Sidang ke-II Penganiayaan Santri di Madina, Hakim Periksa 2 Orang Saksi Korban

harian9 author photo

 

MADINA| H9
Berawal dari kecelakaan seorang sipir penjara di Natal aniaya anak Santri yang menyenggol mobil peribadinya hingga dalam sidang ke-II (dua) secara terbuka, hakim periksa 2 orang saksi korban yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) di ruang sidang pengadilan negri mandailing natal (Madina) Sumatera Utara (Sumut), Selasa (11/05/2022).

Dalam sidang dua orang saksi yakni Rusdin (55) Warga Desa Panggautan Natal dan Ingot Sinaga (57) warga desa Sasaran Natal Madina Sumut disumpah sesuia kepercayaan masing-masin sebelum memberikan kesaksian didepan majelis hakim pengadilan negri panyabungan.

"Saya melihat kejadian itu dan saudara DG sempat menendang kepala korban yang hendak bangun dari tanah ketika dilokasi kecelakaan itu korban masih tersungkur dalam kecelakaan itu namun setelah saya bàntu korban kebecak saya untuk membawanya ke-rumah sakit saudara DG sempat menendang kepala anak itu sekali lagi di atas becak kendaraan saya." tutur Rusdin kepada Hakim.

Ditambah Ingot Sinaga, DG ketika di lokasi kecelakaan dirinya yang meminta Saudara Terdakwa untuk tidak marah-marah dan memukuli anak itu sempat dapat perlakuan tidak enak kepada dirinya dari terdakwa.

"Iya saya lihat kejadian itu ketika saya coba menolong anak itu dan mencoba menghentikan saudara pegawai lapas itu (DG) dia malah menggertak saya dengan mengatakan apa disini urusan mu kata dia, saya jawab tidak ada orang menginginkan kecelakaan kata saya lalu saya terdiam lalu dan membiarkan kejadian itu karena saya lihat si bapak itu sudah emosi kali pak," ujar Ingot kepada Hakim.

Seterusnya, Hakim menanyakan saudara terdakwa atas kesaksian dua orang yang sebelumnya sudah diajukan beberapa pertanyaan dan meminta terdakwa memberikan terima atau sanggahan daripada kesaksian dua orang itu.

"Saya terima itu kesaksian namun sebagian besar saya tidak terima dan saya bantah terutama mengenai saya nendang kepala korban dan saya hanya membawa dia kedalam mobil untuk mengajak anak itu berargumen dan menanyai rumahnya yang mulia," Kata Terdakwa kepada hakim lewat Virtual.

Namun Hakim meminta dirinya (terdakwa) agar lebih jujur karena menurut hakim mulai dari sidang pertama siterdakwa sudah melancarkan aksi retorikanya bahkan terlihat saudara terdakwa sempat tersenyum-senyum dan hakim sempat menegurnya.

"Eh terdakwa jangan senyum tertawa nampaknya saudara terdakwa mualai berliku-liku dalam beretorika ketika saya tanya tadi pasca kecelakaan saudara bilang luka memar dimuka anak itu atau korban sangat sedikit kata saudara, tapi kenapa setelah keluar dari mobil saudara korban lebam-sebam dan pecah di dekat mata kanan korban coba jujur," tegas Majelis Hakim.

Namun saudara DG mengelak lagi dan mengatakan dirinya akan menunjukkan poto sebelumnya jika dirinya dibutuhkan menjukkan poto yang ia maksud di sidang berikutnya."Tidak pernah saya tonjok itu anak saya punya bukti poto sebelumnya jika dibutuhkan pada sidang berikutnya," jawab DG.

Namum Jaksa Penuntun Umum (JPU) HC.Bangun,SH menangapai pernyataan terdakwa Derman Gultom, menurutnya ada temuan baru dan aneh jika bukan saudara terdakwa melakukan pemukulan, lalu siapa yang melakukan penganiayaan tersebut apa mungkin dokter yang melakukannya karena hasil Visum luka memar dan pecah di sekujur wajah anak itu sangat banyak bahkan di bagian perut kata JPU.

"Saudara terdakwa jujur kau agar bisa dibantu, siapa yang melakukan pemukulan kepada anak itu tadi kau sebenarnya sudah terjebak dalam pertanyaan hakim, sebab sebelumnya kau mengakui luka tak seberapa diwajah anak itu tapi kenapa setelah keluar dari mobilmu muka anak itu memar semua," tambah ditanya JPU kepada terdakwa.

Terdakwa dengan lantang menjawab tidak bukan dirinya melakukan itu meski sebelumnya hakim menunjukan hasil BAP Polisi bahwa dirinya melakukan penganiayaan terhadap anak itu secara lebih dari 15 kali pemukulan, namun saudara DG tidak mengakui perlakuannya. 

"Baiklah itu hakmu tapi kami tau siapa yang jujur dan tidak jujur, baik yang mulia saya rasa sudah cukup." kata Bangun JPU perkara penganiayaan santri dì Natal yang dilakukan oleh Pegawai Rutan Natal.

Terlihat juga hadir Muhammad Syafii Pasaribu.SH, Kuasa Hukum Korban atau Lembaga bantuan hukum (LBH) Musthafawiyah purba baru sewaktu sidang berlangsung digelar, namun Hakim pada sidang itu terlihat memberikan terdakwa untuk menghadirkan saksi terdakwa yang mungkin bisa meringankan dirinya atas tuntutan disidang berikutnya dan hakim menutup sementara sidang dan sidang berikutnya akan digelar pada hari kamis tanggal 13 Januari 2022 nanti. (WD-046)
Komentar Anda

Berita Terkini