harian9 author photo


JAKARTA| H9

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meminta pelaku industri minyak goreng (migor) berkomitmen menjaga stabilitas harga migor di dalam negeri dengan mengisi stok migor  di pasar tradisional maupun di ritel modern. Jangan sampai terjadi kekosongan baik di tingkat pedagang  maupun pengecer.  Hal ini diungkapkannya saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI mengenai  stabilisasi harga minyak goreng dan kebijakan pupuk bersubsidi di Jakarta, pada Senin (31/1). 

“Kemendag menginstruksikan produsen untuk mempercepat penyaluran migor serta memastikan tidak  terjadi kekosongan di tingkat pedagang dan pengecer, baik di pasar tradisional maupun ritel modern,” ujarnya.

Mendag Lutfi mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam membeli dan tidak memborong migor  karena panik (panic buying). Pemerintah menjamin stok migor cukup dengan harga tetap terjangkau  masyarakat luas.  

“Pemerintah akan mengambil langkah-langkah hukum yang sangat tegas bagi para pelaku usaha yang  melanggar ketentuan,” tandasnya.

Ia juga mempertegas kebijakan pemerintah tentang kewajiban Domestic Market Obligation  (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). Kebijakan tersebut bertujuan untuk memenuhi bahan baku minyak goreng di dalam negeri sehingga produsen minyak goreng akan mendapatkan harga lebih murah  dibandingkan harga internasional. Dengan demikian harga migor diharapkan bisa lebih terjangkau oleh  masyarakat. 

“Pemerintah harus menyeimbangkan kepentingan pelaku usaha dengan konsumen. Kebijakan DMO  berlaku wajib untuk seluruh produsen minyak goreng yang akan melakukan ekspor, yaitu sebesar 20  persen dari volume ekspor masing-masing. Seiring dengan penerapan kebijakan DMO, Pemerintah juga  menerapkan kebijakan DPO yang ditetapkan sebesar Rp.9.300/kg untuk CPO dan Rp.10.300/kg untuk  olein,” jelasnya.

Disampaikannya, kebutuhan migor nasional diperkirakan sebesar 5,7 juta kilo liter pada 2022.  Untuk kebutuhan rumah tangga diperkirakan sebesar 3,9 juta kilo liter, terdiri atas 1,2 juta kilo liter  kemasan premium, 231 ribu kilo liter kemasan sederhana, dan 2,4 juta kilo liter curah. Sedangkan,  untuk kebutuhan industri adalah sebesar 1,8 juta kilo liter. 

Sebelumnya, berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan  (SP2KP) rata-rata harga minyak kelapa sawit (CPO) dunia hingga Januari 2022 mencapai Rp.13.240/liter. Harga tersebut naik 77,34 persen dibanding Januari 2021. Kenaikan ini mengerek harga migor di dalam  negeri.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga migor, Kemendag menerbitkan Permendag 6 Tahun 2022 tentang  Penetapan Harga Eceran Tertinggi Minyak Goreng Sawit. Kebijakan ini ditetapkan dengan mempertimbangkan hasil evaluasi pelaksanaan kebijakan migor satu harga yang telah berlaku  sebelumnya melalui Permendag No. 3 Tahun 2022. 

Dalam Permendag tersebut, harga eceran tertinggi (HET) untuk migor diatur dengan rincian migor curah sebesar Rp.11.500/liter, kemasan sederhana sebesar Rp.13.500/liter, dan kemasan premium sebesar  Rp.14.000/liter. Kebijakan HET ini akan mulai berlaku pada 1 Februari 2022. 

Pada raker, Anggota Komisi VI mengapresiasi kebijakan yang diambil Kemendag. Komisi VI DPR RI  mendorong Kemendag melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum untuk mencegah  penimbunan komoditas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Penyaluran Pupuk Bersubsidi 

Kemendag mendapat mandat melalui Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2005 tentang Penetapan  Pupuk Bersubsidi sebagai Barang dalam pengawasan. Dalam perpres ini, Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, yang mencakup pengadaan dan penyaluran mengenai jenis, jumlah, mutu, wilayah pemasaran, HET, dan waktunya. 

“Dalam implementasinya, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan beberapa peraturan, terakhir dengan Permendag Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Dalam aturan ini, Kemendag menugaskan PT Pupuk Indonesia untuk melaksanakan pengadaan dan penyaluran. Sedangkan pengawasan, dilakukan Pemerintah Pusat dan  Daerah,” tutur Mendag.

 Terkait dengan pupuk bersubsidi, Komisi VI DPR mendorong Kemendag untuk berkoordinasi dengan  pemangku kepentingan terkait dalam melaksanakan program pengadaan pupuk bersubsidi secara  merata. Selain itu, Komisi VI DPR RI mendorong Kemendag untuk melakukan pengawasan secara ketat agar pupuk bersubsidi dapat didistribusikan dengan tepat sasaran. (WP.03/rel)

Komentar Anda

Berita Terkini