MERAWAT KEBERAGAMAN UNTUK MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN IMM YANG PROGRESIF DAN KOLABORATIF

harian9 author photo

 


Oleh: Mahathir Matondang.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Quran Surah Al Hujurat Ayat 13).

Dewasa ini, kita banyak dihadapkan pada persoalan perbedaan di tengah-tengah kehidupan. Perbedaan yang acapkali menimbulkan konflik dan gesekan yang tidak terhindarkan. Kadangkala, setelah kita mendengar secara utuh duduk perkaranya justru konflik dan gesekan yang ditimbulkan oleh hal yang sepele saja. Perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan, bahkan pilihan politik kerap kali menjadi api yang menyulut gelombang konflik di masyarakat. Apabila kita merunut gelombang konflik yang ditimbulkan akibat perbedaan ini, akan banyak data yang kita temukan. Meiliana, misalnya. Wanita asal Tanjungbalai ini menuai konflik akibat dari protesnya pada volume suara azan yang berkumandang dari masjid di dekat rumahnya tahun 2016 silam. Protes yang ia layangkan kepada Kasidik, seorang nazir masjid yang kemudian memberi tahu protes tersebut pada jamaah masjid setelah sholat magrib. Jamaah masjid yang pitam kemudian menimbulkan kerusuhan dengan menyerbu kelenteng dan vihara di sekitar Kota Tanjungbalai. Sepanjang malam suasana penuh mencekam. Dampaknya, sedikitnya tiga vihara, delapan kelenteng, dua yayasan Tionghoa, satu tempat pengobatan, dan rumah Meiliana rusak. Buntut dari kerusuhan ini, Meiliana ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama pada Maret 2017 hingga dijatuhkan vonis pada 21 Agustus 2018 oleh Pengadilan Negeri Medan dengan satu tahun enam bulan kurungan.

Kasus lain yang juga bernada penistaan agama datang dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sosok yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta itu melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Di sana, ia menggelar dialog dengan masyarakat setempat sekaligus menebar empat ribu benih ikan. Dalam kunjungan kerja tersebut, Ahok meminta warga tidak khawatir terhadap kebijakan yang diambil pemerintahannya jika dia tidak terpilih kembali, sambil menyisipkan Surah Al Maidah ayat 51. Video ini kemudian diupload di youtube resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

 Rupanya, kalimat yang disampaikannya menuai polemik. Semua media online bernama MediaNKRI menyebarkan video tersebut melalui media sosial. Hal itu juga memantik perhatian seorang dosen, Buni Yani. Buni lantas men-download video tersebut, menerjemahkannya dan mengunggahnya kembali lewat akun Facebook miliknya. Unggahan Budi Yani lantas menjadi viral dan dia jadi tersangka memantik permusuhan bernuansa suku, agama, dan ras.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan video Ahok yang menyinggung surah Al-Maidah 51 saat berbicara di Pulau Seribu adalah penistaan agama. Setelah melakukan kajian, MUI menyebut ucapan Ahok memiliki konsekuensi hukum. Fatwa MUI itu membuat sejumlah umat Muslim juga melaporkan Ahok ke polisi. Mereka menganggap Ahok telah melakukan penistaan agama melalui kata-katanya. Salah satunya Front Pembela Islam (FPI). Di bawah kepemimpinan Muhammad Rizieq Syihab, FPI menjadi garda terdepan untuk meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Mereka menggelar demo di depan Balai Kota DKI Jakarta pada 14 Oktober 2016 lalu. Merasa tidak ditanggapi, mereka lantas mengumumkan akan menggelar Demo lanjutan, aksi ini diberi nama Demo Bela Islam jilid II, yang digelar 4 November 2016 lalu. Demo pun digelar, masyarakat memenuhi jalan protokol di pusat pemerintahan. Seputar jalan Medan Merdeka, hingga MH Thamrin dipenuhi lautan manusia. Para pendemo mendesak agar Presiden Jokowi hadir dan menemui mereka, namun hingga malam permintaan itu tak dipenuhi. Sayangnya, aksi damai yang berlangsung pada siang harinya dirusak dengan kericuhan di depan Istana. Polisi dan pendemo terlibat bentrokan fisik, mulai dari lemparan batu, botol hingga dibalas dengan tembakan gas air mata. Melihat aksi mulai berlangsung anarkis, Jokowi kembali ke Istana jelang tengah malam. Dia menggelar rapat terbatas secara mendadak. Lewat tengah malam, dia meminta rakyat agar tenang dan tetap beraktivitas.

Di hari yang sama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengumumkan gelar perkara akan dilakukan secara terbuka. Kebijakan itu diambil berdasarkan permintaan Jokowi. Gelar perkara pun dilaksanakan Selasa, 15 November 2017. Semua pihak dipanggil, termasuk anggota DPR. Dimulai pukul 09.15 WIB, gelar perkara resmi ditutup pukul 20.30 WIB. Esok harinya, Bareskrim Polri meningkatkan status kasus dugaan penistaan agama dari penyelidikan menjadi penyidikan. Penyidik juga menetapkan Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka.

Kehebohan kasus Ahok tak sampai di situ. Usai ditetapkan sebagai tersangka, sejumlah eleman masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) mendesak kasus Ahok segera disidangkan. Aksi ini berlanjut dengan Aksi Bela Islam Jilid 2 yang digelar 2 Desember 2017 atau disebut 212. Inilah aksi terbesar selama ini dengan pengikut mencapai jutaan orang. Kasus dugaan penistaan agama ini membuat perolehan suara Ahok- Djarot amblas. Pada putaran kedua, Anies Baswedan- Sandiaga Uno berhasil memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Sidang kasus Ahok berlangsung lebih dari 20 kali. Mengundang berbagai macam ahli, mulai ahli komunikasi sampai ahli agama. Pada sidang ke-21 yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto. Ahok divonis lebih berat dari tuntutan. Dalam penuntutan, Ahok dituntut jaksa satu tahun penjara dengan dua tahun percobaan.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan sering kali mengemukakan soal merawat keberagaman. “Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman. Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan serta golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia,” ucap Presiden dalam pidatonya sebagai Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2017. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran, dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong, dan toleran. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan Indonesia bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat di mata internasional.

Namun demikian, kita juga harus waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila. Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang anti Pancasila, anti UUD 1945, anti NKRI, anti Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah pasti bertindak tegas jika masih terdapat paham dan gerakan komunisme yang jelas-jelas sudah dilarang di bumi Indonesia. 

Hal senada disampaikan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, “Toleransi adalah kuncinya. Toleransi membimbing kita pada moderasi beragama sehingga terhindar dari fanatisme yang dapat mengarah pada fundamentalisme, radikalisme maupun ekstremisme,” tutur Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat meresmikan enam rumah ibadah di Universitas Pancasila, Jalan Raya Lenteng Agung, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Januari 2022. Lebih lanjut Wapres menyampaikan, toleransi di Indonesia bukan merupakan gagasan baru. Toleransi telah diperkenalkan oleh para pendiri bangsa sejak dahulu, salah satunya tercantum dalam 5 sila pada Pancasila. Pada kesempatan yang sama, Wapres pun menyampaikan, bahwa pembangunan rumah ibadah agama-agama yang berdekatan pada satu area merupakan salah satu bentuk pengamalan nilai luhur Pancasila dalam mengokohkan toleransi antarumat. Sehingga, ia berharap hal ini tidak hanya dijadikan sebagai simbol toleransi semata namun juga sebagai bentuk memperkuat sinergi lintas agama.

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu sosial, sebab prinsip-prinsip dan rumusanya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia. Kepemimpinan yang efektif harus memberikan pengarahan terhadap usaha-usaha semua pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tanpa kepemimpinan atau bimbingan, hubungan antara tujuan perseorangan dan tujuan organisasi mungkin menjadi renggang (lemah). Keadaan ini menimbulkan situasi dimana perseorangan bekerja untuk mencapai tujuan pribadinya. Sementara itu keseluruhan organisasi menjadi tidak efisien dalam pencapaian sasaran-sasarannya. Oleh karena itu kepemimpinan sangat diperlukan jika suatu organisasi ingin sukses. Jadi, organisasi perusahaan yang berhasil memiliki satu sifat umum yang menyebabkan organisasi tersebut dapat dibedakan dengan organisasi yang tidak berhasil sifat dan cara umum tersebut adalah kepemimpinan yang efektif.

Dalam Islam, kepemimpinan identik dengan istilah “khalifah” yang berarti pengganti. Pemakaian kata khalifah setelah Rasulullah SAW sama artinya yang terkandung dalam perkataan “amir” atau penguasa. Oleh karena itu kedua istilah dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pemimpin formal. Selain kata khalifah disebut juga “ulil amri” yang satu akar dengan kata amir sebagaimana di atas. Kata “ulil amri” berarti pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam. Dalam pengertian lain, Islam juga memaknakan pemimpin dengan “imamah”. Imam Abu Hasan al-Mawardi mengartikan imamah sebagai penjaga agama dan pengurus dunia (hiraasatid diin wa siyaasatid dunya). 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan progresif sebagai ke arah kemajuan; 2 berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang (tentang politk); 3 bertingkat-tingkat naik (tentang aturan pemungutan pajak dan sebagainya). Dalam konsep ini progresif berarti kemajuan, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Progresitivitas berarti siap melakukan gerak langkah kea rah kemajuan, berorientasi pada perbaikan keadaan dan kehidupan. Kepemimpinan yang progresif akan lahir dari proses yang panjang dan bervisi jauh ke depan. Kepemimpinan yang progresif akan mementingkan proses yang detail dan menyeluruh, tidak semata-mata ingin cepat dan ringkas dalam memperoleh tujuan. Pemimpin yang progresif akan siap menerima kritik, masukan, dan saran yang bersifat konstruktif untuk kemajuan dan perkembangan.

Kolaborasi, merupakan sebuah proses yang dilandasi oleh 7 nilai-nilai inti (seven core values). Menaruh penghargaan pada orang lain, kehormatan dan integritas, kepemilikan dan aliansi, konsensus, tanggungjawab penuh dan akuntabilitas, hubungan atas kepercayaan, serta pengakuan dan perkembangan. (respect for people, honor and integrity, ownership and alignment, consensus, full responsibility and accountability, trust-based relationships, and recognition and growth). Dari nilai-nilai inti tersebut dapat terbentuk sebuah kebudayaan kerangka kerja yang secara keseluruhan membentuk kolaborasi dan menghasilkan kinerja yang efektif. Kolaboratif merupakan calon utama yang akan mengambil alih hierarki sebagai prinsip organisasi, dan mulai dengan prinsip kepemimpinan dan manajemen unit kerja yang diperlukan pada era globalisasi ini. Kolaborasi merupakan prinsip dasar proses bekerja sama, yang menghasilkan kepercayaan, integritas, dan terobosan dengan membangun konsensus yang asli, kepemilikan, dan penyearahan dalam segala aspek organisasi. Singkatnya, kolaborasi adalah cara yang sangat didambakan oleh mereka yang ingin bekerja.

Kepemimpinan Kolaboratif adalah pola pikir kepemimpinan yang melibatkan orang banyak dan menggabungkan ratio, emosi dan semangat dalam proses pemecahan masalah merupakan salah satu perubahan yang timbul dalam ilmu manajemen, merupakan perubahan drastis pola pikir kepemimpinan. Kepemimpinan kolaboratif adalah gaya kepemimpinan yang berusaha mengumpulkan masukan dan ide dari berbagai sumber sebelum mengambil keputusan atau mengambil tindakan. Kepemimpinan kolaboratif adalah bentuk manajemen yang relatif baru yang menempatkan pemimpin tradisional dalam peran fasilitator daripada penguasa otoriter.

Inti dari kepemimpinan kolaboratif adalah bahwa kelompok yang bekerja bersama menuju tujuan bersama dapat menciptakan strategi yang lebih baik dan membangun praktik yang bermakna secara lebih efektif daripada yang dapat dilakukan oleh satu orang saja.

Kolaborasi merupakan kunci utama dalam suatu kepemimpinan. Kunci kolaborasi ini menjadikan setiap individu merupakan sosok yang penting dalam mengerjakan pekerjaannya di perusahaan. Kolaborasi ini akan semakin kuat apabila setiap individu atau kelompok diberikan peran pada setiap masing – masing pekerjaannya selanjutnya pemimpin berperan sebagai konduktor yang memastikan bahwa semua tim nya berjalan sesuai dengan alurnya. Kolaborasi akan semakin terasa bila ikon atau sosok yang menggerakan memang seorang yang sangat menginspirasi, baik itu karena karyanya atau prestasinya dalam bekerja. Kolaborasi membuat setiap elemen bergerak dengan energi tanpa batas dan tak kenal ruang-waktu sehingga akan merasakan sebuah kolaborasi yang dibangun dengan platform kerja yang terbuka, mampu mendorong karya baru, mampu menghasilkan inovasi baru, dan akan merasa lebih baik dan menjadi individu yang lebih bermanfaat dengan kolaborasi ini.

Kepemimpinan kolaboratif merupakan kebalikan dari kepemimpinan otoritatif. Tipe pemimpin ini percaya bahwa solusi dan pemecahan masalah datang dari para anggota timnya. Biasanya, pemimpin kolaboratif sangat bergantung pada teknik brainstorming, sehingga mereka membutuhkan ide-ide baru dan inovasi dari anggota tim. Keuntungan menerapkan gaya kepemimpinan ini adalah adanya potensi inovasi yang luar biasa. Penyebabnya adalah tingginya keterlibatan dan motivasi anggota karena pendapat mereka lebih dihargai.

Namun, kepemimpinan kolaboratif ada juga kerugiannya. Kemampuan decision-making seorang pemimpin tidak berkembang apabila mereka terlalu bergantung pada opini dan keputusan anggota tim mereka. Ujung-ujungnya, perkembangan tim menjadi terhambat.

Kolaborasi menjadi kunci kepemimpinan Indonesia kedepan. Pemimpin dengan wajah baru harus bisa menggerakan masyarakat dengan nilai dan energi yang kuat sehingga masyarakat tergerak. Kunci kolaborasi adalah menjadikan setiap orang adalah sosok penting dalam kerja bersama ini. Kolaborasi juga bisa semakin kuat dengan pola organisasi berbasis jaringan; setiap kelompok diberikan peran yang sama-sama strategis dan pentingnya, dan pemimpin berperan sebagai Konduktor yang memastikan semua jejaring ini bergerak pada arah yang sama. Kolaborasi akan semakin terasa bila ikon atau sosok yang menggerakan memang seorang yang menginspirasi; baik itu karena karya maupun karena narasi yang dibangun. Sosok hadir sebagai pemimpin bukan karena dia memaksakan kehendak, namun hadir karena pengakuan masyarakat luas atas akumulasi kebaikan yang telah dan tengah dilakukan. 

Kolaborasi membuat setiap elemen bergerak dengan energi tanpa batas dan tak kenal ruang-waktu; karena mereka merasakan sebuah kolaborasi yang dibangun dengan platform kerja yang terbuka, mampu mendorong karya baru, mampu menghasilkan inovasi baru, dan membuat mereka merasa lebih baik dan menjadi manusia lebih bermanfaat dengan kolaborasi ini. 

Kolaborasi yang dibangun bukan sekedar mengangkat sebuah tokoh, tetapi mengangkat sebuah nilai perjuangan bersama; yang mana mereka percaya dengan tokoh yang ada, rencana baik ini dapat terwujud.

Opini ini Disusun untuk Memenuhi Persyaratan sebagai Calon Ketua Umum pada Musyawarah Cabang XXIV IMM Kota Medan.

(WM-49)


Komentar Anda

Berita Terkini