan balita atunting selanjuynya. Pungkas Sekda Palas, Arpan Nasution, S.Sos. (WD41).

Komentar Anda

Berita Terkini