cari


 

PUSTAKAWAN IDOLAKU

HARIAN9 author photo

OLEH : Drs. CHANDRA SILALAHI, M.Si
(Pustakawan Ahli Madya)
DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP
PROVINSI SUMATERA UTARA

Pendahuluan:

Kala itu, saya mengamati seorang Ibu yang bertugas di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara (baca: sebelum jadi Pustakawan) sedang duduk di Ruang Layanan sambil membaca buku. Tiba-tiba ada seorang pemustaka (mahasiswa Universitas Negeri di Medan) memasuki ruangan layanan. Seketika, Ibu tadi menyapa dengan senyum semangat, menanyakan si mahasiswa, “Mau cari buku apa dek?” Pertanyaan yang sangat bersahabat (bestie) dan penuh perhatian akan kebutuhan si Mahasiswa. Dengan “gaya pustakawan” yang telah memahami bahan perpustakaan yang tersedia lalu membimbing si mahasiswa, untuk mencari secara Teknolgi Informaasi Komunikasi. Seketika itu juga buku dimaksud ditemukan dan si mahasiswa juga sangat bahagia.

Dari pengamatan itu, penulis mencoba mengurai peran dan tugas Pustakawan dalam era Teknologi Informasi Komunikasi. Sesungguhnya, Layanan perpustakaan sebagai ujung tombak dari eksistensi perpustakaan yang harus mampu mencari solusi dalam kondisi apapun sehingga perpustakaan itu menjadi tetap dicari oleh para pemustaka. Perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) membuat perpustakaan harus beradaptasi dengan berkembangnya digitalisasi seperti saat ini. Kita mengetahui, bahwa era disrupsi yang dikenal dengan era 4.0 ditandai dengan lahirnya berbagai inovasi menggantikan sistem lama dengan teknologi digital untuk memudahkan setiap orang guna mencari informasi yang dibutuhkannya.

Perpustakaan sebagai penyedia jasa layanan telah berkembang ke arah digitalisasi misalnya : katalog, jurnal, sampai buku sudah dalam bentuk digital, artinya Perpustakaan Digital merupakan perpustakaan yang mengelola semua atau sebahagian substansi dari koleksi dalam bentuk komputerisasi sebagai bentuk alternative, suplemen ataupun pelengkap terhadap cetakan konvensional dalam bentuk mikro material pada saat ini.

Lebih lanjut, yang dimaksud pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui Pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawawab untuk melaksankan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan, sebagaimana dicantumkan dalam UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. 

Definisi tersebut menekankan bahwa para pustakawan dan tenaga perpustakaan khususnya yang bertugas dalam layanan harus mampu mengikuti perkembangan era ini, dengan mengadaptasikan diri terhadap kemajuan teknologi informasi, serta mampu berperan dalam era kemajuan teknologi itu sendiri. Dengan demikian, pustakawan dan tenaga perpustakaan menjadi mampu menjembatani sumber daya perpustakaan yang dimiliki dengan metode dan cara baru agar berdaya guna dan berhasil guna.

Peranan pustakawan dan atau tenaga pendukung semakin penting. Alasannya bahwa perpustakaan yang ada tidak akan tercapai secara maksimal apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten pada bidangnya masing-masing. Semakin berkembangnya TIK, pustakawan yang bertugas membantu para pemustaka dalam menelusuri informasi harus beradaptasi karena perpustakaan digital akan lebih memudahkan  pengguna mengakses bahan perpustakaan, disebabkan berbagai koleksi sudah tersedia dalam bentuk digital.

Jadi dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa adaptasi layanan perpustakaan pada era digital saat ini wajib dilakukan melalui peningkatan sumber daya manusia perpustakaan (pustakawan dan tenaga perpustakaan), penyediaan sarana dan prasarana (infrastruktur), dan dukungan para pengambil keputusan/pemangku kepentingan. Untuk mengatasi tuntutan dan kendala biaya tinggi, dapat menjalin jaringan dengan perpustakaan lain, melalui “resource sharing”, sehingga kualitas jasa perpustakaan semakin baik dan dapat memenuhi kebutuhan pemustaka pada era digitalisasi saat ini. 

SOSOK PUSTAKAWAN ERA TIK

Tidak dapat dipungkiri saat ini, walaupun perubahan Tehnologi Informasi Komunikasi (TIK) secara cepat namun masih ada para pustakawan yang menyelenggarakan dan menyediakan layanan informasi secara tradisional, baik di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota bahkan di Desa/Kelurahan disamping Perpustakaan Sekolah, Perguruan Tinggi dan Khusus. Kondisi ini tidak harus dipertahankan karena kemajuan teknologi informasi tidak terbendung.

Teknologi Informasi Komunikasi akan terus berkembang maka Pustakawan/pengelola perpustakaan mau tidak mau, suka tidak suka  harus mengembangkan keahliannya dalam bidang teknologi informasi bila tidak mau ditinggal pemustaka. Kerjasama para pustakawan mulai dari tingkat trampil sampai dengan utama secara bersama-sama  mendukung layanan informasi yang berbasis teknologi.  Diingatkan bahwa Jabatan fungsional pustakawan adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Dengan demikian kegiatan kepustakawanan itu sangat kompleks. Artinya,  disamping melayani pemustaka,  pustakawan juga bertugas menyeleksi bahan pustaka yang berkaitan secara digital. Pustakawan  di bagian pemrosesan juga memproses bahan pustaka yang  akan diakses melalui internet/komputer oleh pemustaka. Selanjutnya petugas referensi sekalipun masih melayani pengguna seperti biasa, mereka juga mempunyai tugas tambahan yaitu melayani pengguna perpustakaan secara online.

Ada memang permasalahan yang dihadapi saat ini sekaligus mungkin sebagai alasan konvensional yakni rendahnya anggaran, perpustakaan kurang diperhatikan bahkan lebih ekstrim,”tempat buangan”, tidak perlu ada perpustakaan lagi karena di Internet dan google sudah ada semua yang akan dicari. Ini merupakan persepsi salah, dan seorang Pustakawan harus mampu menciptakan persepsi positif bagi masyarakat.

Bertitik tolak dari fakta tersebut, maka Pustakawan harus menjadi “teman” baik para pemustaka dan masyarakat lainnya. Pustakawan seharusnya bekerja berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi yang ada, sekaligus ter literasi terhadap semua informasi.  

Sampai dengan saat ini diyakini bahwa  perpustakaan masih tetap diperlukan sebagai penyedia informasi yang terbaik bagi penggunanya, walaupun teknologi berkembang, hal tersebu hanya untuk memudahkan tugas perpustakaan dan pustakawan melayani pemustaka. Memang diakui secara kuantitatif dominan perpustakaan belum siap menghadapi perubahan akibat permasalahan yang dihadapi seperti anggaran dan SDM rendah, jaringan internet, akses susah,  bahkan keberlanjutan yang sulit diwujudkan, terutama yang ada di perdesaan.

Untuk itulah  para pimpinan perpustakaan mampu mengatasi persoalan itu, melalui kreatifitas dan inovatif seperti meningkatkan layanan perpustakaan, meningkatkan advokasi sekaligus membangun komitmen dengan  stakeholder, melakukan promosi melalui TIK, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PUSTAKAWAN MENJADI IDOLA

Perubahan SOSOK PUSTAKAWAN itu sedang berlangsung, Bila mau mejadi “Idaman Orang Lain” (IDOLA) maka para pustakawan harus meningkatkan kemampuannya dalam bidang teknologi agar dapat memenuhi tuntutan pengguna. Contohnya, untuk  jaminan kompetensi pustakawan maka dilakukanlah ujian sertifikasi oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) seperti kompeten dalam seleksi, pengadaan bahan perpustakaan baik buku, jurnal dan non buku dengan menyeleksi koleksi digital yang tersedia atau sumber – sumber yang tersedia secara elektronik baik yang gratis maupun yang harus berlanganan. Apabila kita mengadakan koleksi secara elektronik, misalnya jurnal elektronik, maka para pustakawan bagian seleksi harus memilih jurnal mana yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Sebagi contoh, Pustakawan bagian pemrosesan bahan pustaka juga harus mampu merubah peran mereka dari yang semula hanya memproses buku, sekarang mereka harus belajar tentang bagaimana cara memproses koleksi CD-ROM, koleksi Audivisual dan sebagainya. Pengguna tidak cukup lagi hanya disediakan melalui OPAC , tetapi berharap lebih dari apa yang biasanya dikerjakan oleh pustakawan. Pustakawan berharap tidak hanya melihat bibliografi data saja, mereka ingin dapat melihat sebuah informasi berupa abtrak bahkan sampai ke “full-text” nya.

Contoh lain, pustakawan yang bekerja di bagian pelayanan seperti pelayanan referensi, internet Juga menghadapi tuntutan dari pengguna untuk menyesuaikannya. Walaupun  masih tetap harus melakukan pekerjaan rutin seperti biasa, tetapi juga harus mampu memenuhi permintaan pengguna melalui internet. Para pengguna sering memerlukan pelayanan khusus, permintaan informasi melalui e-mail, telepon, WA, atau media lainnya, semua ini memerlukan  penguasaan Teknologi Informasi Komunikasi untuk memenuhinya.

Untuk menjadi IDOLA maka Pustakawan minimal melakukan hal berikut :

1.    Pustakawan harus memanfaatkan dan mengembangkan diri secara optimal untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi;

2.    Para pengambil keputusan dalam penambahan SDM dengan cara seleksi yang ketat dan berlatar belakang  perpustakaan dan juga mempunyai pengetahuan teknologi informasi;

3.    Para pimpinan perpustakaan juga  “melek”  teknologi informasi dan menerapkannya di perpustakaan serta perlu adanya perubahan mindset.

PERAN PUSTAKAWAN SENIOR

Tidak dapat dipungkiri , “pengalaman adalah guru yang baik”,  yang banyak pengalaman dengan perpustakaan ini adalah Pustakawan Senior. Disamping mereka berpengalaman maka mereka juga sebagai modal utama perpustakaan dalam mengawal perubahan. Pustakawan Senior menyadari juga bahwa perpustakaan mempunyai kesulitan dalam merekrut tenaga baru, oleh karena itu adalah suatu hal yang mendasar apabila pimpinan perpustakaan melibatkan para pustakawan senior dalam merencanakan kegiatan yang akan diselenggarakan perpustakaan termasuk kegiatan yang menyangkut pemanfaatan teknologi informasi. Semuan dilibatkan  agar mau mengikuti perkembangan tehnologi informasi, bahkan bila  pustakawan senior masih tidak melek akan teknologi informasi, mereka harus tetap dilibatkan agar mereka dapat memberi contoh kepada pustakawan yunior. Pelibatan yang Senior untuk mau belajar, menjadi pendorong bagi yang lebih muda akan lebih giat.

PENUTUP

Untuk dapat menjadi “IDOLA” maka Pustakawan haruslah mengikuti kemajuan teknologi informasi karena akan  mempengaruhi peran pustakawan dalam menjalankan tugasnya. Memang faktanya  ada pustakawan yang senang dengan adanya perubahan tersebut akan tetapi  ada juga pustakawan yang enggan memasuki perubahan tersebut. Namun yang jelas, kalau menjadi IDOLA dan tugas pustakawan terlaksana dengan baik, suka atau tidak suka harus mau berubah dengan kemajuan teknologi informasi  komunikasi. artinya pustakawan yang enggan berubah maka bersiaplah  juga akan ketinggalan zaman dan mereka secara otomatis akan tersingkir.

Oleh sebab itu, Pustakawan menjadi IDOLA bagi para pengguna/pemustaka akan menjadi harapan dan masa depan perpustakaan. Pemilik perpustakaan itu adalah Pustakawan, sehinga para pimpinan perpustakaan harus tetap memberi dukungan,  motivasi kepada seluruh Pustakawan tanpa memandang Senior atay Junior. Ayo para pustakawan jadikan diri anda menjadi IDOLA para pemustaka dalam menghadapi era digitalisasi informasi. (cda)..

Komentar Anda

Berita Terkini