Keluarga Sinukaban Segera Tuntaskan Kepemilikan Tanah di Berastagi

harian9 author photo

MEDAN| H9
Sebuah Video di Youtube dengan tagline Perjuangan Rakyat atas Tanah Warisan Keluarga Sinukaban Berastagi, beberapa hari ini sangat viral.

Saat ditelusuri bahwa lahan seluas 10.000 m2 terletak di Jalan Veteran Gang Cahaya, Tembus Ke Jalan Udara, sering disebut tanah PLN. Diatas tanah tersebut ada bangunan PLN tidak beridentitas (tidak memiliki plank), katanya perumahan karyawan, kenyataannya yang menghuni bukan pegawai PLN dan sebagian besar tanah tersebut ditanami Kopi oleh oknum yang mengaku keluarga pegawai PLN. 

Pada kenyataannya, warga mengatakan tanah tersebut sejak kontrak habis tahun 1985 harus kembali ke Keluarga Sinukaban. 

"Dulunya diawal kontrak habis, saya pernah  menanami ubi di areal tanah tersebut karena saya juga tinggal di Gang Cahaya," ujar Perdemun Br. Sinukaban (76 tahun) dan ditahun 1990 pernah juga diperjuangkan keluarga agar lepas dari PLN, namun prosesnya dingin begitu saja. 

Sisi lain, sebelum di kontrakkan ke Belanda, tanah tersebut ditanami Padi Darat. Lahan keluarga Sinukaban lurus ke arah bukit Gundaling hingga saat ini, di kaki Bukit Gundaling. 

Rangkaian proses tanah tersebut adalah sebagai berikut. Pada zaman Belanda, tahun 1910 tanah tersebut disewa Batavische Petroleum Maatshappij (BPM), maskapai perminyakan Belanda selama 75 tahun atau berakhir pada 1985, Bersamaan dengan Lapangan terbang Jalan Udara, Bukit Kubu dan berbagai lahan serupa di sekitar Berastagi. 

"Lahan keluarga kami juga di Jalan Udara bekas Lapangan Terbang, hingga saat ini kami kelola karena tidak ada lembaga yang mengclaim seperti PLN," ujar Mengabdi Sinukaban (51 Tahun). 

Jadi kasus ini bermula tahun 1985. Sejak usai kontrak 75 tahun itu dan lahan itu tidak dikembalikan kepada pemiliknya aslinya, yakni Keluarga Sinukaban.

Lain sisi, era kemerdekaan 1945 hingga tahun 1985 lahan tersebut dipakai PLN dengan alasan kontak belum habis, dan belakangan PLN mengaku mendapatkan Hibah, setelah ditelusuri pihak PLN mengantongi dasar Keputusan Pengadilan Negeri Kabanjahe yang berisi menolak Gugatan Marga Purba yang mengklaim tanah tersebut adalah miliknya, dengan dasar ini lah PLN mencoba meminta Surat silang Sengketa dan penguasaan Fisik ke Lurah Gundaling II Berastagi.

Mengetahui situasi ini pihak Keluarga Sinukaban langsung menyurati Lurah untuk mengabaikan segala pihak yang mengklaim Tanah Gang Cahaya (Desember 2021), dan pertanggal 04 Januari 2022 Keluarga Sinukaban Berastagi menyurati secara resmi PLN UP3 Bukit Barisan di kantor Gundaling, Berastagi. 

Penelusuran tersebut terungkap bahwa adanya rencana terselubung PLN untuk mensertifikatkan tanah tersebut ke BPN. Padahal tanah teraebut tidak pernah dikuasai dengan proses jual beli atau hibah dari Keluarga Sinukaban sebagai pemilik sebenarnya. 

"Kami mensinyalir, adanya oknum mafia tanah di tubuh PT.PLN Persero. Kemungkinan pada kepemimpinan yang lama, Dana dari PLN di turunkan untuk beli tanah atau asset, kenyataan nya tidak di belikan, namun obyek tanah tersebut tetap dikuasai dan berusaha melegalkan dengan proses rekayasa,"katanya.

Saat ini Sinukaban atas nama keluarga meminta keadilan dan dukungan segala pihak agar negara hadir ditengah-tengah masyarakat.

Sementara itu pihak Sinukaban siang tadi telah mengirimkan surat ke pihak PLN agar diberi jawaban terkait tanah tersebut.

"Kami sudah layangkan surat ke PLN Gudaling Berastagi, semoga masalah ini cepat terselesaikan,"ujar Mengabdi. (PR-01)
Komentar Anda

Berita Terkini