Kemendag Ajak Ekonomi APEC Dorong Pemulihan Ekonomi yang Inklusif dan Dukung Presidensi G20 Indonesia 2022

harian9 author photo

 


JAKARTA| H9

Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kamis (24/02) merilis, Indonesia terus berkontribusi dalam upaya kolektif APEC untuk  mewujudkan pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Indonesia juga menggalang dukungan anggota Ekonomi APEC pada prioritas Presidensi G20 Indonesia tahun 2022. Hal tersebut  menjadi fokus partisipasi Kementerian Perdagangan pada pertemuan pertama Komite Perdagangan  dan Investasi (Committee on Trade and Investment/CTI) APEC di tahun 2022 secara virtual. Pertemuan  tahunan pertama CTI, atau disebut juga CTI1, untuk tahun ini digelar pada 18, 21, dan 22 Februari  2022. 

“Tema dan prioritas APEC 2022 dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang  berkelanjutan selaras dengan tema Presidensi G20 Indonesia tahun ini. Kemendag memanfaatkan  momentum peran serta Indonesia dalam perundingan APEC untuk menggaungkan tema dan prioritas  Presidensi G20 Indonesia dalam forum APEC,” kata Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kemendag Reza Pahlevi Chairul, sekaligus Ketua Delegasi Indonesia pada pertemuan  APEC CTI1. 

Pertemuan APEC di sepanjang tahun 2022 akan fokus pada capaian tema besar “Open, Connect,  Balance” yang diusung tuan rumah Thailand. Secara umum, prioritas tuan rumah Thailand tahun ini adalah mendukung percepatan pemulihan ekonomi, memperkuat konektivitas kawasan, serta  menyeimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam pertumbuhan pembangunan  berkelanjutan. 

Secara khusus, pertemuan APEC CTI tahun 2022 mengedepankan enam isu prioritas sebagai upaya  mendukung target percepatan dan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan. Keenam isu prioritas  tersebut dituangkan dalam enam skema, yaitu Bio-Circular Green (BCG) Economy Model; tindak lanjut  integrasi ekonomi regional melalui Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP); dukungan atas sistem  perdagangan multilateral; kerja sama fasilitasi perdagangan, konektivitas, digitalisasi, dan inovasi; isu isu inklusivitas dan lingkungan; serta implementasi visi baru APEC Putrajaya Vision 2040 yang terbuka,  dinamis, berdaya tahan, aman, dan sejahtera. 

Ia menambahkan, BCG Economy Model merupakan salah satu target utama Thailand. Skema  tersebut merupakan opsi strategi pemulihan ekonomi dengan pendekatan menyeluruh yang  menyeimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam mendukung BCG Economy Model,  Thailand juga melihat pentingnya peran perwujudan FTAAP dan mengidentifikasi pendekatan pendekatan baru terkait realisasi FTAAP. Terutama, bila dikaitkan upaya mendorong pertumbuhan  ekonomi pasca-Covid-19. 

Dalam pertemuan CTI1 tahun 2022 ini, Kemendag memaparkan isu-isu prioritas Presidensi Indonesia  G20 pada kelompok kerja Perdagangan, Investasi, dan Industri (Trade, Investment and Industry  Working Group /TIIWG) yang sejalan dengan beberapa prioritas APEC CTI tahun ini. Isu-isu prioritas  Presidensi Indonesia G20 tersebut menggarisbawahi pentingnya koherensi antara kebijakan perdagangan, investasi, dan industri untuk memperkuat pemulihan ekonomi global yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Perdagangan, investasi, dan industri adalah sektor riil penggerak pertumbuhan dan pembangunan yang berkontribusi pada pencapaian SDGs. Percepatan pemulihan ekonomi global lebih dapat dicapai  dengan memastikan kelancaran pergerakan arus perdagangan barang, jasa, dan modal, serta basis  industri yang tangguh dan produktif. Ketahanan sektor industri memegang peranan penting untuk memastikan semua negara dapat terus berproduksi, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga  tingkat pendapatan masyarakat yang pada akhirnya akan mendorong sektor perdagangan dan  investasi,” tegasnya.

Ditambahkannya, untuk mencapai hal tersebut, perlu kolaborasi forum kerja sama perdagangan  kawasan sebagai faktor pendorong percepatan pemulihan ekonomi global. 

“Di tengah arus globalisasi  dan integrasi ekonomi yang mengaitkan seluruh tahap produksi, distribusi, dan perdagangan, membuat seluruh negara di dunia harus bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan yang  timbul akibat disrupsi pandemi,” tutupnya.

Sekilas Mengenai APEC 

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) adalah forum kerja sama 21 Ekonomi di lingkar Samudra  Pasifik. Kegiatan utama APEC meliputi kerja sama perdagangan, investasi, serta kerja sama ekonomi  lainnya untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan di Kawasan Asia Pasifik. 

Ekonomi anggota APEC terdiri atas Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Kanada, Chile, Republik  Rakyat Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru,  Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Viet Nam. Kerja sama APEC bersifat nonpolitis, keputusan-keputusan yang dihasilkan seringkali tidak bersifat mengikat. 

Pada 2021, anggota ekonomi APEC mewakili 38 persen penduduk dunia atau 2,9 miliar jiwa, 47 persen perdagangan global atau senilai USD 24 triliun, dan 61 persen total riil GDP dunia atau senilai  USD.53 triliun. Secara nilai, ekspor perdagangan Indonesia dengan kawasan APEC menunjukkan  peningkatan pada 2021. Total nilai ekspor Indonesia tahun 2021 ke anggota APEC sebesar USD.170,4  milliar, dibandingkan tahun 2020 yang sebesar USD.117,7 miliar. (WP-03/rel)

Komentar Anda

Berita Terkini