Disebabkan Pandemi, Proses Pemulihan Ekonomi Tahun 2022 Masih Berjalan Secara Gradual

harian9 author photo


MEDAN| H9
Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) tumbuh gradual dan lebih tinggi dari periode sebelumnya. Sejalan dengan nasional, ekonomi Sumut pada triwulan IV 2021 tumbuh 3,81% (yoy) dan secara keseluruhan tahun 2021 tumbuh 2,61% (yoy).

"Perkembangan tersebut didorong oleh  kondisi pandemi yang relatif terkendali, tren pemulihan ekonomi global dan masih berlanjutnya stimulus fiskal hingga akhir tahun 2021. Proses pemulihan pun terus berlanjut  di tahun 2022 meski masih berjalan secara gradual," ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (BI Sumut), Doddy Zulverdi pada Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor BI Sumut, Jalan Balaikota Medan, Selasa (29/3).

Ia menuturkan, perekonomian Sumut tahun 2022 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2021 dalam kisaran  3,7% sampai dengan 4,5%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat seiring dengan pemulihan ekonomi dan berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, insentif PPN-DTP dan diskon PPnBM secara bertahap hingga September 2022.

"Namun, perlu diwaspadai sejumlah faktor yang dapat menahan pertumbuhan, seperti konflik geopolitik internasional karena sikap investor yang wait and see serta cenderung berinvestasi kepada aset safe haven," tandasnya.

Disebutkannya, faktor-faktor yang mendorong bias atas diantaranya, pulihnya pendapatan masyarakat yang lebih kuat seiring dengan pemulihan ekonomi akan medorong konsumsi dan peningkatan investasi, namun berpotensi pada kenaikan tekanan inflasi.

"Kemudian, berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, insentif PPN-DTP dan diskon PPnBM secara bertahap hingga September 2022. Lalu, adaptasi kenormalan baru yang diikuti dengan mobilitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata mendorong multiplier efek kepada sektor lain yang lebih luas serta kenaikan pagu anggaran seiring dengan optimisme pemerintah untuk melakukan penyerapan belanja modal dan belanja operasi yang lebih cepat dan lebih besar," pungkasnya.

Sedangkan, faktor-faktor yang mendorong bias bawah diantaranya, merebaknya varian baru Covid-19 serta konflik geopolitik yang berkepanjangan dapat kembali mengganggu rantai pasokan global. 

"Faktor lainnya, konflik geopolitik yang perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan sikap investor yang wait and see dan cenderung berinvestasi kepada aset safe haven. Serta belum optimalnya produksi TBS pada semester I 2022 akibat lebih panjangnya pengaruh dampak tunda kekeringan yang terjadi pada 2019," katanya. (PP-04)

Komentar Anda

Berita Terkini