Upaya Tingkatkan Minat Baca Masyarakat Saat di Bulan Ramadhan

harian9 author photo

Oleh: ELFRIDA SIJABAT, S.Sos., M.I.Kom
Pustakawan Ahli Muda Pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan
E-mail : sijabatelfrida@gmail.com

Tidak  terasa  bulan suci Ramadhan tahun ini baru saja berlalu, meskipun demikian masyarakat Kota Medan yang beragama Islam dalam menjalani ibadah puasa tetap semangat dan menjaga dengan baik  produktivitas sehari-hari. Sebab banyak sekali hal-hal bermanfaat yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu selama puasa, salah satunya dengan membaca buku.
Masyarakat Kota Medan dapat memanfaatkan layanan perpustakaan digital, layanan perpustakaan keliling, Pojok Baca Digital (POCADI) yang dimiliki oleh Dinas perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan. Layanan ini memungkinkan para penggunanya untuk meminjam dan membaca buku secara cuma-cuma tanpa perlu datang ke perpustakaan. 
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan telah mengamanatkan bahwa pembangunan sebuah perpustakaan yaitu bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka atau pengunjung, meningkatkan kegemaran membaca serta sebagai tempat belajar sepanjang hayat (life learning). Hal ini menegaskan bahwa pemerintah wajib dan bertanggung jawab dalam meyelenggarakan dan mengusahakan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga ini merupakan peran dan tugas serta fungsi pemerintah dalam pembangunan. Demikian juga halnya dengan pemerintah Kota Medan tetap berupaya meningkatkan minat baca masyarakatnya khususnya mengisi waktu selama bulan Ramadhan ini.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Medan untuk meningkatkan minat baca masyarakatnya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan adalah :

1. Pojok Baca Digital (POCADI) 
Pojok baca merupakan sebuah sudut ruang yang di atur secara terencana dan di hias semenarik mungkin yang didalamnya dilengkapi dengan rak buku atau box buku serta berbagai koleksi buku yang menarik bagi anak yang berperan sebagai perpanjangan fungsi dari perpustakaan. Di era 4.0 ini, kehadiran internet merupakan salah satu wujud dari perkembangan teknologi. Internet membawa perubahan signifikan terhadap prilaku masyarakat yang berdampak negatif, masyarakat kurang minat dalam membuka buku. Tidak hanya sekedar mampu menggunakan teknologi informasi, keberhasilan suatu bangsa juga dilihat dari seberapa besar masyarkat dalam minat membaca. Pada tahun 2019 hasil studi program for international student assessment (PISA) 2018 telah diliris dari hasil tersebut menyatakan bahwa Indonesia berada diperingkat 72 dari 78 negara yang mengikuti test kompentsi PISA dalam minat membaca. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS RI) melalui perpustakaan daerah kabupaten/kota menghadirkan Pojok baca digital (POCADI) yang merupakan program prioritas kemudian ditempatkan dititik keramaian masyarakat sebagai upaya memberikan akses kemudahan informasi serta memberikan edukasi bagi masyarakat. POCADI ini merupakan sudut baca yang memiliki fungsi layanan perpustakaan. Melalui POCADI pemerintah sedang berusaha memberikan kemudahan akses membaca bagi masyarakat agar dapat dijangkau serta memberikan sarana yang dapat memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Pohan (2020) menyatakan harapan agar program pojok baca digital ini dapat terlaksanan dengan baik, pemerintah diharakan memberikan akses internet yang memadai kepada masyarkat. Adapun dasar-dasar hukum atau regulasi yang telah dilahirkan dalam pelaksanaan Pojok Baca Digital ini: a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan; b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan; d. Standar Nasional Perpustakaan Umum; e. Pedoman Perpustakaan Kabupaten/Kota. 
Dalam hal ini pemerintah memiliki kebijakan yang berpengaruh terhadap mewujudkan cita-cita bangsa, menjadikan peradaban bangsa yang bermartabat, berdedikasi, serta berintektual tinggi direalisasikan melalui pemanfaatan fasilitas perpustakaan, yang bertujuan agar masyarakat memiliki minat baca dan perhatian terhadap perpustakaan. Dalam hal ini Perpusnas telah mengembangkan program pocadi melalui perpustakaan daerah, diharapkan dengan adanya pojok baca digital ini bisa meningkatkan minat baca masyarakat dalam memperluas literasi dan tidak menyia-nyiakan fasilitas yang telah tersedia. pocadi menjadi akses penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan yang dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan merupakan sarana yang menyediakan khazanah ilmu pengetahuan dalam proses belajar yang tidak berkesudahan dalam berkehidupan dan perpustakaan menjadi akses penunjang setiap individu untuk menggali pengatahuan. POCADI yang berada di Kelurahan Petisah Tengah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mengisi waktu yang bermanfaat dibulan Ramadhan ini. 

2. Layanan Perpustakaan Keliling
Selama bulan Ramadhan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan memberikan layanan perpustakaan keliling ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita. Tujuan adanya layanan Perpustakaan Keliling, adalah: (1) Memeratakan layanan informasi dan bacaan kepada masyarakat. (2) Membantu perpustakaan umum dalam mengembangkan pendidikan informal kepada masyarakat. (3) Memperkenalkan buku-buku dan bahan pustaka lainnya kepada masyarakat. (4) Memperkenalkan jasa perpustakaan kepada masyarakat, sehingga tumbuh budaya untuk memanfaatkan jasa perpustakaan kepada masyarakat. (5) Meningkatkan minat baca dengan mengembangkan cinta buku pada masyarakat. (6) Mengadakan kerjasama dengan lembaga masyarakat sosial, pendidikan dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan intelektual dan kultural masyarakat. (Panduan Penyelenggaraan Perpustakaan Keliling, 1992: 4).
Layanan perpustakaan keliling pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis, karena perpustakaan keliling melayani semua lapisan masyarakat tanpa membedakaan status sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kepercayaan maupun status-status lainnya. Semua warga masyarakat, tanpa mengenal batas usia, bebas memanfaatkan layanan jasa perpustakaan keliling. Sistem layanan yang digunakan perpustakaan keliling merupakan layanan terbuka, pengunjung dengan bebas mencari dan memilih bahan pustaka yang ada didalam mobil. Adanya layanan perpustakaan keliling diharapkan dapat mengurangi kesenjangan dalam mendapatkan informasi. Kesenjangan ini terjadi disebabkan oleh baik faktor kultural maupun faktor struktural. Yang dimaksud dengan faktor kultural adalah apabila ketertinggalan informasi itu karena kurangnya daya juang seseorang untuk memperolehnya, karena malas, tidak ada dukungan dari tradisi, atau lingkungan. Sedangkan apabila ketertinggalan informasi itu karena tidak tersedianya akses kepada sumber informasi, karena ketidakadilan atau karena ketidakpedulian pemerintah terhadapa kehidupan rakyatnya , ini disebut dengan faktor struktural.
Dari semua itu, menyediakan infrastruktur yang merata di seluruh lapisan masyarakat akan dapat menjadi salah satu solusi dari problematika kesenjangan informasi di masyarakat yang diakibatkan oleh faktor kultural dan struktural seperti di atas. Sebab bagaimana minat baca masyarakat akan tumbuh dan budaya baca akan tercipta apabila masyarakat tidak memiliki akses yang mudah pada sumber informasi (bahan bacaan). Memang, idealnya setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi dengan membeli sumber informasi, akan tetapi mengingat daya beli masyarakat yang sangat kurang membeli buku menjadi bukan prioritas. Harga buku yang masih mahal, merupakan faktor lain yang menyebabkan masyarakat semakin jauh dengan sumber informasi. Apabila kita tambahkan pada daftar ini, kesulitan untuk pergi ke perpustakaan umum karena faktor geografi—sesuatu yang merupakan masalah umum bagi sebagian besar masyarakat—maka kita akan semakin mengerti mengapa minat baca atau penguasaan informasi rakyat Indonesia begitu rendahnya.

Faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas, memberikan pelayanan perpustakaan keliling merupakan keharusan bagi masyarakat Perpustakaan keliling menjadi sebuah solusi dari berbagai problematika baik kultur, budaya dan maupun struktural dengan tujuan untuk mendekatkan sumber informasi bagi masyarakat. Selain itu, perpustakaan keliling mempunyai tujuan-tujuan penting lainnya, yaitu; (1) Pembudayaan masyarakat untuk membaca, terutama lingkungan keluarga sebagai kebutuhan dasar; (2) Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran rakyat serta melatih mereka, terutama kaum muda, baik secara intelektual, spiritual, maupun emosional menurut usia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda; (3) Mengatasi kelemahan-kelemahan spiritual dan intelektual yang diakibatkan oleh tidak adanya kemampuan finansial dalam membeli bahan bacaan terutama buku yang dibutuhkan. Mencegah kemiskinan ekonomi agar tidak mengakibatkan kemiskinan intelektual; (4) mempercepat berkembangnya literasi informasi di masyarakat. Serta mengeliminasi terjadinya kesenjangan intelektual yang diakibatkan oleh kesenjangan informasi.





3. E-Pusda
Layanan perpustakaan digital milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan bisa diakses melalui aplikasi “e-Pusda” yang dapat diunduh di playstore, appstore, maupun melalui komputer. 
Perpustakaan Digital atau digital library adalah perpustakaan yang menyimpan koleksi bukunya dalam format digital dan dapat diakses melalui komputer atau gawai. Perpustakaan digital lebih dari sekedar koleksi buku dalam tempat penyimpanan melainkan sarana berbagi layanan ke berbagai pengguna. layanan informasi dimana seluruh sumber informasi diproses atau tersedia dalam komputer yang dapat diakses secara digital meliputi segi penyimpanan, akses, tampilan, dan pemeliharaan (maintenance) koleksi perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan digital yang ideal adalah perpustakaan yang seluruh koleksi pustakanya berbentuk digital dan tidak melayani secara konvensional. Akan tetapi, ada juga perpustakaan yang tetap melayani sebagian koleksinya secara hibrida, baik secara konvensional maupun digital. Perpustakaan yang semacam ini disebut sebagai perpustakaan hibrida. Karena bagi sebagian orang, mereka lebih nyaman dengan buku fisik (printed) dibandingkan dengan buku elektronik.
Dengan aplikasi e-pusda, aktivitas perpustakaan seperti pinjam meminjam dan lainnya menjadi lebih mudah serta praktis karena tidak lagi dilakukan secara manual. Melalui e-pusda dapat mengakses buku secara daring, dapat diakses dimanapun dan kapanpun sehingga pengguna dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun, sehingga cocok untuk mengisi waktu selama bulan Ramadhan. 
Kelebihan Perpustakaan Digital
1. Kemudahan akses
Proses digitalisasi membuat pengguna lebih mudah mengakses informasi yang tersedia di perpustakaan digital.
2. Lebih hemat biaya
Perpustakaan digital tidak memerlukan perawatan koleksi pustakanya, serta tidak perlu mengeluarkan biaya guna menyimpan buku-buku fisik dalam kabinet atau rak. Karena semua data dan informasi tersebut akan tersimpan dalam database.
3. Penyimpanan koleksi lebih aman
Perpustakaan digital mencegah koleksi perpustakaan dalam bentuk fisik dari kerusakan atau hilang.
4. Efisien waktu
Pengguna dapat mengakses, meminjam, dan mengembalikan koleksi perpustakaan dengan cepat.
5. Membantu Pustakawan dalam memantau dan mengelola pendataan aset pustaka
Karena perpustakaan dilakukan dengan berbasis internet, maka petugas perpustakaan pun dapat selalu memantau ketersediaan atau keberadaan koleksinya serta dengan mudah mengetahui daftar koleksi perpustakaan yang baru. Selain itu, petugas dapat mengetahui rekam jejak aktivitas pengunjung perpustakaan sehingga memudahkan dalam membuat laporan. Proses pelaporan kepada kepala perpus menjadi lebih mudah.
Melalui layanan e-pusda diharapkan Kota Medan akan menjadi Smart city (kota pintar) dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan serta meningkatkan kualitas masyarakat. 








Komentar Anda

Berita Terkini