cari


 

Mungkinkah SDM Unggul Lahir dari Perpustakaan Desa

HARIAN9 author photo


Oleh : Drs. Chandra Silalahi, M.Si -Pustakawan Ahli Madya
(Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara)

PENDAHULUAN :
Pertanyaan yang menantang bagi Pustakawan/Pengelola Perpustakaan/Pegiat Literasi bahkan Pemerintahan Desa menjadi motivasi bagi penulis untuk mengurai berdasarkan pengalaman sejak bekerja di Kanwil Perindag SU (1991-2006); Badan Perpusda SU (2006-2013); Dinas PMD SU (2013-2021); Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2021-2022) dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provins Sumatera Utara (2022 – sekarang).      

Sejarah mencatat, Nasionalisme Indonesia semakin bergetar ketika secara bergotong royong menghadapi penjajah (kolonialisme dan imperialisme kuno/modern) yang lambat laun disadari bahwa sesungguhnya  sasaran utama bangsa Barat itu adalah membatasi kaum pribumi untuk memperoleh Pendidikan, terutama kalangan masyarakat perdesaan yang jumlahnya dominan di Indonesia. Dengan semangat kebersamaan para tokoh Nasional/pendiri bangsa memikirkan jauh ke depan yang akan dihadapi pasca penjajahan berfokus berjuang agar terlepas dari penjajah (merdeka). Tertancaplah tekad bahwa untuk membangun Indonesia seutuhnya hanya dengan cara menciptakan SDM unggul sebagaimana telah disepakati secara nasional dan sampai kini pun tidak terubahkan yakni tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yaitu melindungi segenap bansa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” memiliki makna bahwa bangsa ini menggencarkan pembangunan SDM unggul, yang berarti kalau Indonesia mau maju dan dapat bersaing dengan negara lain maka kunci utamanya adalah membangun SDM unggul sesuai talenta-talenta yang dimiliki orangnya. Pertanyaannya adalah sejauhmana Desa melalui perpustakaannya menciptakan SDM unggul dimaksud.

Sebagai informasi, Indonesia adalah negara luas dengan jumlah penduduknya saat ini  270 juta bermukim di 83.843 desa atau sebesar 43,3 % pada tahun 2020 ((BPS). Memang diakui, persentase penduduk yang tingggal di perkotaan terus meningkat  diprediksi pada tahun 2035 sebesar 66,6% {BPS} bahkan Bank Dunia lebih ekstrim lagi yakni tahun 2045 ada sekitar 70% berada di perkotaan dari populasi penduduk tanah air. Lalu darimana penduduk itu bertambah signifikan? Hasil penelitian mengungkapkan, selain adanya transformasi pembentukan kota-kota baru  ternyata akibat urbanisasi besar-besaran dimana orang desa berlomba-lomba ke kota mendapatkan kebutuhan lebih cepat daripada di Desa. Persoalan ini lah yang harus dicari jalan keluarnya oleh Desa karena perpindahan penduduk ke kota dengan SDM biasa-biasa akan membuat permasalahan social yang lebih rumit tentunya.

Sesungguhnya Pemerintah RI telah membuat kebijakan melalui pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan informasi bagi semua elemen masyarakat dengan meningkatkan literasi menuju kecerdasan agar dapat mengambil peran serta berkemampuan berpartisipasi mengisi kemerdekaan baik secara fisik maupun non fisik. Pemerintah Desa selaku unit terbawah bertanggungjawab atas masyarakatnya  untuk membentuk SDM unggul dan salah satu konsepnya adalah melalui Pemberdayaan Perpustakaan Desa berbasis inklusi social, artinya apabila ada “good will” para pemangku kepentingan tidak sulit menempa orang menjadi unggul.

SDM unggul tentu dapat diukur dari berbagai sudut pandang, namun intinya adalah seseorang itu unggul karena sudah berbuat untuk orang banyak, menjadi motivator, sehat, cerdas, sejahtera dan mau mentransfer ilmunya kepada orang lain.

Kata kunci: Perpustakaan Desa, SDM Unggul, Inklusi Sosial

Challenging questions for Librarians/Library Managers/Literacy Activists and even Village Governments became the motivation for the writer to elaborate based on experience since working at the Regional Office for Industry and Trade, SU (1991-2006); SU's National Library Agency (2006-2013); PMD SU Service (2013-2021); Department of Manpower and Transmigration (2021-2022) and Department of Library and Archives of North Sumatra Province (2022 – present).

History records that Indonesian nationalism vibrated even more when working together to face the colonialists (colonialism and ancient/modern imperialism) which gradually realized that the main target of the Western nation was to limit the indigenous people from obtaining education, especially among the rural communities whose numbers were dominant in Indonesia. With the spirit of togetherness, the national figures/founders of the nation thought about the future that would be faced after the colonial era, focusing on fighting to be free from the invaders (independence). There is a determination that to build Indonesia as a whole only by creating superior human resources as agreed nationally and until now it has not been changed, namely in the fourth paragraph of the Preamble to the 1945 Constitution, namely protecting the entire nation of Indonesia, promoting general welfare, educating the nation's life and participating in carrying out world order. .

"Educating the nation's life" means that this nation is intensifying the development of superior human resources, which means that if Indonesia wants to progress and be able to compete with other countries, the main key is to build superior human resources according to the talents of its people. The question is to what extent the Village through its library creates the said superior human resources.

For information, Indonesia is a large country with a current population of 270 million living in 83,843 villages or by 43.3% in 2020 ((BPS). 6% {BPS} even the World Bank is even more extreme, namely in 2045, around 70% will live in urban areas of the country's population. Then where did this significant increase in population come from? The results of the study reveal that apart from the transformation of the formation of new cities, it is due to large urbanization. the scale where rural people are competing to get to the city to get their needs faster than in the village.This is the problem that must be found by the village because the migration of people to the city with ordinary human resources will create more complicated social problems, of course.

In fact, the Government of the Republic of Indonesia has made a policy through equal distribution of opportunities to obtain education and information for all elements of society by increasing literacy towards intelligence so that they can take part and have the ability to participate in filling independence both physically and non-physically. The Village Government as the lowest unit is responsible for the community to form superior human resources and one of the concepts is through Village Library Empowerment based on social inclusion, meaning that if there is "good will" the stakeholders are not difficult to forge people to be superior.

Superior human resources can certainly be measured from various points of view, but the point is that someone is superior because he has done for many people, is a motivator, is healthy, intelligent, prosperous and willing to transfer his knowledge to others.

Keywords: Village Library, Excellent Human Resources, Social Inclusion

PERPUSTAKAAN DESA, PERPUSTAKAAN RAKYAT
 Inti Pepustakaan Desa adalah perpustakaan yang dimiliki masyarakat desa memiliki  sarana atau media untuk mendukung dan meningkatkan kegiatan Pendidikan yang ada di masyarakat perdesaan artinya,  menjadi bagian integral dari aktifitas pembangunan di pedesaan.

Secara sederhana, Perpustakaan Desa adalah lembaga layanan public yang berada di pedesaan.  Sebagai unit layanan maka pengembangannya dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat sekitar, bertujuan  memberikan pelayananan,  memenuhi kebutuhan, dilakukan oleh warga yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan, informasi, pendidikan serta rekreasi seluruh lapisan masyarakat dan menjadi pusat kegiatan masyarakat meningkatkan kesejahteraannya .

Sedangkan menurut Surat Keputusan (SK) Mendagri dan Otonomi Daerah No. 3 Tahun 2001, Perpustakaan Desa adalah perpustakaan masyarakat sebagai salah satu sarana/ media untuk meningkatkan dan mendukung kegiatan Pendidikan masyarakat pedesaan, merupakan  bagian inetgral  dari pembangunan desa.

Dari definisi di atas secara sederhana terdapat paling tidak 3 (tiga) unsur penting perpustakaan desa yakni :

1) Sebagai sarana, atau media atau pusat belajar;

2) Sebagai institusi layanan public memenuhi kebutuhan informasi;

3) Bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan desa yang diselenggarakan masyarakat desa;

TUJUAN PERPUSTAKAAN DESA
Awalnya, pembentukan Perpustakaan Desa adalah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca, menulis dan menghitung (CALISTUNG) guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa. Namun saat ini Perpustakaan Desa semakin lebih kompleks peranannya dalam upaya menciptakan SDM unggul.

Dari analisis berbagai sumber maka dapat disimpulkan tujuan Perpustakaan Desa antara lain untuk : menunjang kegiatan wajib belajar. Dengan adanya Perpustakaan Desa yang didukung Anggaran Dana Desa atau Dana Desa, maka di setiap Desa tidak akan ditemukan lagi masyarakat yang buta huruf (sesuai umur belajar).

       1) Menunjang kegiatan wajib belajar. Dengan adanya Perpustakaan Desa yang didukung Anggaran Dana Desa atau Dana Desa, maka di setiap Desa tidak akan ditemukan lagi masyarakat yang buta huruf (sesuai umur belajar).

      2) Menunjang kegiatan Pendidikan sepanjang hayat dan literasi untuk kesejahteraan. Artinya, dengan adanya Perpustakaan Desa maka adanya jaminan seluruh masyarakatnya menjadi literatur untuk  meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. Seseorang yang belajar sepanjang hayat melalui membaca dan memaknai buku yang dibaca menjadikannya mampu berproduksi barang atau jasa yang memiliki nilai tambah tentunya. 

       3) Menyediakan bahan perpustakaan (buku dan non buku) terkait kegiatan masyarakat sesuai potensi desa masing-masing (misalnya : pertanian, perikanan, perkebunan, pariwisata, dan lain-lain).

      4) Menggerakkan minat dan budaya baca. Srtiap waktu luang dimanfaatkan untuk menciptakan masyarakat yabf kreatif, produkstif, dinamis, berdaya saing, mandiri dan terukur (SDM unggul)

       5) Menyimpan, menyelematkan dan mendayagunakan dokumen budaya (hasil cipta, karya) sebagai sumber informasi/penerangan, pembangunan dan penambah wawasan pengetahuan 

        6) Memberikan semanangat dan hiburan yang sehat sekaligus sarana rekreasi masyarakat desa

        7) Mendidik masyarakat untuk dapat memproduksi barang dan jasa menjadi bernilai tambah melalui literasi informasi

MANFAAT PERPUSTAKAAN DESA
Siapa bilang, “kegiatan membaca buku hanya milik orang-orang terpelajar (kota)? Membaca adalah aktifitas seumur hidup yang dapat dilakukan semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, antar golongan. Artinya orang di Desa pun bisa membaca buku. Oleh sebab itu akses ke Perpustakaan Desa yang perlu dibangun dan bahan bacaannya perlu diperbanyak. Perpustakaan Desa merupakan sumber segala informasi untuk warga desa, karena harkat dan martabat seseorang bisa lebih meningkat berkat adanya pengetahuan yang dimilikinya yang didapatkannya melalui membaca buku

Hasil identifikasi terkait manfaat dan pentingnya Perpustakaan Desa bagi masyarakat desa antara lain : 

1) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat desa 

Contoh : Potensi desa cocok dengan peternakan, maka dengan membaca berbagai buku peternakan ditambah adanya pendampingan dari Pemerintah atau NGO maka produktifitas bisa ditingkatkan, nilai ekonomi bertambah.

2)  Sarana rekreasi yang murah
Contoh : Rekreasi itu sangat penting, menghilangkan penat/rutinitas, maka perlu pengisian energi kembali dengan membaca berbagai buku hiburan seperti cerpen, cerita rakyat, dan lain-lain

3)  Pusat Informasi murah
Contoh : Adanya buku-buku baru yang lagi populer (“best seller”) bisa menambah pengetahuan dan bisa bersaing dengan masyarakat di perkotaan

4)  Membangun budaya baca / gemar membaca sejak kecil
Contoh : Menumbuhkan minat/gemar membaca harus dimulai sejak usia dini, bahkan lebih ekstrim, ibu hamil pun harus rajin membaca agar anaknya kelak terbiasa membaca (terdapat hubungan emosional)

ORGANISASI PERPUSTAKAAN DESA
Struktur minimal Organisasi Perpustakaan Desa dapat digambarkan sebagai berikut:

Dari struktur di atas maka peranan Kepala Desa sangat penting untuk kemajuan Perpustakaan Desa menciptakan SDM unggul. Dengan adanya kemauan bersama disamping adanya ketersediaan anggaran dari Dana Desa maka tidak terlalu surat sesungguhnya mengembangkannya. Adanya elemen masyarakat lain seperti pendamping desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lainnya secara bersinergi mau bekerja untuk kesejahteraan masyarakat desa.  

 PERPUSTAKAAN DESA MELAHIRKAN SDM UNGGUL
Sejak tahun 1947, UNESCO telah mengeluarkan Manifesto Perpustakaan Umum yang telah direvisi pada tahun 1972 dan 1994, menegaskan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai pintu gerbang menuju pengetahuan, menyediakan kondisi awal bagi perorangan maupun kelompok social untuk melakukan kegiatan belajar seumur hidup (“life long learning”’), pengambilan keputusan mandiri dan pembangunan. Oleh karena itu, perpustakaan desa diharapkan mampu menyediakan pengetahuan dan informasi dan juga masyarakat tanpa memandang perbedaan SARA (tidak diskriminatif) untuk melahirkan SDM Unggul.

SDM Unggul dapat dilahirkan Perpustakaan Desa apabila diselenggarakan sesuai tugas dan tanggung jawab pengelola perpustakaan tersebut yakni :

a.    Menghimpun, mendayagunakan, membina dan memelihara secara permanen bahan-bahan yang terkumpul dalam perpustakaan berupa buku-buku, majalah-majalah, brosur-brosur, manual-manual untuk kepentingan masyarakat

b.    Mengolah, mengelola bahan-bahan dimaksud dengan suatu system, prosedur dan mekanisme meliputi kegiatan-kegiatan katalogisasi, klasifikasi, pencatatan, pengkodean dan berbagai jenis kegiatan perpustakaan lain sampai kepada melayani pemustaka

c.    Menyebarluaskan kembali dalam arti melayani masyarakat sesuai dengan keperluannya terhadap perpustakaan, membantu para masyarakat dalam mencari penemuan-penemuan baru, serta membantu para pelajar, siswa/mahasiswa yang berkepentingan terhadap perpustakaan desa.

d.     Secara sistematik dapat dideskripsikan sbb.

Strategi Perpustakaan Desa yang diterapkan adalah harus adil bagi setiap pemustaka, karena biasanya masyarakat desa memiliki satu ikatan yang erat (hubungan emosional yang tinggi). Peran itu ditujukan dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat desa untuk meningkatkan kualitas masyarakat desa, seperti menggelorakan Gerakan Literasi Desa, Wajib Baca Buku, Meng-óff”-kan media social dan TV pada malam hari saat jam belajar anak-anak, menghargai kreatifitas masyarakat/anak-anak serta menyebarkannya kepada orang lain untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Perpustakaan merupakan agen perubahan menjadikan  masyarakat desa literasi atas informasi, menjadi cerdas dan ilmiah (learning society) sekaligus pembentuk kepribadian masyarakat mandiri dan kreatif yang akhirnya unggul dalam segala aspek kehidupan (sebaiknya tidak langsung percaya atas informasi yang bersiliweran/hoaks).

UNSUR PERPUSTAKAAN DESA UNTUK MELAHIRKAN SDM UNGGUL
Sebagai institusi, maka Perpustakaan Desa dalam melaksanakan aktifitas kegiatan masyarakat memperhatikan unsur-unsur berikut
-          Sumber Daya Manusia
-          Anggaran
-          Gedung/Ruangan/Perabot
-          Koleksi
-          Layanan

·           Aspek SDM
SDM handal pengelola perpustakaan desa harus dengan hati yang  meliputi : mental, pengetahuan dan teknik penyelenggaraan serta menguasai jenis pekerjaan baiki teknis maupun non-teknis.

·           Aspek Anggaran
Anggaran salah satu aspek penting, agar operasional layanan perpustakaan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Penetapan anggaran dapat diketahui berdasarkan pertimbangan berbagai factor seperti :

-  Besar perpustakaan dalam arti luas, jumlah koleksi, pengguna, staf skala layan perpustakaan
-       Jenis jasa perpustakaan
-       Kelompok dan jumlah pemakai yang dilayani
-       Jangkauan waktu (biasanya 1 tahun).
-     Mencari sponsor dalam penyelenggaraan perpustakaan atau dalam pelaksanaan event-event yang diselenggarakan perpustakaan  (sponsor dari mana saja)
- Memberdayakann perpustakaan berbasis ekonomi bersifat semi profit, dengan    mengajak masyarakat memproduksi barang/jasa berbasis inklusi social/potensi daerah.
-   Aktif menjalin komunikasi dan mencari informasi terkait pendanaan perpustakaan dan pemerintah
-    Mencari donasi dan tokoh masyarakat yang sukses

·           Aspek Gedung/Ruangan/Perabot
Ruangan perpustakaan dibangun terpisah dari kantor namun berada di sekitar kantor.Dibangun dengan karakteristik Desa, sehingga semua merasa memiliki dan dipergunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, misalnya tempat berdiskusi, tempat bereksperimen dan terbuka untuk umum. Adanya TIK saat ini maka Perpustakaan Desa dibenahi dengan penggunaan Internet memadai.

·           Aspek Koleksi
Koleksi perpustakaan menarik bila beraneka ragam dan sesuai potensi wilayah serta dapat diaplikasikan serta hiburan bagi masyarakat desa. Setelah membaca buku, masyarakat menjadi paham dan mampu berbuat bahkan melebihi dari yang ada dalam buku.

·           Aspek Layanan
 Penyelenggara perpustakaan adalah kunci layanan. Layanan menjadi menarik bila menjaga kebersihan, memfasilitasi masyarakat bahkan mencari solusi yang tepat bagi pengguna perpustakaan. Senyummu sejuta dollar, istilah yang memotivasi penyelengara bekerja maksimal.

PENUTUP
SDM unggul adalah cita-cita kita bersama, tanpa ada keunggulan maka tidak dapat bersaing dan tetap tertinggal, bahkan mengikuti pun tidak bisa. Kehadiran perpustakaan desa yang benar-benar sebagai penyedia kebutuhan informasi bagi masyarakat desa menjadi “obat mujarab” yang tidak diragukan lagi. Dengan demikian, Perpustakaan Desa bisa menghasilkan SDM unggul.                                    
Daftar Pustaka :
1.    UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan
2.    UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa
3.    Pemberdayaan Desa dalan Sistem Pemerintahah  Daerah,  Utang Rosidin.
4.    Membangun Indonesia dari Desa, Gunawan Sumodiningrat
5.    Regulasi Baru, Desa Baru, Kemendes RI

 ***

Komentar Anda

Berita Terkini