Merawat Keberagaman untuk Mewujudkan Kepemimpinan IMM Yang Progresif Dan Kolaboratif

harian9 author photo

 Oleh: Ashshaf Fathur Anha
Secara empirik, masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Dalam kajian furnival masyarakat majemuk (plural society) merupakan masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen atau tatanan sosial yang hidup berdampingan, namun tanpa membaur dalam satu unit politik yang tunggal. Isu keragaman kadang tidak terlalu diperhatikan karna sebagian orang menganggap hal ini sepele. 

Padahal dalam isu keragaman ini dapat membuat kita sesama bangsa menjadi terpecah belah dikarenakan perdebatan dan pertengkaran yang harusnya tidak terjadi. Sadar atau tidak sadar kita sering kali lupa bahwa keberagaman itu ada dan harus dijunjung tinggi. Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah akan terus mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju indonesia yang lebih baik. Bagi seorang pemimpin, sangat wajib hukumnya untuk dapat mengetahui secara mendalam seluk beluk organisasi yang dikepalainya. 

Dalam hal ini, ia melakukan suatu pendekatan guna memahami masing-masing anggotanya entah itu latar belakang agama, bahasa, suku, budaya, hingga tradisi. Selain memaklumi keberagaman yang terdapat dalam organisasinya, ia juga dituntut untuk menyikapinya dengan baik sehingga mampu menyatukan perbedaan tersebut dalam satu kesatuan (to make a unity in a diversity).

Definisi Kolaborasi merupakan proses partisipasi beberapa orang, kelompok, dan organisasi yang bekerja sama untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kolaborasi menyelesaikan visi bersama, mencapai hasil positif bagi khalayak yang mereka layani, dan membangun sistem yang saling terkait untuk mengatasi masalah dan peluang. Kolaborasi juga melibatkan berbagi sumber daya dan tanggung jawab secara bersama merencanakan, melaksanakan dan melaksanakan program-program untuk mencapai tujuan bersama. Anggota harus berbagi visi, misi, kekuatan, sumber daya dan tujuan. 

Tujuan dari kolaborasi adalah untuk membawa individu, lembaga, organisasi, dan masyarakat itu sendiri bersama-sama dalam suasana yang mendukung secara sistematis memecahkan masalah yang ada dan muncul yang tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja. Kolaborasi harus fokus pada peningkatan, komunikasi kapasitas dan efisiensi sekaligus meningkatkan hasil. Jadi agar terwujud nya kepemimpinan IMM yang progresif dan kolaboratif sangat memerlukan visi dan misi yang sama dan memiliki rencana kerja yang jelas. Berikut cara merawat kepemimpinan yang progresif dan kolaboratif antara lain: Karakteristik kepemimpinan progresif dapat terlihat dari lima hal berikut:

1. Kepemimpinan progresif menjunjung tinggi keteladanan, bukan hanya pandai bicara. Pemimpin akan mendapatkan hak dan rasa hormat dengan mewujudkan keinginan orang-orang yang ia pimpin.

2. Kepemimpinan progresif mampu memunculkan keinginan kuat dari orang lain untuk menjadi bagian dari visi. 

3.  kepemimpinan progresif memiliki keinginan kuat untuk tetap berada di depan kurva. Untuk tujuan ini, mereka secara teratur melangkah ke hal yang tidak diketahui dengan melakukan hal-hal yang belum dilakukan oleh orang lain dan atau melakukan hal-hal yang berbeda dari orang lain.

4.  Kepemimpinan progresif memungkinkan orang lain untuk bertindak dengan menciptakan lingkungan yang mampu dan saling percaya, berdasarkan kolaborasi dan akuntabilitas. Hal tersebut memungkinkan orang-orang yang dipimpin menjadi inovatif, bahkan berimprovisasi, jika memungkinkan, tanpa takut ditegur. 

5. Para pemimpin progresif berempati pada orang-orang yang dipimpin melalui pengakuan dan perayaan kesuksesan.

Pada prinsipnya, kepemimpinan progresif adalah kepemimpinan yang sadar dan responsif terhadap kebutuhan mendasar masyarakat atau bagi sebuah lembaga.  Kepemimpinan progresif tidak bergerak bak menara gading yang tak tersentuh, tapi manunggal dengan semua persoalan orang-orang yang dipimpin. Untuk itu, seorang pemimpin progresif haruslah memiliki sikap tidak mudah kagum (gumunan), tidak mudah menyesal (getunan), tidak mudah terkejut (kagetan), serta tidak manja (aleman). Dengan begitu, ia tidak akan gentar berhadapan dengan situasi sesulit apa pun.

Berikut ada lima syarat yang perlu diterapkan dalam pimpinan kolaboratif antara lain:

1. Harus memiliki visi yang sama dan jelas, dengan adanya visi yang sama dan jelas juga dapat memperkuat dan membangun kesuksesan bersama.

2.  Harus memiliki inovasi, kreativitas, dan fleksibilitas yang harus dimiliki pemimpin dan juga anggotanya. Peran pemimpin harus mendorong tiap anggota untuk memiliki pemikiran dan kemampuan tiga hal tersebut sebagai bentuk pengembangan.

3. Harus memiliki komitmen untuk menciptakan suasana kondusif

 4.  Harus memiliki komunikasi yang terbuka antara satu dan lainnya.

5.  Harus memiliki kolaborasi vertikal dan horizontal. Yang mana mampu mendorong semua pihak terlibat sebagai tujuan meningkatkan efektivitas.

Alasan utama mengapa organisasi kehilangan peluang untuk meningkatkan posisi bisnis mereka adalah rasa takut akan kolaborasi, bahkan ketika kolaborasi semacam itu menawarkan keunggulan kompetitif yang jelas. Tim eksekutif dapat ragu untuk berkolaborasi karena mereka percaya kolaborasi tersebut memberikan wawasan pesaing ke dalam kekayaan intelektual (ip), produk, atau proses mereka.  

Kolaborasi, menurut mereka, dapat memberikan lebih banyak keunggulan kompetitif daripada keuntungan. Para eksekutif ini lebih fokus pada pengelolaan risiko daripada pada memimpin dengan berani. Mereka seharusnya tidak memimpin kolaborasi. Organisasi yang ingin memimpin kolaborasi multi-organisasi pertama-tama harus percaya bahwa keunggulan kolaborasi lebih besar daripada risikonya. Eksekutif dalam organisasi ini harus bersedia membantu organisasi anggota untuk berbagi keuntungan, dan mempercayai. Mereka melihat nilai mengorbankan sejumlah keuntungan jangka pendek untuk kepemimpinan pasar jangka panjang. Kualifikasi pertama untuk memimpin kolaborasi adalah pola pikir yang mau dipercaya lebih dulu.  

Sikap seorang pemimpin yang kolaboratif

1. Inklusif Ekstrim (Extreme Inclusiveness)

Pemimpin kolaboratif mampu membangun visi yang kuat untuk masa depan yang sangat inklusif. Perhatikan bahwa visi ini memiliki dua bagian. Pertama, masuk akal dari perspektif bisnis. Ini dengan benar memandang pasar, peluang yang relevan, dan bagaimana kolaborasi dapat memenuhi kebutuhan pasar yang unik. Kedua, visinya inklusif dan memandang organisasi anggota lebih dari sekadar penting. Anggota dipandang sangat penting untuk keberhasilan kolaborasi. Pemimpin kolaboratif memahami pentingnya setiap organisasi dan pemahaman itu mendorong setiap tindakan yang dilakukan pemimpin. Inklusivitas menciptakan lingkungan yang memfasilitasi keterlibatan, kinerja, dan membedakan kolaborasi. Inklusivitas meningkatkan kekuatan informal pemimpin dan mengurangi resistensi terhadap perubahan. Kualifikasi kedua untuk memimpin kolaborasi adalah kemampuan untuk memandang organisasi lain sebagai hal yang penting bagi kolaborasi.

2. Tidak mementingkan diri sendiri (selflessness)

Pemimpin kolaboratif memposisikan organisasi mitra secara adil bahkan ketika itu berarti memposisikan mitra di depan organisasi mereka sendiri. Pemimpin kolaboratif melakukan ini karena mereka tahu itu membangun kepercayaan jangka panjang yang melepaskan kinerja kolaborasi. Perhatikan bahwa mementingkan diri sendiri bisa bertentangan dengan pembelajaran anda sebelumnya untuk selalu mengutamakan organisasi anda. Kualifikasi ketiga untuk memimpin kolaborasi adalah kemampuan untuk menempatkan organisasi lain di atas organisasi anda sendiri jika perlu.  

3.total transparency

Pemimpin kolaboratif lebih dari kolaboratif, mereka transparan. Transparansi berarti bahwa motivasi setiap tindakan jelas bagi semua orang. Dengan cara ini pemimpin kolaboratif meyakinkan bahwa organisasi anggota melihat bahwa satu-satunya agenda adalah agenda kolaboratif. Pemimpin kolaboratif hanya bekerja untuk tim. Tidak ada agenda tersembunyi. Kualifikasi keempat untuk memimpin kolaborasi adalah terbuka dan jujur dalam segala hal dan memastikan bahwa tidak ada persepsi tentang agenda tersembunyi.  

4.ultra-communication

Definisi kata "ultra" adalah "melampaui apa yang biasanya diharapkan". Inilah arti sebenarnya yang kita tuju di sini. Pemimpin kolaboratif memahami bahwa jika ada organisasi anggota yang gagal mendapatkan informasi penting, kepercayaan adalah korban pertama. Untuk alasan ini, komunikasi bahkan lebih penting dalam kolaborasi daripada dalam operasi organisasi internal. Para pemimpin kolaboratif merancang berbagai mode komunikasi untuk memastikan semua organisasi anggota selalu mendapat informasi secepat mungkin. Ini paling penting di awal kolaborasi ketika tingkat kepercayaan paling rendah. Komunikasi yang baik membangun kepercayaan. Komunikasi yang buruk menghancurkannya. Kualifikasi kelima untuk memimpin kolaborasi adalah kemampuan untuk merancang dan mengimplementasikan berbagai mode komunikasi yang memastikan komunikasi yang cepat dan andal untuk semua organisasi anggota.   

5.tujuan yang lebih tinggi  (higher purpose)

Pemimpin kolaboratif berusaha untuk mengikat pekerjaan kolaborasi multi-organisasi dengan tujuan yang lebih tinggi yang bermakna bagi semua organisasi anggota. Contohnya termasuk apa pun yang meningkatkan dunia yang lebih besar atau kehidupan orang. Tujuan yang lebih tinggi melampaui alasan bisnis untuk melakukan kolaborasi. Mengingat bahwa kolaborasi multi-organisasi seringkali merupakan upaya besar, menghubungkannya dengan tujuan yang lebih tinggi harus mudah. Perhatikan bahwa tautan antara kolaborasi dan tujuan yang lebih tinggi harus asli atau dibuang. 

Kolaborasi berbagai organisasi yang bekerja untuk tujuan bersama yang lebih tinggi membangun kepercayaan dan menyatukan tim. Kualifikasi keenam untuk memimpin kolaborasi adalah kemampuan untuk secara otentik menghubungkan kolaborasi ke tujuan yang lebih tinggi. 

IMM lahir sebagai organisasi pergerakan mahasiswa Muhammadiyah yang bergerak dalam konteks tiga nilai ideologis, Intelektualitas, Relegiusitas, dan Humanitas, hal itu merupakan basic identitas kader IMM yang menunjukan bahwa IMM adalah organisasi kader, pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah dalam membangun generasi pemimpin masa depan kaum muda Muhammadiyah. Kader IMM masih harus terus memperkuat identitas sebagai kader Persyarikatan dengan proses yang sudah dijelaskan diatas, dan saya biasa menyebutnya literasi, diskusi, aksi. Mari terbangun dari tidur dogmatis (Immanuel Kant) Modernitas adalah harga mati dari sebuah pengintegrasian metafisik, dan bukanlah sebagai disintegrasi Intlektual. (Thomas Aquinas). 

Karena ini pilihan yang bisa kita sendiri yang menentukan, ingin menjadi Progresif atau Dekadensi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang berlandaskan al-quran dan as-sunnah, merupakan organisasi berbasi pergerakan mahasiswa yang mempunyai tiga nilai ideologis yaitu Intelektualitas, Religiusitas dan Humanitas. Jika di awal ada ungkapan wujud eksistensi pemuda adalah ilmu dan ketaqwaan, maka IMM melalui tiga nilai ideologis tersebut menjadi sebuah wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan eksistensi dirinya.

Nilai-nilai intelektual dapat tercermin dalam kegiatan yang ada dalam diri seseorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan masalah non-material dengan menggunakan kemampua penalarannya. Dengan kata lain kaum intelektual memiliki kesadaran kritis yang tinggi karena dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca realitas sosial yang sedang terjadi. Hakikat kaum intelektual merupakan sosok ideal yang kegiatan utamanya tidak mengejar tujuan-tujuan praktis, melainkan diarahkan kepada pencarian dalam mengolah seni, ilmu atau renungan metafisik, agar menjadikan kader autentik. Nilai ideologis yang kedua adalah nilai religiusitas, kader-kader IMM seyogianya perlu menanamkan dan mempunyai nilai religiusitas yang tinggi dalam dirinya. Perwujudan dari eksistensi pemuda menurut Imam Syafi’i yang kedua adalah nilai religiusitas atau ketaqwaan terhadap Alllah SWT. Taqwa berarti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Nilai religiusitas ini tentu tidak mudah didapatkan karena hal tersebut merupakan pengalaman spiritual yang didapat dari proses pentafakuran diri sehingga membentuk keyakinan terhadap tuhan yang maha esa. 

Keyakinan tersebut merupakan buah dari kesadaran dan pemikiran bahwa semua hal yang ada di muka bumi mempunyai pencipta yaitu Allah SWT. Nilai ideologis yang terakhir adalah humanis yang merupakan proses manifestasi dari nilai intelektual dan religius seorang kader IMM. Nilai ini menjadi landasan gerakan sosial IMM yang bernafaskan nilai intelektual yang membebaskan dari belenggu kebebalan dan nilai keislaman sebagai nilai transedental kader yang membentuk kepribadian yang islami.Pergerakan organisasi diwarnai dengan gerakan-gerakan aksi nyata sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakan sehingga label agen of change mahasiswa tidak hanya sebagai bualan semata.

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas cara agar merawat keberagaman demi terwujudnya kepemimpinan yang progresif dan kolaboratif dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi itu harus memiliki tanggung jawab yang besar dan mampu memiliki visi dan misi yang sama dengan anggota kelompok agar tercapainya sebuah tujuan yang diharapkan, dan dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pemimpin merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. 

Dan pemimpin mampu mempengaruhi seseorang dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Ketika ada permasalah yang terus meningkat dan persaingan dimana-mana, organisasi mencari metode baru untuk keunggulan kompetitif. 

Salah satu sumber keunggulan ini adalah bermitra dengan organisasi lain untuk meningkatkan jangkauan geografis organisasi, layanan pelengkap, meningkatkan kapasitas, dan mendapatkan akses ke geografi atau pasar baru. Beberapa kemitrsaan yang muncul ini memiliki cakupan yang kecil dan durasinya pendek. Namun, beberapa kemitraan jauh lebih besar dengan potensi bisnis yang lebih tinggi. Kemitraan ini (kolaborasi) menuntut perilaku baru dari organisasi, khususnya organisasi yang ingin memimpin mereka. 

Masalah khusus untuk kolaborasi jangka panjang karena tidak ada organisasi tunggal yang bertanggung jawab dan tidak ada yang bertanggung jawab untuk memimpin perubahan berkelanjutan yang diperlukan untuk menjaga kolaborasi tetap kuat dan efektif. Salah satu solusi adalah membangun kapabilitas dasar tertentu ke dalam kolaborasi ini sejak awal. Kemampuan-kemampuan ini yang meliputi: pola pikir kolaboratif, inklusivitas ekstrem, tidak mementingkan diri sendiri, transparansi total, ultra-komunikasi, dan tujuan yang lebih tinggi bergabung untuk membangun tingkat kepercayaan yang tinggi yang diperlukan untuk memastikan perubahan yang berkelanjutan.(WM--49)


Komentar Anda

Berita Terkini