Toleransi di Tengah Keberagaman di Sumatera Utara

harian9 author photo


Oleh:
Rahmad Dani, S.Si
Statistisi Ahli Pertama BPS Kab. Serdang Bedagai


Tanggal 1 Februari 2022 merupakan hari raya Tahun Baru Imlek  yang dirayakan oleh seluruh warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia, tak terkecuali warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Sumatera Utara. 

Badan Pusat Statistik (BPS)  mencatat jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2021 sebanyak 14,80 juta jiwa, dari jumlah tersebut terdapat 368 ribu jiwa atau sekitar 2,49 persen merupakan penduduk keturunan Tionghoa, apabila kita melihat agama dan kepercayaan yang dianut warga di Sumatera Utara sebanyak 9,5 juta jiwa beragama Islam, 4 juta jiwa beragama Protestan, 1,1 juta jiwa beragama Katolik kemudian 14 ribu jiwa beragama Hindu selanjutnya 366 ribu jiwa beragama Buddha dan 27 ribu jiwa beragama Konghucu.

Disisi lain jika penduduk berdasarkan suku bangsa di Sumatera Utara terdapat 33,4 persen bersuku (di pulau Jawa) seperti Banten, Sunda, Betawi, Jawa dan Madura kemudian 25,62 persen bersuku Tapanuli atau Toba, Mandailing sebesar 11,27 persen, Nias sebesar 6,26 persen, Melayu sebesar 5,96 persen, Karo sebesar 5,09 persen dan terakhir suku lainnya sebesar 12,4 persen yang terdiri dari suku Minang, Simalungun, Tionghoa, Aceh dan Pakpak.

Komposisi masyarakat di Sumatera Utara yang beraneka ragam seperti ini bisa menimbulkan benturan kepentingan antar satu dengan yang lain, baik antar sesama kelompok yang sama atau antar kelompok yang berbeda. 

Kita masih ingat kerusuhan Mei 1998 dimana konflik antara warga pribumi dan keturunan khususnya etnis Tionghoa itu pecah mengakibatkan kerugian harta benda bahkan kehilangan nyawa. Sejarah kelam bangsa ini tentang intoleransi satu kelompok dengan kelompok yang lain menjadi catatan sendiri mengenai ketidakmampuan kita sebagai bangsa dalam mengelola perbedaan yang ada ditengah masyarakat.

Sejak Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 sekaligus menjadikan masyarakat Tionghoa diberi kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya termasuk merayakan upacara-upacara Agama seperti Imlek, Cap Go Meh dan sebagainya secara terbuka. Kemudian pada 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. 

Perayaan Imlek sebagai hari nasional baru dilakukan pada era Presiden Megawati Soekarnoputri melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002.Hal tersebut merupakan tonggak sejarah pengakuan Negara terhadap warga keturunan Tionghoa.

Kesetaraan hak dan kewajiban antara warga pribumi dan warga keturunan sudah diatur oleh undang-undang, tinggal lagi kita sebagai warga mampu menyikapinya secara baik dan bijaksana. Toleransi antar sesama pemeluk agama yang berbeda harus ditingkatkan dikarenakan dimasa sekarang isu-isu agama dan identitas selalu menjadi bahan untuk memecah belah kita sebagai warga  masyarakat di Sumatera Utara.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di acara sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja Indoneisa (MPL-PGI) 25/1/2021, Beliau menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, merawat kemajemukan merupakan upaya penting demi terwujudnya persatuan Indonesia.

”Toleransi adalah sikap yang mulia dalam menghadapi keberagaman dan persatuan hanya akan muncul jika kita mengakui dan menghormati perbedaan," ujar presiden. 

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengatakan  pada acara peresmian Taman hijau dan Patung Dr.Il Nomensen  di Pematang Siantar 4/12/2020, Beliau Menyatakan di Provinsi Sumut ada perbedaan suku, agama, dan ras namun semuanya dapat berkumpul dengan tidak memandang perbedaan itu semua. 

"Mari kita jaga toleransi di Sumatra Utara yang sudah terjalin sangat baik," ajaknya.

Islam Mengajarkan pemeluknya untuk toleransi terhadap agama lain, hal ini terkandung dalam Alquran di Surah Al Kafirun ayat 1-6, Yunus ayat 40-41, Al Mumtahanah ayat 8, Al Hajj ayat 40, begitu juga bagi pemeluk agama Kristen diajarkan untuk toleransi, hal ini terdapat di kitab Injil pada Yohanes 13:34 kemudian Matius 5:44 dan Yakobus 2:8. Hindu juga mengajarkan pemeluknya bertoleransi yaitu pembagian Tri Hita Karana sedangkan agama Budha mengajarkan Empat Sifat Luhur (Brahma Vihara) bagi pemeluknya untuk menumbuhkan toleransi antar sesama pemeluk berbeda agama.

Toleransi itu ada di masing-masing ajaran agama yang kita anut di Sumatera utara, jadi tergantung individu kita masing-masing dalam memahami dan menjalankan ajaran agama yang kita anut.

Dilihat dari data Puslitbang Kementerian Agama, indeks kerukunan umat beragama 2021 di Indonesia mencapai nilai72,39.Nilai ini dikatakan baik dikarenakan naik 4,93 poin dari tahun 2020. Indikator Kerukunan Umat Beragama (KUB) tersebut adalah toleransi 68,72, kerja sama 73,41, dan kesetaraan 75,03. Kita berharap sebagai masyarakat Sumatera Utara dari hasil survei ini merupakan cerminan yang terjadi di masyarakat sehingga kita merasakan sikap toleransi antar warga masyarakat semakin meningkat.

Sikap toleransi yang tinggi akan membuat kelompok masyarakat yang mayoritas akan menjaga dan melindungi kelompok masyarakat yang minoritas dan juga sebaliknya kelompok masyarakat minoritas akan menghormati dan menghargai kelompok yang mayoritas.

Komentar Anda

Berita Terkini