Mengukur Tingkat Kebahagian Masyarakat Sumatera Utara di Masa Pandemi

harian9 author photo


Oleh:
Rahmad Dani, S.Si
Statistisi Ahli Pertama BPS Kab. Serdang Bedagai


Kebahagiaan merupakan suatu  keniscayaan  yang  akan  dicari oleh masing-masing   individu di masyarakat dalam  kehidupan. Manusia dalam  mencapai kebahagiannya harus memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan  dan  papan, dengan kata lain kebutuhan yang tiga tersebut masih tingkatan yang paling awal atau dasar sehingga harus terus ditingkatkan ke level selanjutnya untuk mencapai kesejahteraan menuju kebahagian tersebut.

Menurut  Abraham Maslow seorang teoritikus dan psikologi terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia yaitu Kebutuhan Fisiologis, kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki, kebutuhan harga diri dan yang terakhir kebutuhan aktualisasi diri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kebahagian merupakan kesenangan dan ketentraman lahir dan batin. Diartikan juga sebagai sebuah konsep berupa hasil evaluasi kehidupan yang menggambarkan kondisi kehidupan yang baik (good life) dan kehidupan yang bermakna (meaningful life).

Upaya peningkatan kesejahteraan penduduk memiliki dampak bagi upaya peningkatan kesejahteraan umum yang didalamnya tercakup indikasi adanya pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menggambarkan perkembangan sosial masyarakat (progress of society). 

Indikator kesejahteraan disusun tidak hanya untuk menggambarkan kondisi kemakmuran material (welfare atau being-well) saja, tetapi justru lebih mengarah kepada kondisi kesejahteraan subjektif (subjective well-being) atau kebahagiaan (happiness). Dalam berbagai pembahasan ilmiah, penggunaan istilah indikator kebahagiaan (indicator of happiness) dapat saling dipertukarkan (interchangable) dengan indikator kesejahteraan subjektif (indicator of subjective well-being) karena pada dasarnya kedua istilah tersebut memiliki makna yang hampir serupa (Veenhoven, 2015), meskipun bagi beberapa psikolog atau sosiolog kedua makna tersebut dianggap memiliki makna yang berbeda(Graham,2011).

Sementara, dari sudut pandang psikologi positif, indikator kebahagiaan memiliki makna dan cakupan yang tidak hanya terbatas pada evaluasi subjektif terhadap kondisi kehidupan yang menyenangkan (pleasant life) dan kondisi kehidupan yang baik (being-well atau good life), tetapi juga pada kondisi kehidupan yang bermakna (meaningful life). Sementara itu, indikator kebahagiaan juga merupakan ukuran yang menggambarkan tingkat kesejahteraan karena kebahagiaan merupakan refleksi dari tingkat kesejahteraan yang telah dicapai oleh setiap individu (Kapteyn et al., 2004). 

Jumlah penduduk Sumatera Utara di tahun 2021  menurut data BPS berjumlah sekitar 14,80 juta jiwa, jumlah ini bertambah sebanyak 1,82 juta jiwa atau rata-rata bertambah sebanyak 181.720 ribu jiwa setiap tahun dibandingkan dengan sensus penduduk 2010 (SP2010) dimana jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 12,98 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,28 persen per tahun, ini berarti pemerintah daerah harus lebih optimal dalam upaya peningkatan pemenuhan kebutuhan  dasar masyarakat serta peningkatan pelayanan di Sumatera Utara.

Pandemi Covid-19 yang terjadi diawal bulan maret tahun 2020 menyebabkan berbagai sisi kehidupan masyarakat terimbas karena pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar terutama pada kegiatan yang membuat kerumunan di masyarakat, Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Sumut Agustus 2020 sebesar 6,91 persen atau sebanyak 508 ribu orang, yang berarti meningkat 1,52 persen poin atau meningkat sebesar 109 ribu orang dibandingkan dengan Agustus 2019 (data BPS), sebanyak 1,23 juta warga tedampak covid-19 atau 11,51 persen dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tw 3 tahun 2020 sebesar -2,6 persen. 

Disisi lain pemeritah daerah menggelontorkan dana Penanggulan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp.7,12 trilun untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat rentan miskin dan miskin serta untuk mendukung dunia usaha.

Perlahan-lahan pemulihan perekonomian Sumatera Utara  mulai nampak diakibatkan penurunan level PPKM di berbagai kabupaten/kota, Geliat usaha berangsur-angsur mulai hidup kembali di masyrakat terutama usaha mikro dan kecil. Tercatatat pertumbuhan ekonomi triwulan 3 di sumatera utara tahun 2021 sebesar 3,67 persen, kemudian tingkat pengangguran terbuka pada agustus tahun 2021 sebesar 6,33 persen. Angka ini turun sebesar 0,58 persen bila dibandingkan dibulan yang sama tahun 2020.

Realese data Survei Penilaian Tingkat Kebahagian (SPTK) Tahun 2021 oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan indeks kebahagian penduduk Sumatera Utara sebesar 70,57 persen yang mana angka ini masih dibawah angka nasional yakni sebesar 71,49 persen. Apabila angka Sumatera Utara ini dibandingkan dari tahun 2017 yakni sebesar 68,41 persen, terdapat kenaikan tingkat kebahagian Masyarakat sebesar 2,08 persen. Dari data tersebut dapat dilihat adanya kenaikan tingkat kebahagian masyarakat di Provinsi Sumatera Utara. 

Penghitungan indeks kebahagiaan ini diukur oleh 3 demensi yaitu dimensi kepuasan hidup (life satisfaction),dimensi perasaan (affect) dan yang terakhir dimensi makna hidup (eudomonia). Hal ini menggambarkan bahwa masyrakat di Sumatera Utara tetap bahagia walaupun dengan kondisi pandemi covid-19 yang masih berlangsung.

Masyarakat masih menunggu dan mengharapkan kerja nyata pemerintah daerah dalam melakukan program-program pemulihan ekonomi sehingga efek pandemi ini cepat berakhir. 



Komentar Anda

Berita Terkini